Notulensi Kulwap Pojok Ilmu Ceria tentang Manajemen Keuangan

πŸ“œ Notulensi KulWap PIC #3

πŸ’Ž Tema : Manajemen Keuangan
πŸ“† Waktu : Selasa, 21 Februari 2017
πŸ•° Pukul : 09.00-11.00 WIB
πŸŽ™ Moderator : Teh Erie
πŸ“ Notulen : Nida

πŸ’• Narasumber : Rian Kuswardani
πŸ“² HP : 08562184006
πŸ“© rkuswardani@gmail.com

πŸ’• Prolog :

Mengapa merencanakan keuangan ini sangat penting? Karena seiring dengan keadaan yg semakin hari semakin berkembang, dmn gaya hidup juga semakin berkembang, biaya hidup jg semakin bervariasi (selalu meningkat signifikan).. Tapi tentunya kita pun harus mengelola semua itu secara cermat dan bijak yaitu pengeluaran (outcome) tidak lebih besar dari pendapatan (income)

Waktu itu saya mendatangi seminar ttg REKENING SIP yg disampailan oleh salah satu financial planner. Apa itu SIP?

Kita semua pasti mempunyai sejumlaha DANA hasil dari bekerja/bisnis/dll… Nah, idealnya dana tersebut jangan kita simpan hanya dalam satu keranjang, lalu bagaimana? Alokasikanlah dana yg kita punya ke Rekening SIP yaitu :
1. Saving
2. Investment
3. Protection

Hal ini saya yakin, di grup ini sudah melakukannya. 😊
Namun secara ideal urutan rekening diatas adalah SAVING, PROTECTION, INVESTMENT sedangkan SIP ini hanya agar kita mudah mengingatnya saja.

Kita kupas sekilas tentang :
1. SAVING
Kita bisa mencari/menempatkan instrument saving pada Tabungan, Deposito, Tabungan Berjangka/Tabungan Pendidikan, dll. Semua hal ini untuk tujuan Jangka Pendek. Makanya jika merencanakan biaya pendidikan anak msk TK/SD/SMP, liburan, dll sebaiknya kita simpan di REKENING SAVING karena sifatnya pasti dan liquid

2. INVESTMENT
Kita bisa mencari/menempatkan instrument investment pada Logam Mulia (LM), Reksa Dana/Saham/Obligasi, Property, dll. Semua hal ini untuk tujuan Jangka Panjang.

3. PROTECTION
Kita bisa menempatkan instrument protection ini pada Insurance/Asuransi. Rekening inilah yg masih banyak orang beranggapan kurang penting. Padahal jika kita lihat prioritas dalam penempatan dana Rekening Protection ini ada di urutan 2 setelah Saving. Kecenderungan orang indonesia itu kesukaanya setelah memiliki Saving langsung berInvestasi. Padahal banyak orang kehilangan tabungan hingga assetnya ketika ada resiko terjadi.

Berdasarkan rekening2 itulah sebaiknya kita tempatkan dana yg kita miliki sesuai dengan tujuan apa yang kita maksud atau tuju.
Satu hal yang perlu diperhatikan, apabila kita memiliki atau membeli asuransi, tujuannya adalah untuk Proteksi jangan kita membeli asuransi tapi tujuannya berinvestasi karena sudah jelas bahwa produk asuransi itu ada pada Rekening Protection bukan Rekening Investasi.

Apabila kita sudah melakukan 3 hal diatas, berarti kita sudah melakukan Perencanaan Keuangan untuk Keluarga atau Diri kita.

Selamat Membuat Perencanaan Keuangan untuk Masa Depan Kita Semua πŸ€—

🌟 Sesi Tanya Jawab 🌟

☘ Pertanyaan : (Anonym)
Mengapa saat menikah sy malah tdk bs/ tdk ada power untuk mengatur keuangan dgn bijak
Sy pernh komunikasikan untuk dpt uang bulanan/ harian agar sy bs atur lbh cermat hemat bijak. Uang kluar masuk dr satu pintu saja sblm sy kerja.
Saat sy krja sy lebih bs mngatur krna sy bnr pegang uang/ ada di atm. Dan bs sy alokasikan sesuai sharingan td.Bgmn solusinya ya?

Trus yg di share Itu kan kondisinya tdk ada minus ya dan itu jg yg sy terapkan slagi single. Tp kalo ada hutang (bkn hutang pribadi tp hutang kluarga suami ) itu gmana ya ? Iya sh bkn tanggung jawab sy tp ditagihnya ke saya jd ikut kepikiran wlpn rezeki dr Allah. Outcome perbulan jd besar sdgkn income tdk jelas. Butuh pencerahan banget

🌻 Jawaban :
Sebelumnya sudah brp lama menikah mba? Dan mksdnya skr tidak bekerja, alias suami hanya jd sumber utama pendapatan ya?
Memang mba begitu menikah akan byk hal yg hrs kita adaptasi trmsk masalah keuangan dan tentunya hal ini hrs terus dikomunikasikan dgn pasangan kita. Masalah kebiasaan memegang uang pada saat single ini mgkin yg sedikit menambah pikiran kita. Yg biasa pegang uang, skr tidak.. Hal ini sangat wajar krn sebagai sifat umum manusia adalah tidak mau mengurangi/dikurangi kenikmatan yg biasa terjadi.

Betul mba, kondisi yg saya share adalah kondisi idealnya. Tp jika prakteknya adalah terjadi minus yg misalnya datang dari hutang keluarga, ini yg hrs dikomunikasikan apakan ini menjadi beban sendiri ke mba dan pasangan apa termasuk beban keluarga besar dari suami? Krn apabila hanya menjadi beban untuk mba n suami, mau tidak mau kita yg harus berkorban dengan memangkas byk pengeluaran yg biasa terjadi. Tentunya pengurangan biaya disini hrs seimbang jg dengan tidak mengorbankan kepentingan keluarga sendiri yg penting.

☘ Pertanyaan : (Rani)
mau tanya soal asuransi, ada yg bilang itu haram gmn tanggapannya?

🌻 Jawaban :
Iya betul mba, ada yg beranggapan bahwa asuransi itu haram. Disini sih tergantung keyakinan diri kitanya saja. Tetapi klo menurut saya pribadi, mgkin yg dimaksud haram disini adalah asuransi yg konvensional bukan yg syariah, mengapa? Karena sepengetahuan saya yg dipermasalahkan adalah :
1. Ada pihak yg diuntungkan/dirugikan (Maysir)
2. Sumber dana untuk claim (Gharar)
3. Pengelolaan dananya (Riba)

Secara konsep Asuransi Syariah, untuk hal diatas dpt dijelaskan bahwa :
1. Resiko yg nasabah punya itu sifatnya DIBAGI (Risk Sharing) kepada sesama anggota asuransi syariah, maka dgn begitu tidak ada pihak yg diuntungkan/dirugikan (Maysir)

2. Sumber dana claim berasal dari anggota asuransi syariah itu sendiri, krn dlm konsep syariah adalah TOLONG MENOLONG atau TABARRU. Jadi setiap nasabah asuransi syariah itu menghibahkan sejumlah biaya asuransi (biaya tabarru) untuk digunakan anggota lainnya apabila ada resiko lebih dulu.

3. Pengelolaannya sendiri, untuk syariah dilakukan oleh Jakarta Islamic Index (JII) dmn ddlmnya tidak terdapat perusahaan minuman, rokok, perbankan, dll

Selain itu juga, sy jg pernah mendengar dari Ust Aam Amirudin, Ust Teuku Maulana, Ust Aa Gym bahwa asuransi ini hanya proses penyempurnaan ikhtiar kita saja krn hakikatnya segala sesuatu kita serahkan pada Allah Swt.

☘ Pertanyaan : (Inez)
Bagaimana mengatur penghasilan dan pengeluaran yg ideal?
Berapa persentase yg harus di simpan, digunakan, investasi dsb?
Bagaimana mengatur prioritasnya? Mhn pencerahannya..

🌻 Jawaban :
Menurut konsep manajemen keuangan sendiri cara mengaturnya adalah :
1. Saving
10% hrs lgs kita sisihkan ke dlm tabungan untuk emergency fund. Targetnya adalah 3 s.d 6 kali dari pengeluaran/pendapatan kita setiap bulannya. Tempatkan dana ini di rekening tabungan krn sifatnya rekening tabungan ini liquid yg artinya mudah dicairkan kpn saja dan secara nilai tetap. Apabila dana tsb telah tercapai maka alihkan penempatannya pada instrumen yg agak sedikit sulit untuk dicairkan.

2. Proteksi/Investasi
10% kedua lgs kita sisihkan untuk asuransi, investasi (LM, Obligasi, Reksa Dana atau Property sekalian jika dana mencukupi)

3. Loan (Pinjaman Bank)
Maks 30% untuk porsi ini, jika berlebih maka akan krg baik untuk keuangan kita kedepannya. Loan disini mksdnya seperti KPR, KPM, dll. Saran jg, jika kita ambil KPR, carilah bunga fix yg paling lama yg dtawarkan bank.

4. Lifestyle/Pengeluaran Bulanan
Nah biaya bulanan ini yg sebisa mgkin kt tekan agar tidak melebihi 50% dimana persentase ini adalah sisa dari alokasi sebelumnya.
Jadi untuk prioritasnya sendiri seperti urutan diatas dmn Saving, Proteksi kemudian jika masih ada sisa barulah berinvestasi

☘ Pertanyaan : (Alifah)
Jika melihat pengantar dr kakak,, ada saving-investastment-protection,, lalu dimana dana utk kebutuhan sehari2.??
Teknisnya,, bagaimana mengelola keuangan dengan dana yg terbatas..bagaimana caranya?

🌻 Jawaban :
Untuk jawabannya krg lebih sama dgn jawaban pada pertanyaan mba Inez tadi.
Kebutuhan sehari2 ada di porsi yg 50% tadi, dmn sebisa mungkin bahwa kebutuhan sehari2 itu kita sesuaikan dari porsi sisa yg sebelumnya saya share.
Untuk teknis mengelola dana yg terbatas, sebaiknya yg utama untuk porsi saving hrs ttp kita anggarkan meskipun secara presentase tdk sesuai dgn ideal (10%). Karena jika melihat umumnya, apabila kita akan menyisihkan dari sisa uang bulanan kita, kemungkinan besar tidak akan ada sisa… Jd uang bulanan selalu habis tidak bersisa. Hal ini jg seperti yg biasa kita terapkan ths zakat, lgs sisihkan dari pendapatan yg kita terima meskipun secara aturan dari sisa atau dana lebih setiap bulannya.

☘ Pertanyaan : (Nadia)
kalo misal mau nyoba bisnis gt usaha kecil2an, ngalokasiin utk modalnya gmn ya baiknya dari proporsi td?apa termasuk ke yg investment? trs bisnis itu ada ukurannya/jangka waktu yg bisa kita pake ga buat memutuskan bisnisnya bsa dlanjutkan ato shut down aja. krna kadang saat mulai usaha itu ga selalu lgsg bagus penjualannya. mohon masukannya 😁

🌻 Jawaban :
Untuk mencoba bisnis kecil2an dgn artian bukan sumber utama… Bisa kita alokasikan dari porsi investasi kita..
Nah untuk jangka waktu sebetulnya tergantung bisnisnya, bervariasi jg… Tp idealnya kt review berkala (misal 6 blnan), apabila penjualan krg rame atau tdk berkembang maka kt harus lihat apakah lokasi yg tidak pas, pasar yg tidak tepat atau apa. Hal inilah yg bs kita gunakan acuan untuk kelanjutan usaha kita..

☘ Pertanyaan : (Dwi)
Berapa persen alokasi2 di tiap keranjang SIP?

🌻 Jawaban :
Kurang lebih jawabannya hampir sama dengan jawaban pada pertanyaan mba inez..
Idealnya di angka 10% di setiap rekening tersebut.. Dgn asumsi ada 30% untuk alokasi loan (cicilan rumah atau mobil) dan kebutuhan bulanan 50%

☘ Pertanyaan : (Dian)
Terkait dana proteksi, adakah rekomendasi tmpt yg tdk mengandung riba?

Jawaban :
Bersedekah yg banyak mba, insya allah hal ini akan mendapatkan jaminan dari Allah.. 😊

Tp jika melihat dari produk atau instrumen yg ada, pilihlah asuransi yg berbasis syariah (maaf, bukan krn saya ada di asuransi syariah).. Tp berdasarkan konsep yg saya share di pertanyaan mengenai asuransi haram tadi ya mba. Karena jika kita berbicara riba, luas cakupannya termasuk juga sistem ekonomi di negara kita. Jd setidaknya apabila ada sesuatu yg berbasis syariah, mgkin ada usaha lebih ke arah yg lbh baik.

☘ Pertanyaan : Restu
Bagaimana menempatkan instrumen proteksi selain dengan asuransi? aset apa saja kah yang perlu dimasukkan dalam proteksi?

🌻 Jawaban :
Jika dilihat dari konsep perencanaan keuangan, Instrumen Proteksi ini hanya melalui Asuransi, baik itu asuransi umum atau asuransi jiwa. Selain tentunya yg paling utama adalah melalui Allah ya mba… 😊
Asset apa saja yg perlu dilindungi? Tentunya asset yg plg berharga itu adalah diri kita sendiri, krn jika diri kita terjadi sesuatu (musibah) maka otomatis tdk akan muncul asset2 lainnya. Tetapi secara umum asset spt rumah, kendaraan, dll perlu dilakukan proteksi.

☘ Pertanyaan : (Nadia)
selain asuransi, adakah bentuk proteksi lainnya?bagaimana proporsi SIP dgn kebutuhan konsumsi?saya masih sering “kecolongan” dgn pengeluaran2 yg ga terduga nih.

🌻 Jawaban :
Untuk ‘biaya tak terduga’ ini saya aga curiga yaa… Hehe… Mksdnya mgkin ada keinginan ya bukan krn kebutuhan?memang godaan yg berat itu mba… 😬… Oleh krn itu mba, begitu di awal dpt income, maka hal pertama lgs transfer untuk zakat, tabungan, proteksi/investasi.. Sehingga dana tersisa adalah untuk kebutuhan bulanan dan lifestyle (ngafe, shopping, dll)

☘ Pertanyaan : (Nurul)
1.untuk hal asuransi, jenis asuransi apa yang wajib kita miliki karena sekarang banyak jenis asuransi yang ada?
2.untuk pendidikan anak baiknya kita masuk dalam asuransi atau hanya sekedar tabungan berjangka?
3.sejak kapan kita sebaiknya berinvestasi?

🌻 Jawaban :
Betul mba nurul.. Kita harus bijak n cermat jg dalam pemilihan asuransi, krn hampir 90% dari nasabah pemilik polis, mereka tidak paham isi polis yg mrk ambil.. Yg diingat hanya premi yg dikeluarkan tiap bulannya.

1. Jenis asuransi yg sebaiknya dimililiki adalah custom dgn artian semua tergantung kebutuhan dari setiap calon nasabah dilihat dari profesi,jenis pekerjaan,dll. Misal : Jika kita sbg karyawan yg sudah dpt coveran kesehatan rumah sakit, dll maka pilihan hanya mengambil asuransi jiwa dan sakit kritis akan lbh tepat. Nah nti muncul, brp sih idealnya kita punya pengcoveran jiwa, semua bergantung ke biaya hidup yg biasa kita keluarkan.

2. Untuk pendidikan anak sebaiknya tetap kita bagi jg melalui tabungan berjangka atau investasi (reksa dana) sekalian. Perlu diingat jg, pendidikan disini untuk rencana anak masuk jenjang mana? SD, SMP (Jk. Pdk) atau kuliah (Jk Pjg). Satu kelebihan bila kita melalui asuransi yaitu ada manfaat pembebasan premi jika orang tua mengalami 3 resiko (meninggal, cacat total tetap, sakit kritis)

3. Sebisa mungkin sejak dini, selama porsi saving (3 sd 6x dari biaya hidup) sdh terpenuhi yaa…

☘ Pertanyaan : (Tri)
Saya mau nanya tentang KPR rumah , apa itu haram ?
Kalau minjem uang di Bank gimana hukumnya? Soalnya bila ada keperluan lebih saya suka minjem ke Bank daripada koperasi yang sekitar rumah bunga nya lebih gede

🌻 Jawaban :
Waduh pertanyaannya lbh berkaitan ttg tauhid yaa…
Saya jawab sesuai yg saya yau aja ya mba… Berkaitan dgn halal haram memang selalu menjadi perdebetan krn ujung2nya terkait dengan ribanya…
Balik lg mba.. Sepengetahuan saya ketika saya ikut di suatu taklim, dmn penceramah menyebutkan bahwa yg namanya bank beserta produknya itu telah diatur oleh pemerintah dan juga MUI dimana setiap penetapan bunga adalah ada andil dua elemen tersebut. Sedangkan yg dikatakan riba adalah menguangkan uang, dmn hal tsb terjadi pada tengkulak/rentenir, dimana penentuan bunga dilakukan seenaknya.
Lebih luas lagi, seperti tadi mengenai sistem ekonomi di indonesia ini.
Apakah bank syariah lbh baik? Minimal ada yg bergerak kearah yg lbh syar’i. Jadi bila ada yg syariah akan lbh tenang sepertinya mba dalam memilihnya

☘ Pertanyaan : (Kania)
Mau bertanya, kalau idealnya perbandingan antara belanja bulanan, saving, protection, sm invesment itu berapa berapa dari total pendapatan?
Kalau pendapat kang rian sedekah berarti dimasukkan ke belanja bulanan atau invesment?

🌻 Jawaban :
Proporsinya seperti yg sdh saya jelaskan sebelumnya yaa 10% Saving, 10-20% protection n Investment, 30% loan/pinjaman.. Sisanya 50% untuk kebutuhan bulanan

Klo untuk sedekah lebih baiknya jadikan sbg saving mksdnya anggarkan diawal (berapa pun jumlahnya), krn itu tabungan masa depan yg sesungguhnya, siap mba? 😊

Notulensi Kuliah via WhatsApp di Pojok Ilmu Ceria tentang Baby Blues Syndrome dan Post Partum Depression

πŸ“ NOTULENSI KULWAP PIC SESI#4
πŸ‘ͺ Tema : Baby Blues Syndrome & Post Partum Depression
πŸ‘₯ Narasumber : Hanny Harini & Indah Sulistyorini, M. Psi
πŸ“… Hari, Tanggal : Rabu – Kamis, 22-23 Desember 2017
πŸ•˜ Waktu : Rabu (12.00 – 14.00 WIB), Kamis (09.00-12.00)
πŸ‘€ Moderator : Sundari
πŸ‘€ Notulen : Erie Sy

Profil Singkat Narasumber
πŸ‘© Nama : Indah Sulistyorini
πŸ‘Ά Jumlah Anak : 3
πŸŽ“ Pendidikan : Fakultas Psikologi UI dengan gelar Magister Psikologi Klinis

πŸ‘© Nama : Harini Septarina
πŸŽ€ Panggilan : Hanny
πŸ‘Ά Jumlah Anak : 2
1. Ilmi Zidane Zaif (4,9y)
2. Nareswari Jihan Zaif (2,8y)
πŸ“ƒ Aktivitas : IRT, Freelance tutor dan penerjemah

Materi Narasumber 1 : Teori tentang Baby Blues dan Post Partum Depression

🍁🍁 Gangguan Psikologis Pasca Melahirkan🌿🌿
Kelahiran seorang bayi pada umumnya merupakan peristiwa yang membangkitkan berbagai perasaan mulai dari kebahagiaan, semangat dan kegembiraan, juga adanya rasa cemas dan rasa takut. Di sisi lain peristiwa ini juga dapat mengarah pada situasi yang di luar dugaan seperti munculnya gangguan psikologis pasca melahirkan.
Beberapa gangguan kejiwaan setelah melahirkan bisa timbul sangat ringan seperti Baby Blues
Gangguan ini sering tidak diketahui secara pasti, tapi Anda tidak sendirian. Faktanya adalah bahwa sebanyak 80% wanita mengalami beberapa gangguan suasana hati dalam waktu setelah kehamilan (dikenal sebagai periode postpartum). Mereka mungkin merasa cemas, marah, sendirian, takut, atau tidak mengasihi terhadap bayi mereka, dan rasa bersalah karena memiliki perasaan ini. Bagi kebanyakan wanita, gejala yang ringan dan pergi sendiri. Tapi statistik menunjukkan bahwa 10% -20% dari wanita mengalami bentuk yang lebih penghentian gangguan mood yang disebut postpartum depression (PPD).

πŸ‘Ά Baby Blues SyndromeπŸ‘Ά
Baby Blues syndrome atau sering disebut Postpartum Distress Syndrome adalah gangguan psikologis berupa sedih, cemas dan emosi meningkat yang dialami sekitar 50- 80% wanita setelah melahirkan khususnya bayi pertama . Biasanya terjadi pada 2 minggu pertama setelah melahirkan . Namun terlihat lebih berat pada hari 3 dan hari 4 , apalagi si ibu dan bayi kembali kerumah dan si ibu mulai merawat bayinya sendiri .
The β€œbaby blues” adalah sebuah gangguan psikologis berupa emosi tinggi yang terjadi pada sekitar setengah dari wanita yang baru saja melahirkan. Gangguan ini mencapai puncak saat 3-5 hari setelah melahirkan dan berlangsung dari beberapa hari sampai dua minggu. Seorang wanita dengan blues bisa menangis lebih mudah dari biasanya dan mungkin mengalami kesulitan tidur atau merasa marah, sedih, dan β€œgelisah” emosional. Baby blues sangat umum , postpartum blues tidak mengganggu kemampuan seorang wanita untuk merawat bayinya, mereka tidak dianggap sebagai penyakit.
Gejalanya adalah sebagai berikut :
β€’ Rasa sedih dan depresi yg mengganggu perasahaan ibu dan menyebabkan ibu sering menangis
β€’ Emosi tak menentu , mudah marah kerap tersinggung dan kerap kehilangan kesabaran
β€’ Cepat lelah dan mengalami pusing kepala
β€’ Tidak percaya diri
β€’ Cemas berlebihan dan merasa bersalah dan tidak berharga
β€’ Tidak peduli kepada si bayi

πŸ€πŸŒ· Depresi post partumπŸŒ·πŸ€
Postpartum depression sering disebut depresi klinis yang terjadi segera setelah melahirkan. Beberapa profesional kesehatan menyebutnya depresi postpartum nonpsychotic.
Kondisi ini terjadi pada sekitar 10% -20% dari perempuan, biasanya dalam beberapa bulan setelah melahirkan .
Tanda dan Gejala: Gejala termasuk suasana hati tertekan, tearfulness, ketidakmampuan untuk menikmati kegiatan yang menyenangkan, kesulitan tidur, kelelahan, masalah nafsu makan, pikiran bunuh diri, perasaan tidak mampu sebagai orangtua, dan gangguan konsentrasi. Suasana sedih, sering menangis, Kurangnya kesenangan atau minat dalam kegiatan yang pernah memberikan kenikmatan, gangguan berat badan, Kehilangan energi, Agitasi atau kecemasan, Perasaan tidak berharga atau bersalah, Sulit berkonsentrasi atau membuat keputusan, Pikiran tentang kematian, bunuh diri atau pembunuhan bayi, Penurunan minat pada seks, Perasaan penolakan. Gejala fisik seperti sering sakit kepala, nyeri dada, denyut jantung cepat, mati rasa, kegoyahan atau pusing, dan sesak napas ringan menyarankan kecemasan.
Depresi postpartum mengganggu kemampuan seorang wanita untuk merawat bayinya.
Ketika seorang wanita dengan depresi postpartum berat menjadi bunuh diri, ia dapat mempertimbangkan membunuh anak-anak bayi dan muda, bukan karena marah, tetapi dari keinginan untuk tidak meninggalkan mereka.
Faktor risiko lain yang diketahui
β€’ Wanita yang mengalami depresi postpartum mungkin lebih sensitif terhadap perubahan hormonal.
β€’ Tingkat hormon estrogen, progesteron, dan kortisol turun drastis dalam waktu 48 jam setelah melahirkan.
β€’ Ketidakseimbangan hormon diduga berperan.
β€’ Penyakit mental sebelum kehamilan
β€’ Penyakit mental, termasuk depresi postpartum, dalam keluarga
β€’ Gangguan mental postpartum setelah kehamilan sebelumnya
β€’ Konflik dalam pernikahan, kehilangan pekerjaan, atau dukungan sosial yang buruk dari teman dan keluarga

🌸 Psikosis Postpartum🌸
Psikosis Postpartum adalah gangguan postpartum yang paling serius. Hal ini membutuhkan perawatan segera. Kondisi ini jarang terjadi.
Gejala :
β€’ Munculnya keyakinan yang salah (delusi), halusinasi (melihat atau mendengar hal-hal yang tidak ada), atau keduanya. Mengalami gejala – gejala ini dalam waktu tiga minggu usia melahirkan.
β€’ Ketidakmampuan untuk tidur, perubahan suasana hati, sensitif.
β€’ Susah beristirahat dengan tenang dan sering merasa takut
β€’ Munculnya pikiran untuk menyakiti bayi mereka lebih cenderung terjadi pada ibu yang mengalami gangguan psikolotik pasca melahirkan
β€’ Jika tidak diobati, depresi psikotik postpartum memiliki kemungkinan tinggi datang kembali setelah masa postpartum dan juga setelah kelahiran anak-anak lain.
β€’ Peningkatan berat badan karena makan berlebihan atau penurunan berat Badan karena tidak mau makan

Penyebab dan Faktor Risiko Sampai saat ini masih belum diketahui penyebab gangguan tersebut. Tidak ada penyebab spesifik dari depresi postpartum telah ditemukan. Tetapi beberapa faktor diduga sebagai faktor penyebab dan faktor resiko

Ibu yang beresiko mengalami gangguan Psikosis pasca melahirkan :
β€’ Ketidakseimbangan hormon.
β€’ Penyakit mental sebelum kehamilan
β€’ Penyakit mental, termasuk depresi postpartum, dalam keluarga
β€’ Gangguan mental postpartum setelah kehamilan sebelumnya
β€’ Konflik dalam pernikahan, kehilangan pekerjaan, atau dukungan sosial yang buruk dari teman dan keluarga
β€’ Keguguran seperti keguguran atau lahir mati .

Hal – hal yang menjadi penyebab munculnya gangguan – gangguan psikologis pasca melahirkan :
β€’ Banyak ibu baru sangat lelah setelah melahirkan dan dalam minggu-minggu sesudahnya.
β€’ Nyeri dan rasa sakit di daerah perineum (daerah sekitar jalan lahir) membuat banyak wanita tidak nyaman. Pemulihan fisik setelah melahirkan sesar dapat berlangsung lebih lama dari setelah proses persalinan.
β€’ Perubahan hormon dapat mempengaruhi suasana hati.
β€’ Perubahan Emosi Perubahan emosi yang sering terjadi setelah melahirkan
β€’ Perasaan kehilangan identitas lama, merasa terjebak di rumah
β€’ Merasa kewalahan dengan tanggung jawab ibu
β€’ Merasa stres dari perubahan dalam rutinitas
β€’ Merasa kelelahan karena pola tidur rusak
β€’ Merasa kurang menarik secara fisik dan seksual
Penanganan
β€’ Kelilingi diri dengan anggota keluarga dan teman-teman yang mendukung, dan meminta bantuan mereka dalam merawat bayi.
β€’ Jaga diri. Dapatkan istirahat sebanyak yang bisa.
β€’ Cobalah untuk tidak terlalui banyak menghabiskan banyak waktu sendirian saja
β€’ Luangkan waktu dengan suami atau pasangan saja.
β€’ Mandi dan berpakaian setiap hari.
β€’ Keluar dari rumah. Berjalan-jalan, melihat teman, melakukan sesuatu yang Anda nikmati. Dapatkan seseorang untuk mengurus bayi jika bisa; jika tidak dapat, membawa bayi.
β€’ Jangan menuntut diri sendiri sempurna. Jangan khawatir terlalu banyak tentang pekerjaan rumah tangga. Tanyakan teman-teman dan keluarga untuk membantu.
β€’ Berbagi dengan ibu-ibu lain. Penderita dapat belajar satu sama lain, dan pengalaman mereka dapat dijadikan sumber pembelajaran.
β€’ Jika depresi terus berlanjut selama lebih dari dua minggu atau sangat parah, berbicara dengan ahli kesehatan. Cukup perawatan saja tidak dianjurkan.
β€’ Pengobatan untuk depresi postpartum tergantung pada bentuk dan derajat keparahan gangguan itu. Mungkin perlu bantuan psikologis dan terapi individu atau kelompok. Konseling perkawinan dapat menjadi bagian dari rencana perawatan Anda. Sangat penting untuk teman-teman dan keluarga untuk memahami penyakit sehingga mereka dapat membantu.
β€’ Untuk Baby Blues mungkin tidak ada pengobatan khusus karena kondisi hilang dengan membaik sendirinya dan biasanya tidak menyebabkan gejala berat. Jika gejala tidak hilang dalam waktu dua minggu, hubungi ahli kesehatan Anda.
β€’ Untuk depresi postpartum, tingkat keparahan penyakit akan memandu perawatan kesehatan profesional dalam memilih pengobatan. Bentuk yang lebih ringan dapat diobati dengan terapi psikologis. Bentuk yang lebih parah mungkin memerlukan pengobatan. Kombinasi dari Terapi psikologis dan medis untuk kasus yang berat akan lebih bermanfaat.
β€’ Obat – obatan Antidepresan
β€’ Terapi hormon: Estrogen, sering dalam kombinasi dengan antidepresan, kadang-kadang membantu dengan depresi postpartum. Beberapa wanita juga membutuhkan terapi hormon tiroid.
β€’ Terapi masih belum terbukti lainnya termasuk penggunaan cahaya terang dan terapi nutrisi (terutama meningkatkan omega–3 asam lemak bebas). Apa beberapa sebut sebagai obat alami, terapi ini belum menunjukkan bahwa mereka adalah pengganti yang efektif untuk lebih intervensi konvensional.
β€’ Jika penderita sedang menyusui, obat-obatan yang diminuml dapat sebagian berpengaruh ke bayi. Beberapa antidepresan dapat digunakan secara aman dengan sedikit risiko untuk bayi dan pengobatan oleh karena itu layak saat menyusui.
β€’ Umumnya, psikoterapi dan obat-obatan yang digunakan bersama-sama. Psikoterapi sendiri mungkin efektif dalam kasus-kasus ringan, terutama jika ibu lebih memilih untuk memiliki pengobatan tanpa obat yang diresepkan.
β€’ Mengajarkan keterampilan ibu seperti menenangkan bayi menangis sering mengurangi gejala depresi selama 2-4 bulan pertama setelah melahirkan.
β€’ Jika gejala tidak dapat dikontrol dengan konseling atau obat-obatan, dan penderita berpikir tentang menyakiti diri sendiri atau bayi, maka dokter akan mempertimbangkan menempatkan penderita di rumah sakit

Situasi emergensi untuk membutuhkan bantuan profesional kesehatan jiwa :
β€’ Ketidakmampuan untuk tidur lebih dari dua jam per malam
β€’ Pikiran menyakiti atau membunuh diri sendiri
β€’ Pikiran menyakiti bayi atau anak-anak lain
β€’ Mendengar suara-suara atau melihat hal aneh
β€’ Pikiran bahwa bayi Anda jahat

Materi Narasumber 2 : Pengalaman merasakan PPD
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh..

Perkenalkan saya Hanny ibu dari 2anak, berdomisili Kab.Bogor
Mudah2an share saya tentang PPD ini dalam menjadi hikmah dan pelajaran bagi kita semua…

Bismillah…
Alhamdulillah saya dikaruniai Allah anak yang sempurna dan sepasang lagi…cukup lengkap lah insya Allah.

Kalau kata orang, apa lagi yang bikin tidak bersyukur sampai2 saya haru mengalami percobaan bunuh diri 2x, frigid dengan suami karena trauma, depresi berlebihan?

Kurang iman mungkin
Kurang pandai bersyukur
Kurang segala2…

Banyak yang menjudge saya seperti itu terutama orang2 terdekat.

Awal mula saya menghadapi ujian ini adalah ketika melahirkan anak pertama.
Saat itu, saat kehamilan, saya alhamdulillah baik2 saja.. Namun ketika trimester terakhir menjelang kelahiran, saya mengalami stress dipekerjaan dan akhirnya bolak balik RS karena kontraksi, anak pertama dilahirkan di minggu ke 37 dalam kondisi tidak sadarkan diri…udah pingsan kelelahan kontraksi dr minggu ke 35..

Setelah melahirkan, karena saya ‘ngotot’ ingin melahirkan normal, saya merasa bersalah, dan merasa kurang karena harus melahirkan SC, ditambah lagi anak saya salah diagnosis, dikatakan kena infeksi paru harus masuk NICU, dan karena kecurigaan saya, hari ke 5 di NICU, Saya minta pindahkan ke RS lain..dan benar adanya, anak saya baik2 saja…πŸ˜–

Perjuangan asi, pasang IUD yang menyakitkan membuat saya menyalahkan suami saya…kenapa saya harus begini??

Hampir 8 atau 9 bulan lamanya saya tidak mau disentuh suami, saya sibuk dengan bayi saya, kerjaan saya, trauma sakit saya..dll

Suami sabar dan tetap mensupport saya, akhirnya suatu malam kami berdialog.. Dan sampailah pada perkataan suami “ikhlas mah, yang bisa kita lakukan hanyalah ikhlas…ikhlas terima semuanya bagian dari hidup kita”

Akhirnya pelan2 saya bangkit, perbaiki terutama hubungan saya sama suami…

Akhirnya setelah 21bulan pasca kelahiran anak pertama, saya hamil lagi, itu tidak direncanakan..karena saya masih pakai kontrasepsi waktu itu..pakai pil..

Orang langsung nebak…”kamu kelupaan minumnya ya?” itu statement nyebelin nomer 1.
“Anak pertama masih kecil udah hamil lagi? Emang bisa ngurusnya?”,statement nyebelin nomer 2.
“Kamu ga kontrol sih jadi bobol tuh”
“Kalo anak kamu lahir siapa yang mau urus?”
“Nanti kamu ga kerja dong?”
Dslb
Dst
Dan selanjutnya…

Saya yang waktu itu belum siap karena baru sembuh dari trauma melahirkan pertama merasa ingin gugurkan saja kandungan ini…
Tapi bingung “iya kalau gugur, lah kalau lahir tapi cacat?” akhirnya ya membiarkan saja, tanpa ada perlakuan khusus, tidak se stricht hamil yang pertama, makan ga dipantang, apa aja masuk…ga pake perhatiin ini itu…denial bahwa saya hamil, menutupi kehamilan hingga usia ke 6bulan..baru mulai timbul rasa khawatir, gimana ya bayi ini, dll..

Awal2 hamil juga sempat asma lebih parah dari sebelumnya, harus terus gunakan inhaler, sering sesak, nyeri di bagian jantung..mungkin juga karena stress

Saat melahirkan, karena berbagai kondisi tersebut, saya terpaksa sterill. Melihat diri ini sudah tidak bisa lagi jadi perempuan seutuhnya krn tidak bisa hamil lagi, dengan luka SC yang luar biasa lebih sakit dr awal..(saya sempat alergi dengan salah satu obat penahan rasa sakit, jadi diberikan parcet saja, dengan rentan pemberian dari parcet IV pertama ke parcet botol kedua harus jeda 6jam dulu, nah itu bikin saya keringet dingin nahannya)

Saya merasa “kok jadi sakit semua ya?”

Sampai rumah masih dirubung pertanyaan orang2 rumah tentang: nanti kerja gimana? Nanti siapa yang urus?emang kamu bisa urus anak 2? Kamu sih ga kontrol KB!, Nanti kalo sterill tapi tetep hamil juga, angkat ajalah rahimnya, dlsb dan pertanyaan itu diutarakan saat2 saya baru2 pulang RS. Ini lah saat2 percobaan bunuh diri saya yang 1
Saat seperti itu, alih2 dikelilingi keluarga terdekat, suami memilih mengungsikan saya ke kontrakan…kami tinggal berempatan aja…kalau siang saya bertiga sama anak. Minggu2 pertama masih ga ada ART, minggu berikutnya baru dapat ART.. Kondisi tersebut malah menyelamatkan saya…

Gimana akhirnya saya keluar dari masalah ini?
Alhamdulillahladzi bini’matihi tstimusholihat..
Allah kasih jalan ke saya:
1. Suami yang luar biasa
2. Teman yang sholihah
3.social media yang mampu saya atur untuk berteman dengan orang2 shalih

Saya menjauh sementara dari orang2 yang berpotensi mempengaruhi jalan pikiran saya…yang memberi dampak negatif buat saya..

Saya berusaha mencari teman2 yang sholillah yang mau membimbing saya..mencari komunitas ya contohnya ceria ini..

Dan yang terpenting…

Saya belajar untuk ikhlas, menerima, dan terutama tutup mata, tutup telinga dari tuntutan memuaskan semua orang. Ga akan sanggup saya kalau berusaha memuaskan orang…menjawab semua pertanyaan orang..dlsb…diamkan saja,tar juga capek sendiri…

Alhamdulillah…terutama disini peran suami yang sangat besar, penerimaan suami, bimbingan suami, alhamdulillah, Masya Allah Allah berikan suami yang sabar, membimbing, mengajarkan untuk jujur pada diri sendiri, untuk ikhlas dengan diri sendiri…

Beberapa kali saya berniatan bertemu psikiater, psikolog atau konsuler semacamnya…suami meyakinkan bahwa saya fine, saya tidak bermasalah…

Suami meyakinkan bahwa kami bisa melewati semua ini…

Alhamdulillah perjuangan dan munajat kami dikabulkan Allah…

Diujung terowongan yang gelap akan selalu ada jalan yang terang

FORUM DISKUSI (TANYA JAWAB)❓❓❓
1. Penanya : Ziyana

Pertanyaan :
a. Gangguan Psikologis pasca melahirkan teh, adakah dr pengaruh gen/keturunan??

b. Jika anak pertama mengalami gangguan psikologis spt ini, apakah kemungkinan hal ini akan slalu terjadi disetiap momen melahirkan atau ada batasan waktu tersendiri?

c. Ada kejadian spt ini pd bibi sy, yg mengalami hal yg ketiga atau paling parah yg pada akhirnya bliau sering berhalusinasi bahkan ingin membunuh anaknya. Hingga saat ini anaknya sudah umur 2thn pun msh ada perasaanny. Akankah hal ini berpengaruh pada psikologis anak hingga dewasa? Terimakasih
JAWABAN
a. Sejauh ini belum ada literatur yang menyebutkan bahwa gangguan psikologis pasca melahirkan bisa dipengaruhi oleh keturunan. Beberapa faktor resiko yang sudah disebutkan sebelumnya lebih kepada sudah memiliki kecenderungan memiliki kecemasan. Maksudnya sebelum hamil emang udah punya gangguan cemas.
Nah si gangguan cemas ini yang mungkin bisa dipengaruhi oleh genetik. Itupun sebenarnya lebih banyak karena proses belajar sosial yang sering tidak kita sadari kita dapatkan dari orang- orang yang penting dalam kehidupan seperti misalnya ibu kita. Misalnya kalau dalam keluarga ada yang mudah cemas sedari kita kecil secara takk sadar kita juga belajar jadi cemas karena mendengarkan keluhan, ata ujaran2 yang menunjukkan kecemasan. BIsa jadi tidak hanya dari ibu, bisa dari orang2 sekitar juga. JAdi tidak selalu masalah keturunan.
b. Apakah selalu setiap lahiran atau melahirkan akan mengalami kejadian yang sama? Jawabanannya tergantung pada proses kehamilan yang dijalani, proses saat melahirkan dan dukungan sosial yang tersedia pasca melahirkan.
Bila dalam kehamilan dijalani dengan normal dan baik2 aja,..lalu menjalani proses melahirkan yang juga dengan baik , disertai adanya dukungan, dari suami dan keluarga besar dan mengerti keadaan kita yang kadang lemah secara fisik dan mental , insyaa Allah akan melewati dengan baik. Dalam arti, faktor nya banyak,…tidak hanya satu atau dua faktor
Namun pada umumnya semua proses gak selalu smooth ,.lancar,..mulus,…ya kan? pasti ada aja paling gak yang membuat ibu baru melahirkan merasakan situasi emosi yang turun naik,..campur aduk,..lelah dan seperti gak berdaya,..itu semua wajar adanya

C. untuk kasus halusinasi, berarti sudah mengalami gangguang psikosis pasca melahirkan. Sebenernya hal ini bisa dihindari bila dari awal sudah terdetesi mengalami depresi post partum atau gangguan stres pasca trauma. Pada umumnya kondisi psikosis didahului oleh gangguan sebelumnya yang lebih mudah untuk diatasi. Bila gangguan tak tertangani maka bisa jadi psikosis yang berarti ada gangguan terhadap kontak terhadap realita seperti adanya halusinasi. Jadi memang sebaiknya sebelum sampai ke psikosis suddah tertangani
Apakah mempengaruhi psikologis anak? Kemungkinan besar iya, karena anak sangat membutuhkan kelekatan pada ibunya pada masa – masa awal kehidupannya untuk membentuk bonding, ikatan, atau attachment. Bila pada tahap awal anak atau ibu tidak bisa membentuk bonding, maka akan muncul rasa tidak aman atau insecure yang lebih lanjut akan memunculkan berbagai perilaku yang merupakan kompensasi dari rasa tidak aman, misalnya anak jadi pencemas, atau anak jadi agresif karena rasa aman tidak terbentuk, maka ia cenderung menyerang orang lain sebegai mekanisme pertahanan diri dair serangan orang lain. Pada umuumnya hal 2 yang turut mempengaruhi kondisi mental ibu yang baru melahirkan salah satunya adalah proses kelahiran yang sering kali bersifat traumatik
pada ibu yang mengalami halusinasi , akan sulit punya kedekatan yang wajar dengan anak karena dia memandang ada sesuatu yang mengancam dirinya jadi dia akan cenderung menjauhkan diri atau sebaliknya menyerang anak nya untuk melindungi dirinya.

2. Penanya : Tina Purwantina

Pertanyaan
2. Pertanyaan dari Teh @Tina Purwantina Somantri

a. Untuk Teh @Harini “Hanny” apakah ada perbedaan “mood” sebelum atau setelah melahirkan, sehingga teteh mengalami PPD? Bagaimana perjuangan utk kembali “normal” lg menghadapinya?Β 

b. Untuk Teh @indah sulistyorini , apakah PPD atau baby blues bisa dicegah?

JAWABAN :
Jawaban dari Teh Hanny
Bismillah saya coba jawab…
a. Saat kehamilan pertama saya baik2 saja, tapi menjelang kelahiran lebih ke arah lelah karen ya itu faktor banyak masalah kehamilan..

Masalah emosi saya lebih karena pengaruh tekanan luar yang waktu itu saya rasakan ‘memojokan saya’…

Perjuangannya Subhanallah…😁

Mencoba mencari apa yang membuat nyaman, begitu ingin nangis ya nangis, begitu ingin marah ya marah…

Alhamdulillah saya punya “tempat sampah emosi” waktu itu, setelah luapan emosi selesai, saya didoktrin, dinasehati…akhirnya sampai pada satu titik I need to change..

Saya cari cara untuk berubah

Jawaban dari Teh Indah
seperti yang teh Hanny juga bilang bahwa, cari tahu apa yang bisa bisa bikin kita nyaman. Oleh karena itu pengenalan dan kesadaran diri penting banget.
Misalnya niy, udah tahu kalo ngeliat yang sedih2,..bisa langsung drop lagi,.ya hindari cerita2 sedih,..entah itu datengnya dari sinetron, apa cerita orang, apa baca ceirta sedih,..trus ntar jadi sedih gak jelas,…nah,..mendingan hindari. Atau sebaliknya,..kenali diri,…apa yang bisa membantu membuat diri merasa nyaman, misal, mandi dengan air hangat,..pake wangi wangian,..mendengarkan murottal, dll
jadi pengenalan diri juga penting untuk proses pemulihan. bisa jadi kita butuh orang lain juga untuk memberi informasi ttg diri kita yang sering kali tidak kita sadari namun orang lain tahu. oleh karena itu penting untuk membuka diri terhadap input dari orang lain tentunya diambil sisi positifnya. Misalnya orang lain bilang, kamu tuh, gak bisa kurang tidur pasti uring2an. Nah kita sadari, berarti upayakan mengganti waktu tidur yang terpakai untuk misalnya mengurus baby di malam hari dengan istirahat tidur di siang hari.

Jawaban tambahan dari Teh Hanny
Saya tambahkan, mengenali diri itu ga mudah…

Ga bisa diri sendiri mengenali oh saya ini begini, saya ini begitu…

Saya harus cari orang yang bisa menilai kelebihan saya secara objektif, ga lebay, juga ga menjerumuskan…
Saya tambahkan, mengenali diri itu ga mudah…

Ga bisa diri sendiri mengenali oh saya ini begini, saya ini begitu…

Saya harus cari orang yang bisa menilai kelebihan saya secara objektif, ga lebay, juga ga menjerumuskan…

b. Menghindari baby blues, saya pikir kita gak tahu nantinya baby blues atau nggak, mendingan selalu siap dengan apa pun yang akan terjadi, hadapi, ketimbang kecewa, udah melakukan semua hal, masih baby blues juga. Oleh karena itu saya lebih sepakat untuk melihat ini sebagai sesuatu yang wajar lalu dihadapi aja. Namun tentu saja persiapan kehamilan dan melahirkan yang baik, bisa jaid meminimalisir dampak yang akan dialami
upayakan mendapatkan informasi yang terbaik terkait proses2 terssebut. Seperti misalnya sebelum hamil, upayakan mendapatkan asupan gizi yang baik, meski tidak harus mahal. Lalu maknailah bahwa proses ini bukan milik perempuan sendiri, melainkan tanggung jawab bersama sehingga setiap apa pun akan dihadapi bersama. Menentukan misalnya mau ke bidan atau dokter, mau periksa kondisi fisik, misalnya tes laboraturium untuk memastikan kesehatan fisik, lalu mencari dari sumber2 yang terpersaya ttg fase2 kehamilan,..mulai dari trimester pertama sampai melahirkan. Memeriksakan diri secara rutin, itu sebisa mungkin suami mendampingi
Persiapan kehamilan tentunya sudah dilakukan bahkan ketika kita menikah, karena tujuannya memang nantinya ingin memiliki keturunan. Oleh karena itu dari awal sudah ngobrol2 sama suami tentang bagaimana dukungannya selama proses sebelum haml, pas hamil, melahirkan, dan pasca melahirkan
demikian pula dengan orang2 yang biasanya akan ada di sekitar kita,..yang sering kali juga menjadi sumber masalah seperti tuntutan2 yang membuat ibu kewalahan atau komentar2 yang gak membuat hati nyaman
Ngobrol dengan bidan atau dokter, mendiskusikan hal2 yang boleh dan tak boleh dilakukan ibu hamil untuk memastikan kondisi ibu dan janin baik sampai lahiran, aktivitas yang masih boelh dilakukan, olah raga yang bisa dilakukan bersama, lalu bila mengaalami sakit juga suami mendampingi untuk memastikan obat2an yang boleh atau tidak boleh dikonsumsi, berbagai pekerjaan rumah tangga , melakukan ibadah bersama
Sebisa mungkin ikut mendapatkan info untuk menghindari mitos atau salah kaprah yang membuat ibu menjadi terbebani
3. Penanya : Litha

Pertanyaan
Saat melahirkan anak pertama, saya baru dua minggu tinggal di rumah mertua, sebelumnya ngontrak.Perasaan saya sehari dua hari sampai sekitar dua mingguan bawaannya sedih terus, kangen rumah (orang tua), sedangkan orang tua saya di Malang, saya di Bandung.

Perasaan ke bayi baik dan nyaman2 aja. Lebih ke adaptasi tinggal di lingkungan baru mungkin. Tapi sebelum melahirkan perasaannya masih biasa. Hal itu termasuk baby blues bukan ya? Apakah itu wajar? Pengaruh hormon? Terimakasih

JAWABAN
Teh Litha,..memang pasca melahirkan, ada hormon2 yang juga sedang dalam proses penyesuaian. Bisa menimbulkan rasa sedih karena hormon juga sangat erat dalam pengaturan emosi. Proses adaptasi, mungkin juga bisa karena tentunya berbeda tinggal di rumah sendiri dan rumah mertua meskipun misalnya mertua baik banget, tapi tetap aja, ada tuntutan dalam diri untuk menyesuaikan diri dan itu butuh energi tersendiri.
Dalam keadan lemah dan lelah,..hal yang biasa dan wajar bila kita merindukan sosok ibu kita sendiri karena ibu melambangkan rasa aman, seperti yang saya sudah sebutkan. Seirngkali ibu melahirkan lebih butuh ibu nya ketimbang suami.
itu wajar. Keberadaan ibu kandung atau yang membesarkan kita membuat kita merasa berada dalam situasi yang aman bila memang sebelumnya kita memiliki hubungan yang baik atau ikatan yang kuat.
Jadi gpp kalo sedih, teh Litha sepertinya mengalami baby blues. Nah kalo rasa sedihnya berlanjut lalu jadi gak bisa ngapa2in, seperti gak bisa merawat bayi, males mandi, makan,pengennya nangis terus tanpa sebab dan sudah lewat dari 2 minggu,..hati2 hal tersebut sudah mengarah ke depresi.

4. Penanya : Dias

Pertanyaan
Saya kan kondisinya dituntut keluarga utk kerja karena udh sarjana, terus qadarullah dititipi anak dg kondisi epilepsi sejak lahir dg durasi dan frekuensi kejang yg tinggi, alhamdulillaah sdh tdk lagi, tp efeknya anak jd berkebutuhan khusus.
Kadang rasanya ingin menuntaskan semua tugas, tp keterbatasan anak jg lumayan menghambat.

Baru aja lulus profesi, harapan bisa langsung kerja, qadarullaah dikaruniai hamil lagi. Dias khawatir ppd menyerang lagi. Niat menghindar dg pisah rumah, malah dias takut menyakiti anak pertama nantinya.

Baiknya gmn utk menghindari kemungkinan PPD lagi? Dg kondisi jarak anak pertama dan kedua 3 tahun, dan anak pertama blm paham jika diajak bicara, dan blm bisa bicara yg dapat dimengerti.

Jawaban dari Teh Indah
Saya pikir kita kembali lagi harus mengenali kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Mumpung masih ada waktu, coba buatlah perencanaan yang realistis selama hamil ini untuk mempersiapkan ala sesuatunya pasca melahirkan nanti.
bicarakan dengan suami, karena pasti anak juga butuh therapy bila usia 3 tahun belum paham jika diajak bicara dan belum bisa bicara. Speech terapy
Kalau sebelumnya memang mengalami ppd, coba pikirkan waktu itu apa yang bisa membuat teh Dias mempu melewatinya dan bisa kembali sekolah dan melakukan fungsi sehari hari
Saya pikir kuncinya memang di persiapan , manajemen waktu dan penerimaaan diri. perencanaan yang baik bisa meminimalisir dampak yang akan dihadapi khususnya terkait hal – hal yang nantinya sulit untuk kita kendalikan misalnya pengasuhan anak kedua yang berkebutuhan khusus, apakah sudah mendapatkan penanganan yang baik. Tentunya kerja sama dengan pengasuh yang membantu, juga dengan suami pastinya yang mungkin nanti ikut mengawasi perkembangan anak, membantu memenuhi kebutuhan si kakak, selama teh Dias dlam proses penyesuaian diri setelah malehirkan dengan berbagai emosi yang menyertai.

Jawaban dari Teh Hanny
-Teteh sendiri maunya kerja atau tidak?
Kalaumau kerja bisa dicari solusinya bareng2 dengan suami…

Kalau maunya ga kerja, mendampingi anak ga usah denger tuntutan siapapun…Allah menuntut kita jadi ibu sholihah, bukan jadi ibu sarjana pekerja…

Saya juga punya pengalaman, “kamu lulusan PTN, trus ga kerja?”
Hadoh…πŸ˜“

Itu efek banget buat saya, beberapa kali merasa useless. Saya kerja sudah dari tahun pertama kuliah, skrg ga kerja? Berasa jadi sampah masyarakat…apalagi ibu saya seumur hidupnya wanita karir…makinlah saya dipojokan…

Tapi sekali lagi, prioritas mana yang harus lebih dulu diutamakan?

Suami saya pun berkali2 bilang “bila ada kesempatan kerja/kuliah, anak2 bisa terjamin aman, silahkan, aku ga mau menghambat impian kamu”

Tapi saya juga selalu bilang “bukan menghambat impian, tapi ditunda aja dulu…tar juga pas ada waktunya ya dikasih jalan sama Allah”

Benar saya dikasih Allah kerjaan yang bisa dihandle dari rumah…bisa keluar ngajar sekali2 saat anak2 sama bapaknya..

– masalah ketakutan kenapa2 dengan anak…coba bicara jujur sama anak, kalau lagi capek, bilang mama capek, kalau lagi g sanggup bilang “bantu mama,mama capek, mama sakit, tlg mama”
Yang jelas hindari untuk menjadi perfeksionis dalam hal apa pun utamanya dalam mengelola rumah tangga
Maaf saya pikir apa yang dikatakan ortu jangan diambil hati, karena segala sesuatu yang kita alami saat ini sudah qodarullah juga, jangan menyalahkan situasi karena kita juga sudah memilih, Yang penting terus berjalan ke depan, hadapi segala tantangan, di cari jalan keluar yang terbaik bersama suami, kuatkan diri dan berharap pertolongan ALLAH SWT
Yup saya pikir mengelola prioritas memang penting dan juga menjadi kunci untuk mengatur supaya semua bisa berjalan.
namun tetaplah bersikap baik thd ortu dan minta ridho dan doanya selalu.

5. Penanya : Ibu X
Pertanyaan
Sy mau mengajukan pertanyaan buat teh indah :

Sejak sy msh anak2, sy merasa mengalami banyak goncangan dlm hidup sy, mulai dr orng tua sy bercerai shg sy kehilangan sosok ayah & ibu sekaligus. Hidup terpisah dgn ayah, ttpi hidup dgn ibu sy yg bekerja. Dan ada banyak kejadian lagi yg menguras emosi sampai pd klimaksnya sy prnh bbrp kali menangis hingga pingsan.

Kemudian sy menikah dan melahirkan, sy sempat khawatir mengalami baby blues krna sy sadar bahwa sy tdk stabil secara emosi. Tp Alhamdulillah suami sy sangat menyayangi sy bahkan menemani sy 24 jam selama bbrp minggu setelah melahirkan, dan sy sama sekali tdk mengalami tanda2 baby blues sperti di atas.

Prtanyaan sy, apakah sy msh mungkin mngalami baby blues pd kelahiran anak kedua dan selanjutnya jika krna kesibukan suami sy tdk bs menemani sy sesering dulu?

Kl misalnya bisa, separah apakah baby blues yg sy alami mengingat ketidakstabilan emosi sy? Trimakasih
JAWABAN
Alhamdulillah ya teh suami nya komit dalam memberikan dukungan sehingga terbukti di sini bahwa meskipun ibu X mengalami banyak goncangan yang membentuk kepribadiannya saat ini ibu X tidak merasakan mengalami baby blues. Artinya di sini betapa dukungan orang terdekat menjadi faktor yang sangat penting bagi ibu pasca melahirkan. Nah apakah kemudian bila suami tidak lagi bisa mendampingi ibu akan mengalami baby blues? Masalah baby blues adalah masalah yang sangat terkait dengan kondisi emosi dan hal itu terus terang tidak bisa benear2 diprediksi dengan tepat. BIsa jadii iya bisa jadi tidak. Saya hanya berharap selalu ada yang bisa dipelajari dari pengalaman masa lalu paling tidak pengalaman mengajarkan tentang siapa diri kita , apa kelemahan dan kelebihan diri kita, apa yang bisa biikin diri kita merasa nyaman atau sebaliknya, itu lah yang bisa jadi pegangan. Hal – hal tersebut yang masih berada di dalam kendali kita . Kalau pun misalnya nanti suami tidak bisa mendampingi seperti kelahiran anak pertama, kenali lah,..hal – hal yang sebaiknya kita hindari untuk kita lakukan yang bisa membuat emosi kita menjadi galau atau tidak stabil, sebaliknya lakukan lah hal2 yang membuat kita merasa nyaman sehingga kita bisa menjadi kuat dan mampu melakukan kegiatan sehar hari dengan emosi yang relatif stabil. Ya namanya emosi pasti ada turun naiknya,..yang penting kita masih dalam situasi mampu mengendalikan .

Dukungan sosial bisa didapatkan tidak hanya dari suami tetapi juga darirekan- rekan, sahabat yang mengerti , sesama ibu yang bisa memberikan dukungan seperti wa grup ini. Kalau perlu sesekali mengadakan pertemuan bisa ada yang berdekatan lokasi nya. Saling mengunjungi di kala ada yang melahirkan dan memberikan support.

6. Penanya : Wenny

Pertanyaan

Mau bertanya pada teh Indah, setelah saya melahirkan putra saya, perasaan yg timbul adalah takut terhadap dokter yg membantu proses persalinan yg telah saya lewati ( saya melahirkan normal )..saya nangis terus karena merasa proses itu berulang dan ada terus dipikiran saya..suami termasuk suami siaga, keluarga jg seperti itu, alhamdulillah saya tetap bs kc ASI eksklusif..sekitar 2 bln saya tdk mau mengingat dokter yg membantu persalinan, dtng kerumah sakit takut atau tdk mau menceritakan proses kelahiran bila ada yg bertanya.. apakah ini termasuk juga Β baby blues atau saya hanya trauma pd sikap dokter yg marah2 ketika proses persalinan sedang berlangsung ?

JAWABAN
Memang benar Teh Wenny, dokter salah satu faktor yang bisa membuat ibu mengalamikejadian traumatik saat melahirkan. Saya bisa pahami bahwa di saat – saat kita dalam kondisi yang sangat membutuhkan bantuan baik secara medis maupun dukungan moral, malah mendapatkan perlakuan yang membuat kita merasa gak nyaman. Sebaiknya teh Wenny mencari alternatif dokter yang lebih baik untuk kehamilan selanjutnya . Tentu saja sikap dokter bisa mempengaruhi emosi kita. Baby blues biasnya berlangsung mulai dari setlah melahirkan hingga 2 minggu setelahnya. Bila masih berlanjut ada kemungkinan bisa mengalami depresi pasca melahirkan, namun bila yang sulit dilupakan adalah perilaku dokter saja namun peristiwa melahirkannya sendiri tidak menjadi ingatan yang menyakitkan maka memang perilaku dokter menimbulkan kondisi traumatik.
Dalam kasus peristiwa traumatik, berjalannya waktu memang cukup membantu dalam pemulihan. Namun kita juga bisa secara aktif melakukan hal – hal yang mengurangi kondisi traumatik seperti mencoba menemukan dokter lain yang jauh lebih baik, lebih ramah dan membantu . BIsa sekedar berbincang2, bisa mencari informasi tentang sikap dokter yang baik seperti apa, sehingga paling tidak bisa mengubah pola pikir kita bahwa tidak semua dokter bersikap sama terhadap ibu melahirkan pada proses kelahiran. Ini untuk menggantikan secara perlahan pada memory kita tentang sebuah sosok yang bernama dokter. Meski ingatan manusia tidak sama dengan komputer yang bisa di cut lalu di paste dengan gambar yang lain, tapi kita bisa punya alternatif lain.
Saya menyadari mengalami depresi postpartum sejak memiliki bayi dan pencetus utama adalah salah satu orangtua yg tinggal serumah. Karena beliau selalu mengomentari cara saya merawat bayi saya, terlebih bila berbeda dgn cara beliau. Saya merasa selalu disalahkan, tidak ada ruang untuk mandiri. Saya pernah meminta izin suami untuk pergi ke psikolog namun tidak diizinkan. Suami selalu membesarkan hati saya, mengatakan beliau hanya perhatian ke saya. Suami juga memberikan dukungan lebih dan selalu mengingatkan untuk mendekat ke Allah. Alhamdulillah, hal itu berhasil. Namun adakalanya saya “kambuh”, nangis seharian, tidak nafsu makan, sering kelelahan emosi & fisik

7. Penanya : Ibu R

Pertanyaan
Saya menyadari mengalami depresi postpartum sejak memiliki bayi dan pencetus utama adalah salah satu orangtua yg tinggal serumah. Karena beliau selalu mengomentari cara saya merawat bayi saya, terlebih bila berbeda dgn cara beliau. Saya merasa selalu disalahkan, tidak ada ruang untuk mandiri. Saya pernah meminta izin suami untuk pergi ke psikolog namun tidak diizinkan. Suami selalu membesarkan hati saya, mengatakan beliau hanya perhatian ke saya. Suami juga memberikan dukungan lebih dan selalu mengingatkan untuk mendekat ke Allah. Alhamdulillah, hal itu berhasil. Namun adakalanya saya “kambuh”, nangis seharian, tidak nafsu makan, sering kelelahan emosi & fisik.

Pertanyaannya, di saat bayi saya menginjak usia 10 bulan, apakah hal ini masih wajar terjadi? Adakah yg salah dgn saya?
JAWABAN
Mencoba berbagi yaa…

🍏untuk ibu R…
Saya sampe hampir 2tahun ngalamin “sakit” ga jelas…
Intinya sih lebih ke penerimaan…
Ikhlas menerima iya saya sedang ada masalah nih…ga usah terbawa perkataan orang bahwa kita ga boleh ngeluh, kudu strong, dlsb…
Bahkan Nabi aja pernah mengeluh lelah, mengeluh marah, apalagi kita…
Analoginya gini…
Kita kena flu…kalo kita deny “kita kuat kok” yang ada kita zolim sama tubuh, malah lebih parah tumbangnya…

Sama dengan masalah batin, bilang “aku ga ngeluh, aku harus kuat” yang ada kita zolim kepada batin kita…
Terima saja…ngeluh kalau memang kita punya tempat ngeluh, solat, menulis, curhat pada orang yang tepat..dlsb…
Badan butuh vitamin, obat, istirhat saat sakit…

Jiwa pun demikian

8. Penanya : Nurul
Pertanyaan

a.kalau anak pertama mengalami baby bluse apakah di kelahiran kedua akan mengalami hal yang sama?

b.setelah melahirkan sampai sekarang anak berumur 11 bulan masih suka lebih sensitif dri sebelumnya terutama ketika bhs ttg anak pasti gampang tersinggung dan sedih apa saya masih baby bluse soalnya dari materi yg dibaca rentan waktu baby bluse gak lama. Apakah ada batasan waktu bagi seseorang terkena baby blues?

JAWABAN
a. Gak bisa memastikan apakah akan mengalami juga..tergantung banyak faktor . yang pasti dukungan orang2 terdekat terutama suami sangat penting. juga bagaimana tuntutan lingkungan. kalo gak banyak tuntutan dan bisa memberikan dukungan tanpa syarat maksudnya harus bisa begini begitu mudah2 an gak menimbulkan baby blues. kalo pun baby blues juga ya gapapa. hadapi dan jalani aja. pastikan mendapatkan dukungan yang dibutuhkan dan menerima bahwa butuh dukungan yg bisa membantu mengurangi dampak yg dirasakan. Juga mencoba utk menemukan cara2 yang cocok buat diri sendiri utk keluar dari baby blues misalnya kalo butuh pijat. .ya panggil tukang pijat. atau pengen ketemu temen2 lama biar bisa ngobrol sambil ketawa2 ya undang temen2 ke rumah. Apa aja yg bisa bikin tenang seperti dengerin murottal..dzikir. ..relaksasi… lalu mencoba utk mengenali emosi sendiri..sejauh mana bisa merasa lebih baik.

b. kalau teorinya baby blues berlangsung sampai 2 minggu setelah lahiran..setelah itu kalo masih intens dan memburuk bisa jadi mengalami depresi postingan partum. memang kenyataannya gak lurus langsung selesai bisa turun naik. Namun jangan kuatir..apapun sebutannya yg penting adalah mengenali kebutuhan diri sendiri. jadi memang ada yg berlangsung lama . tiap orang beda2 apalagi kalau sumber stres nya di depan mata dan dukungan sosial berkurang atau gak cukup. Oleh karena butuh keterbukaan dan komunikasi yg baik dengan suami dan orang-orang terdekat tentang apa yang teteh alami dan ungkapkan harapan teteh sehingga mereka bisa mengetahui apa yang harus dilakukan utk bantu teteh. Misalnya sebisa mungkin jangan ngomongin masalah anak. Bikin sensitif. Kalo emang dirasa ada yg kurang…ya bisa minta pendapat ahli seperti dokter anak. Jadi ungkapkan lah apa yg Anda rasakan. .jangan direndam sendiri. Bila merasa sudah kewalahan dan membutuhkan ahli..jangan sungkan dateng ke psikologi untuk mendapatkan bantuannya profesional. Ingat lah ini hidup teteh..tetep pilih utk memperjuangkan kebahagiaan teteh bersama suami. Percaya pada diri sendiri bahwa langkah yg diambil seperti meminta bantuan adalah langkah yang tepat bila dirasakan rasa sedih nya menjadi dominan dan mengganggu fungsi hidup sehari hari. Seperti jadi malas segala misal tidak nafsu makan, enggan merawat bayi , enggan untuk
mandi. Nah kalo uda malas ngapa2in ini yang bahaya
semoga anak terlindungi.

9. Penanya : Teh Rani

Pertanyaan
Soal depresi post partum, mungkin terjadi karna belum siap dan terbiasa dengan pola baru, urus anak, suami, rumah dan waktu untuk diri sendiri juga. Itu jadi penyebab stress saat semuanya tidak berjalan dengan baik / keteteran. Gimana teh caranya bagi waktu untuk semua itu? Dan sejauh mana sebaiknya kita melibatkan suami?

JAWABAN

🍏Teh Rani
Justru terkadang baby blues dan PPD terjadi karena kita terlalu siap…

Semua dirancang sesuai dengan list perencanaan, saat plan A tidak sesuai maka ada plan B..tapi ternyata Qadarallah zemua plan yang dibuat tidak ada yang sesuai plan yang seems perfect tersebut…pusing lah kita..

Gimana cara bagi waktu? Prioritas…
Mana yang lebih penting? Anak dulu atau rumah dulu? Makanan atau bebenah?dst…

Sejauh mana sebaiknya kita melibatkan suami, sejauh apapun yang harus dilewati oleh sepasang suami istri…saat kita bersatu didepan penghulu..kontrak kita bukan hanya si eneng jadi istri dan si akang jadi suami..tapi sudah merupakan kesatuan…masalah istri ya masalah suami begitu sebaliknya, bahkan dosa istripun dosa suami…

Jadi sudah ga ada lagi ini masalah aku biar aku yang handle, kamu suami ga usah ikut campur…

Anak bikin bareng ya urus juga bareng2, rumah tinggal bareng2 ya urus juga bareng2…

10. Penanya : Teh Yuher

Pertanyaan
Saya mau bertanya :
1. Diskusi di grup ini sudah membahas tentang apa dan bagaimana PPD. Mulai dari mengenali gejalanya hingga solusi menuntaskannya. Nah, pertanyaan saya, sebagai orang yang mungkin kenal/tahu ibu2 yang mengalami ppd, apa yang bisa dilakukan untuk menolongnya? (Selain stop judging and bad saying).

2. Saya punya rekan di sini, kebetulan kami sedang berada di Taiwan. Rekan saya ini pengantin baru, masih muda (baru tamat S1) dan mereka berencana untuk menunda kehamilan, karena masih proses adaptasi dengan lingkungan baru. Tapi.. qadarullah… Allah beri kepercayaan dan rekan saya ini hamil. Yang saya amati dan dari curhatannya, tampaknya ada denial dari rekan ini bahwa dia hamil. Di satu sisi dia bahagia, namun di sisi lain tampak belum siap. Apalagi selama kehamilan ini selalu mual-mual dan muntah2 parah. Penciumannya jadi sangat sensitif, bau dan harum dikit (mau itu wangi makanan atau parfum sekalipun) langsung mual dan tak jarang muntah. Jadi suka nyolot dengan orang lain, kalau ada yang protes dengan kesensitifannya (ini dia langsung yang bilang), kebetulan dia tinggal di shared apartment, satu rumah ada bbrp org yang tinggal (semacam kos2an). Susah makan, karena tidak tahan dengan bau2 tadi.

Perubahan lain yang saya amati, rekan saya ini jadi kurang fokus dan sering kali seperti orang linglung. Di kampus suka jalan-jalan sendiri, ketika di tanya ada apa dia jawab “nggak tau cuma mau jalan-jalan aja”. Beberapa kelas di drop, dengan alasan terlalu berat dan dia mau ambil kelas yang ringan-ringan saja (rekan ini sedang kuliah master). Sangat senang menyendiri (sebelumnya tidak begitu), jika saya mencoba menemani dia akan mencoba mencari cara agar saya menjauh. Misalkan saat pulang, biasanya bareng, namun dia bilang “mbak duluan aja karena saya mau naik bus X”, bus yang tidak lewat depan rumah saya tp lewat depan rumah dia. Yang mana biasanya kami naik bus Y (berhenti dpn rumah sy dan dia).

Sedikit tambahan mengenai kondisi rekan saya ini, dia kuliah tidak di support dengan beasiswa 100%, sehingga dia harus bekerja part time 2 kali seminggu. Dia juga galau, bagaimana ketika anaknya lahir nanti, karena ibunya sudah wanti2, nanti anaknya dititipkan ke ibunya saja (di Indonesia). Dia tidak bisa menolak dan ibunya memang cukup dominan (seperti kedatangannya ke Taiwan, dia hanya mau menemani suami study tapi oleh ibunya disuruh sekalian sekolah juga), tapi dia pun tidak mau berpisah dengan anaknya nanti.

Saya khawatir, dengan lika-liku proses kehamilannya dan kondisinya saat ini, bisa memicu PPD nantinya. Nah, sebagai teman, apa yang bisa saya lakukan untuk membantu rekan saya ini?

Terima kasih sebelumnya dan maaf kepanjangan 😊😊

JAWABAN
Jawaban dari Teh Hanny
1. Open your hand, offer help as many as you can…
Tanyakan sesimple apa kabarmu hari ini? Gmn kamu?..dll…
Dan tanyakan “kamu mau dibantu apa?” semacam itu…
Itu sangat membantu..
Saat ibu baru melahirkan, banyak orang yang sudah heboh dengan bayinya…sebisa mungkin kita heboh dengan ibunya…misal kasih kado KHUSUS buat ibunya…bukan bayinya…itu membantu banget ibu ngerasa “finally, ada orang lain memperhatikan saya”.
Kalau dy curhat, jangan dulu lsg bikin statement “serahkan semua pada Allah, jangan ngeluh, Jangan berburuk sangka, dlsb”
Seolah yang lagi curhat ga pernah doa…kita ga tau berapa liter air mata yang sudah dia curahkan dalam doanya, kita ga tau berapa jam duduk sila dan berapa ribu istigfarnya…
Dengar saja dulu curhatannya dan cukup bilang “I’m trying to feel it” kalo emang ga ngerti mau ngomong apa..kadang orang cuma butuh telinga, butuh ‘tempat sampah’ curhat..Fitrahnya perempuan kalau ada masalah butuh sosok untuk diajak bicara…
Kalau ke rumah dy, apalagi dy ga ada ART, ga usah duduk manis, justru suruh dy yang duduk manis… “sini aku beresin rumahnya, kamu duduk manis aja…udah diem2 aja tuh aku bawain pizza, skalian ma lulur, abis makan sana luluran mumpung si dedek bobo”

Pertanyaan ke 2.
Believe it or not…faktor terbesar saya PPD waktu itu ya ibu saya..
Tapi saat ini, saya menyadari…mungkin ibu saya hanya ingin yang terbaik buat saya versi dia…dy lupa tanya terbaik yang versi saya apa…
Di sini peran suami sangat amat penting…suami saya saat itu menjadi benteng saya, menjadi tameng saya, garda perlindungan terkuat buat saya

Saya curhat dengan suami
1. mau saya seperti apa
2. Kendala yang saya hadapi untuk mewujudkan mau saya
3. Solusi yang saya punya

Minta suami untuk koreksi dan sama2 diskusi…dan setelah itu karena saat itu saya ga sanggup buat bicara dengan ortu saya sendiri, maka saya suruh suami untuk bicara, sesuai dengan apa yng sudah kami diskusikan sebelumnya…

Alhamdulillah ibu saya lebih nurut sama suami saya…

Jadi saat2 genting seperti itu peran suami sebagai pelindung keluarga sangat besar

🍏 Pada intinya proses saya healing saya 90%nya dibantu oleh suami…saya selalu jujur mengungkapkan apapun yang ada dalam diri saya ke suami..
Dan suami selalu berusaha untuk bicara juga…suami pada dasarnya tipikal introvert…tapi saya selalu ‘paksa’ dy untuk bicara apapun kepada saya…

Alhamdulillah, suami mampu menjadi garda terdepan pelindung keluarga…

Insya Allah, seorang suami sholih insya Allah akan mau bertanggung jawab terhadap keluarganya lahir dan batin…

Cumaaaaa….

Suami itu butuh dikasih tau, kadang problemnya adalah…

Suaminya ga tau, kitanya gengsi ga mau kasih tau tapi berharap suami tau…

Buibu, suami kita bukan cenayang atau tokoh drama korea yang ga dikasih tau langsung paham maunya perempuan 😁

Jawaban Teh indah

Yang bisa didilakukan juga adalah membantu mengenali diri kawan/teman kita, kadang- kadang orang memang butuh umpan balik untuk membantunya melakukan hal – hal yang baik bagi dirinya sendiri. Juga membantu memberikan infomasi yang benar tentang berbagai hal seputar kehamilan atau melahirkan tanpa bermaksud mengajari. Kadang2 beredar mitos2 yang gak benar dan membebani calon ibu dan ibu yang melahirkan, misallnya sebelum 40 hari setelah melahirkan gak boleh keluar rumah nanti sawan. Atau gak boleh minum es krim nanti pilek. Bisa saja memberikan majalan atau buku2 bacaan ringan untuk dibaca dikala senggang sebagai hiburan, juga sekedar menemani dan mendengarkan keluh kesahnya saat ada masalah tanpa banyak memberikan komentar. Kadang2 orang hanya butuh didengarkan. Juga termasuk memberi ruang gerak pribadi bila ia sedang ingin sendiri.
utk masalah teman nya..tampak nya memang cukup pelik ya teh. Namun bukan berarti gak ada jalan keluar. Yup benar tampaknya dia gak siap menerima kenyataan bahwa sudah hamil sementara dia punya banyak rencana yg bisa jadi terhalang dengan adanya situasi ini. Pada dasarnya selalu ada hal2 di luar kendali kita bahwa kalau akhirnya hamil berarti kita meyakini bahwa ini kehendak Allaah juga. Artinya ya memang dia harus menyesuaikan dengan situasi ini dan mencoba utk lebih realistis dan mengatur ulang rencana2 ke depan
Keinginan nya utk terus menyendiri mungkin dia sedang bergulat dengan konflik yg ada di dalam dirinya. Berikan saja ruang utk dirinya. ungkapkan bahwa anda memiliki kepedulian pada nya namun memberi kesempatan pada dia utk menentukan apa yg bisa dibantu . Orang akan lebih merasa nyaman bila punya kendali atas hidup nya sendiri meski buat orang lain sepertinya kok mau dibantu susah amat sih. Karena hal itu mempengaruhi kepercayaan dirinya yg awalnya saja sudah bergulat dengan banyak hal utk memutuskan ikut suami di negeri orang
Jadi kalau kita mau membantu kita pastikan tidak membuatnya merasa tidak berdaya
Ya saya pikir dia harus membicarakan berdua suaminya utk mengambil keputusan2 penting bagi keluarga kecil mereka sendiri. Yang bisa kita bantu adalah memastikan dia mendapatkan bantuan bila dia membutuhkan.
Selain itu sadari biar bagaimana kita adalah orang luar. Boleh saja mengingatkan untuk berhati2 dalam bersikap khususnya terhadap orang lain krn ada di negeri orang. biar bagaimana pun orang lain juga berhak merasa nyaman khususnya bila berbagi apartemen.

KESIMPULAN
βœ” Karena hamil , melahirkan dan pasca awal setelah melahirkan memang fase fase yang kritis terhadap berbagai perubahan tidak hanya fisik namun juga psikis

βœ” Pengenalan diri sangat berperan penting dalam proses pemulihan jiwa

βœ” Untuk menciptakan lingkungan sekitar yang kondusif diperlukan keterampilan berkomunikasi yang efektif agar interaksi dengan orang orang di sekitar terjalin dengan baik

Senam Hamil dan Hikmah Gerakan Sholat

Jika kita meneladani persalinan Maryam yg sudah dibahas sebelumnya, menjelang persalinan ibu hamil sebaiknya tetap aktif beraktifitas yg dapat mendukungΒ kelancaran proses persalinan kelak. Tapi, tahukah Bu, gerakan sholat yg setiap hari kita tunaikan juga memiliki manfaat yg gak kalah dari senam hamil, lho! Berikut ini di antaranya:

1. Lamakan gerakan rukuk

Untuk ibu hamil yang sering merasakan sakit pada punggung dapat menggunakan gerakan rukuk dalam waktu tertentu untuk mengembalikan posisi ruas-ruas tulang punggung ke tempat yang benar sehingga dapat meringankan rasa sakit.

Rukuk yang benar yaitu punggung lurus dan sejajar dengan kepala.

rukuk

Dengan latihan rukuk selama 3 menit, kita akan mendapat manfaat berikut:

Continue reading

Meneladani Persalinan Maryam

Mengacu pada Al Quran QS Maryam: 22-26:
β€œMaka Maryam pun mengandunglah, lalu dia menyisihkan diri dengan kandungannya ketempat yang jauh (22).

Maka rasa sakit akan melahirkan memaksanya bersandar ke pangkal pohon kurma, seraya berkata: Wahai alangkah baiknya jika aku mati sebelum ini dan jadilah aku seorang yang tak berarti, lagi dilupakan (23).

Maka menyerulah dia (Malaikat Jibril) dari tempat yang rendah; Janganlah kau bersdih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah mendekatkanmu dengan anak sungai (24).

Dan goyanglah pokok pohon kurma itu kearahmu, niscaya pokok kurma itu akan menggugurkan kepadamu kurma yang telah ranum (25).

Maka makanlah dan minumlah dan senangkanlah hatimu. Maka jika engkau melihat ada manusia katakanlah: Sesungguhnya aku tlah bernazar dihadapan Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini(26)”.

Lalu, apa hikmah dari Surat Maryam di atas terkait persalinan?

Continue reading

#PojokIlmuCeria: Suami-Istri

Notulis:Β Adytya Geuneung

Hari, Tanggal, Waktu: Rabu, 25 Januari 2017, pukul 20.00-22.00 WIB

Narasumber: Bunda Kaska

PrologπŸ’•

Bismillaah

As if we were strangers

Ada masa dimana…
Mungkin dia yg dulu begitu kau cintai dirasa menjadi biasa saja.

Ada masa dimana…
Mungkin dia yg dulu begitu kau hargai dirasa menjadi tak berharga dan seolah mudah digantikan oleh orang lain.

Ada masa dimana…
Mungkin dia yg dulu sangat kau jaga hatinya mendadak kau tak mau tau jika ucapmu menyebabkan sakit di hati.

Ada masa dimana…
Mungkin dia yg dulu terasa indah dan menyenangkan lantas dirasa memuakkan dan kau malas untuk sekedar memandang wajahnya.

Ada masa dimana…
Mungkin dia yg dulu dirayu semanis mungkin mendadak ingin kau beri sikap seketus mungkin.

Ada masa dimana…
Mungkin dia yg dulu wajahnya dirasa meneduhkan mendadak bagaikan api yg menyala nyala.

Inilah kisah suami istri.

Yang memang tidak akan selalu indah.

Bertahun tahun hidup dengan orang yg sama, bukan berarti akan lantas menjadi sama.

Perbedaan akan ada.
Dan akan terus ada.

Pertanyaannya.

Apa yg mau dicari?
Perbedaan atau persamaan kah? Continue reading