Notulensi Kulwap Pojok Ilmu Ceria -Renungan Akhir Tahun

Profil Narasumber, Karina Hakman

Sedikit background tentang saya.. Saya lahir di Bandung, 5 Jan 89… Sempat kuliah sebentar di Manajemen FE Unpad 2007. Kemudian alhamdulillah melalui beasiswa penuh dari New Zealand Education dan Sampoerna Foundation, saya bisa pindah sekolah S1 ke University of Auckland tahun 2009. Saya resmi menjadi Bachelor of Commerce tahun 2013.

Setelah melalui perjuangan yang panjang (curhat), hehe… alhamdulillah orangtua saya mengizinkan saya untuk menikah pada tanggal 4 Januari 2014, dengan catatan saya tetap harus lanjut s2 (alhamdulillah saya sudah keterima di Monash University untuk s2 kala itu). Dengan bantuan dari Beasiswa Penuh LPDP, alhamdulillah akhirnya saya bisa memulai kuliah s2 di awal tahun 2015 sampai 2016.

alhamdulillah ‘ala kulli hal, di bulan pertama kuliah saya, saya hamil lagi (yusuf usia 3 atau 4 bulan). 🙂 jadilah saya resmi menyandang gelar student-pregnant-nursing-mom, hehe… alhamdulillah beres kuliah awal 2017 ini.

Aktivitas selama di Indo:
Per bulan agustus sampai 15 desember saya mengajar di Manajemen SDM di FTIP Unpad (sebagai dosen LB) dan di FE Unpad (Calon Dosen Tetap non PNS). Setelah saya resign, sekarang aktivitas saya mostly berkenaan dengan anak2, sambil tetap menjalankan aktivitas pekanan (pengajian), juga sebagai independent researcher, dan sekarang sedang dalam proses membuat program pembinaan bagi ortu atau calon ortu yang mau homeschooling (Mohon doanya).

Renungan Akhir Tahun, oleh Karina Hakman

Pertama, bagi saya pergantian tahun baik tahun hijriah maupun masehi adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang telah menciptakan matahari, bumi, dan bulan dengan edarannya masing-masing. Sehingga, setiap moment2 yang menekankan tanda kekuasaannya, bagi saya menjadi moment untuk kembali mengulangi muhasabah2 dari moment2 lain (ramadhan, idul fitri, idul adha, kelahiran Rasulullah SAW, tahun baru hijriah dan moment2 lainnya).
Perempuan, baik yang belum menikah, sudah menikah, maupun sudah memiliki anak dan cucu, tetap memegang peranan penting bagi peradaban. Perempuan yang shalihah, maka ia akan menjadi perhiasan dunia terindah mengalahkan perhiasan apapun. Perempuan yang tidak shalihah, maka keberadaannya akan menjadi fitnah bagi dunia.
Sudah menjadi target bagi syaitan untuk mencari celah-celah memasuki hati para perempuan, agar ia mau mengenyampingkan Allah, lebih cenderung kepada keinginan syaitan, dan akhirnya akan semakin mengikuti langkah-langkah syaitan.

Terkait tahun baru saat ini, ada beberapa tren yang saya pribadi memberikan catatan lebih kepada diri saya. Tren2 ini yang saya rasakan sangat mungkin menjadi celah masuknya godaan syaitan bagi saya pribadi.

1. Semakin menjamurnya pasar.
Dari salah satu ustadzah kehidupan, saya belajar bahwa Rasulullah mengajarkan kepada kita doa masuk pasar:
LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAH, LAHUL-MULKU WA LAHUL-HAMDU, WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIIR
Artinya: “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya dan Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu”
Siapa yang membaca doa di atas ketika masuk pasar, Allah akan mencatat untuknya satu juta kebaikan, dan menghapuskan darinya satu juta keburukan.” (HR. Ath-Thabrani)

Salah satu hikmahnya adalah, pasar adalah ladang syaitan mengajak orang untuk berbuat curang (baik penjual maupun pembeli), berleha-leha / membuang waktu, boros (membeli di luar kemampuan), dan tabdzir (membeli yang tidak perlu).
Ketiga hal tadi sangat mungkin menjadi cela masuknya syaitan. Dan ketika syaitan sudah masuk, maka sangat mudah hati akan tergelincir penyakit-penyakit lainnya.
Pasar di sini tentulah bukan hanya pasar tradisional, namun termasuk juga pasar online, berbagai barang dagangan yang tersuguhkan di pinggir jalan, dst.
Dari penyakit curang dalam treansaksi, maka akan menghilangkan keberkahan dari barang atau rezeki yang di dapat. Dari waktu berleha-leha yang terbuang sia-sia, maka akan mengurangi produktivitas, membuka hati untuk lintasan-lintasan tidak baik, karena hati sedang dalam kondisi rentan (tidak mengingati Allah. Dari sifat boros dan tabdzir tadi, maka akan lahir masalah keungan atau masalah hawa nafsu yang semakin menjadi. Hati menjadi kian jauh dari syukur, senantiasa merasa tidak puas, cenderung kepada membanding-bandingkan antara kepemilikan diri dengan orang lain, yang hal ini termasuk dari penyakit dunia (lihat QS Al Hadid: 20).

Kesemua sifat tadi adalah sifat yang sebaiknya kita usahakan menjadi wara atasnya. Baiknya kita menundukkan pandangan terhadap berbagai hal yang syubhat, mengatur harta keluarga dengan bijak, memperbanyak sedekah untuk keberkahan harta, dan mendoakan agar Allah menjaga keberkahan rezeki keluarga.

2. Tren berikutnya adalah masalah gadget dam SocMed.
Dan gadget ini bukan ditujukan kepada anak, tapi kepada para gadis, para istri, para ibu, para suami, juga para ayah.
Dulu, saya pikir yang keranjingan gadget hanyalah anak-anak muda saja.. 🙂 tapi ternyata, seringkali berulang kali, baik itu di tempat makan, tempat main, taman, bahkan masjid… saya menemukan keluarga yang semuanya sibuk dengan gadget. Jangankan keluarga, bahkan anak-anak remaja sesama rekan, duduk bersama, semuanya pegangn gadget. Bahkan orang yang pacaran pun (maaf), ternyata sama-sama pegang Gadget. Bahkan pada saat makanpun, masih dengan Gadget.
Yang menariknya lagi, dalam pertemuan-pertemuan itu, akan ada masa-masa tertentu dimana semuanya akan berhenti dari gadgetnya, tetiba menjadi super akrab, dan itu adalah saat pengambilan foto. Kemudian masing-masing akan kembali dengan gadgetnya, mungkin mengedit, atau sharing foto, dsb. Subhanallah…
Hapunten kalaulah ada yang menganggap itu sebagai perkara biasa. Bagi saya, hal tersebut sangat mungkin akan menajdi pemicu berbagai permasalahan lain. Dari berbagai potensi masalah, yang mengkhawatirkan adalah ketika kurangnya komunikasi langsung antar keluarga dan rekan secara langsung (1), sehingga memunculkan kurangnya pemahaman antara satu dengan yang lain (2), dan masing-masing lebih nyaman dalam dunia maya rekaan (3).

Terlebih bagi yang sudah berkeluarga, intensitas komunikasi dan kedekatan personal antar individu menjadi penting. Ketika pikiran selalu terikat dengan gadget, khawatirnya, hati dan pikiran sudah sulit untuk diajak berpikir lebih dalam tentang urusan-urusan yang lebih penting. Urusan terkait apa sebetulnya tujuan kita untuk hidup, implementasi seorang hamba dan khalifah apa yang mau kita ambil, kemana keluarga akan kita bawa, sudah benarkah yang kita lakukan selama ini, dan seterusnya.
Ketika urusan-urusan besar tidak menjadi bahan pemikiran utama, khawatirnya, baik individu maupun keluarga, akan menjadi mudah terbawa arus. Apa yang menurut “dunia saat ini” adalah baik, maka itulah baik, dan itulah yang akan diikuti.
Padahal, dunia akhir zaman adalah dunia yang semakin dipenuhi dengan fitnah berlatar “abu-abu”, 🙂 yang terkadang tak nampak jelas benar dan salahnya. Naudzubillahimindzalik.

3. Ilmu agama yang masih terasing 🙂
Di tengah fitnah yang semakin “abu-abu” tadi, saya secara pribadi masih merasa sangat kekurangan Ilmu. Entah bagaimana dengan rekan-rekan lainnya…
Di dalam QS. Al Kahfi, diceritakan bahwa sekelompok pemuda berhasil lari dari fitnah, dengan bersembunyi ke sebuah gua. Dengan seizin Allah, mereka tidur dalam kurun waktu 309 tahun. Hal yang sangat ajaib bagi logika manusia,. Namun dalam salah satu kajian tafsir terkait QS Al Kahfi, ayat 9 dari QS. al Kahfi tersebut “Apakah kamu mengira bahwa orang yang mendiami gua, dan mempunyai raqim itu, tanda-tanda kebesaran Kami yang menakjubkan?” ==> adalah pernyataan sarcasm… bahwa Allah menyatakan bahwa hal itu mudah bagi Allah. Namun yang merupakan hal menakjubkan justru adalah Al-Quran, yang akan senantiasa menjadi bimbingan yang lurus (ayat 2), tidak akan pernah goyah (ayat 1), dan menjadi kabra gembira bagi orang mukmin (ayat 2).

Allah justru memuji DiriNya sendiri, ketika berbicara tentang Al-Quran “Segala puji bagi Allah, yang telah menurunkan Al-Quran kepada hamba-hambaNya, dan Dia teidak menjadikanNya bengkok” (Ayat 1).
Dalam kajian tafsir ayat ini menyiratkan bahwa dalam kondisi fitnah sekuat apapun, Al Quran adalah sumber segala ilmu untuk keluar dari fitnah tersebut. Para pemuda Al Kahfi dapat menemukan gua untuk lari dari fitnah. Dan para ummat Rasulullah SAW memiliki Al -Quran sebagai tempat menyelamatkan diri.
Sayangnya, justru ilmu Al-Quran yang saya pribadi paling sedikit saya miliki. Sejak TK, SD, hingga dewasa, sangat sedikit ilmu Al Quran yang betul-betul kita pelajari. Yang bukan hanya teori, namun juga praktek. Padahal, tidak ada yang Rasulullah SAW tinggalkan kepada kita, umat akhir zaman, kecuali dua hal: Al Quran dan Sunnah..

Saat ini, sangat banyak keluarga yang mampu membelikan anak-anaknya buku-buku seharaga jutaan. Namun hapunten, sepertinya masih jarang para keluarga yang turut juga membeli buku tafsir lengkap, atau syarah (penjelasan) hadits lengkap Fathul Barri yang harganya kurang lebih sama dengan harga-harga buku anak.
Saat ini, banyak juga orangtua yang bersungguh-sungguh menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah Quran, namun orangtuanya sendiri tidak memiliki halaqah tahfizh Quran. Ingin anaknya ikut les tambahan di akhir pekan, namun orangtua sendiri berat melangkahkan kaki ikut kajian pekanan. Ingin anaknya rajin membaca, diajarkan buku sejak usia 1 tahun bahkan sejak bayi, namun orangtuanya sendiri masih enggan menyentuh buku yang tebalnya mungkin 500 -700 halaman itu.
Padahal, Al Bukhari pernah memberi nasehat bahwa Ilmu adalah sebelum perkataan dan berbuatan. Dalam penjelasannya, kalimat tersbut merupakan kesimpulan yang diambil dari ayat Al Quran Surah Muhammad: 19.. yang dimulai dengan “ilmuilah”.
Bahkan, ada banyak ayat Al Quran yang dimulai dengan perkataan “I’lamu..” ilmuilah..
Bahkan, Allah menjelaskan sifat DiriNya, di dalam QS Ar-Rahman, bahwa Ar-Rahman adalah yang “‘allamal Quran” mengajarkan Al Quran. 🙂
MasyaAllah kan… inilah sedikit curahan renungan diri terkait pentingnya ilmu..

Dari ketiga perkara di atas, ada beberapa hal yang menurut saya menjadi PR…
1. Refokus kehidupan kepada perkembangan keluarga.
Hapunten kalau ada yang kurang setuju, tapi setidaknya itulah yang saya rasakan. 🙂 Re-fokus tidak hanya sekali waktu, tapi mungkin berulang-ulang.
Ada begitu banyak pengharapan yang ingin kita capai dalam dunia. Tapi menyadari dunia yang semakin menginjak akhir zaman, saya merasa kebutuhan untuk membangun keluarga yang kokoh semakin tinggi.
Maka, menjadi sangat penting untuk kemudian benar-benar memikirkan,
apakah kondisi operasional harian saat ini baik-baik saja?
apakah kondisi fisik dan psikis anak baik-baik saja?
apakah kondisi komunikasi keluarga baik-baik saja?
apakah seperti ini keluarga yang kita idam-idamkan?
Berangkat dari sana, harapannya akan muncul muhasabah terhadap berbagai hal dari yang rinci hingga umum, dari yang strategis hingga taktis.

2. Mengilmui dan mengamalkan obat-obat hati..
Apa saja?
Sederhananya: senantiasa dalam syukur, sabar, tawakkal, optimis.
Prakteknya: meningkatkan kualitas shalat, memperbanyak dzikir, dan mendisiplinkan waktu untuk bisa senantisa beramal shaleh.
Amunisi tambahannya: Senantiasa belajar, baik membaca buku, maupun mengikuti kajian pekanan.
Booster finaslisasinya: Istiqamah dalam infaq dan shadaqah

Celah Masuknya Syaitan Dalam Keluarga Kita
Ilmu sihir itu ada dan nyata (lihat QS. Al-Baqarah: 102).
Dan keluarga adalah salah satu sasaran utamanya.. Allah bahkan menjelaskan bahwa sihir digunakan syaithan untuk memisahkan antara seorang istri dan suami.
Sebegitu pentingnya kah ikatan suami dan istri?
Iya.. Allah menyebutnya sebagai Mitsaqan Ghalizha (lihat QS. AN-nisa: 21), perjanjian yang teramat kuat, yang Allah setarakan dengan perjanjian antara Allah dengan para Rasul Ulul Azmi: Muhammad SAW, Nuh a.s, Isa a.s, dan Musa a.s (QS. Al-Ahzab: 7).

Melalui pernikahan, Allah membuka peluang seluas-luasnya bagi laki-laki maupun perempuan beriman untuk menggapai pahal dalam setiap amal suami istri, hinggakan genggaman jari jemari pun menjadi pahala.
Melalui pernikahan pula, Allah karuniakan sakinah (ketenangan), mawaddah (gelora cinta), dan Rahmah (cinta kasih) yang menjadi salah satu mesin penggiat dakwah untuk terus berpacu dalam setiap waktu. Dan melalui pernikahan, kader demi kader Rabbani dilahirkan, dibina, dsn menjadi tentara yang dimusuhi syaithan hingga ke akhir zaman.

Dengan kriteria di atas, pernikahan sungguh bukan coba-coba, atau permainan belaka. Bagi syaithan, adalah prestasi untuk merusaknya.
Salah satu celah masuknya syaithan adalah dengan memasukkan benih-benih putus asa dalam hati para insan. Dari benih itu, diberilah pupuk kekecewaan, air kegagalan, bisikan bisikan ketidakmampuan, teruuus oleh syaithan dirawat lah benih tersebut agar ia tertuai menjadi putus asa yang mengantarkan pernikahan kepada keputus asaan.

Dalam pernikahan, ujian adalah hal yang memang patut untuk diyakini keberadaannya, baik.ujian kemudahan maupun kesempitan.
Masing-masing keluarga akan diuji dengan ujian terbaik yang Allah hadiahkan untuknya.

Ada yang bergelimah rezeki nan barakah, namun buah hati tak kunjung hadir.
Ada yang dimudahkan dalam memiliki anak, namun diuji dengan kecukupan ekonomi yang tak sebanyak orang lain.
Ada yang mudah anak, mudah rezeki, namun diuji dengan mertua atau orang tua, atau tetangga, atau pekerjaan, atau atau dan atau…
Bahkan, ada yang diuji dengan istidraj, yakni diberinya kesenangan dari segala arah, hingga ia makin menjauh dari Allah SWT (naudzubillahi mindzalik).
Bahkan Nabi Ibrahim a.s bersama Sarah istrinya, diuji dengan tidak memiliki keturunan hingga ia berusia lanjut (lihat QS. Al-Hijr: 55). Namun dalam ketaatan, tawakkal, dan ikhtiyar ikhlas berterusan, Allah menjawab dengan sebuah kabar gembira, yakni Allah karuniakan Ishaq pada rahim Sarah, yang kemudian lahirlah dari garis keturunan Ishaqyakni Ya’Qub, Yusuf, Musa, hingga ke Isa a.s.

Dan dalam peristiwa tersebut, Nabi Ibrahim a.s memberi nasehat yang begitu indah:
“..Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang yang sesat” (QS. AL-hijr: 56).

MasyaAllah..
Inilah karakter sejati seorang mukmin. Dalam apapun juga keadaan, tafa’ul (optimis) adalah pilihannya. Saja’ah (berani) dan Tawakkal menjadi bagian ruh dari langkahnya. Sakinah (ketenangan) menjadi nada-nada dalam alunan kehidupannya.

Dari sinilah kita belajar,
Untuk tetaplah berharap.. karena harap adalah bagian dari iman kepada Allah sebagai Rabb. Untuk tetap meletak harap hanya kepada Allah, Rabb yang Maha Memelihara, Maha Menjaga, Satu-satunya yang dapat memastikan bahwa kita baik-baik saja.

Sungguh, adalah iblis yang menginginkan kita untuk berputus asa sebelum kita sendiri. Ialah yang membujuk rayu agar kita pesimis, patah semangat, merasa tak mungkin lagi ada jalan keluar terhadap urusan2 kita. Seorang mukmin yang meyakini Allah sebagai Rabb…

Ia tidak akan gentar dengan ujian dan tantangan, karena ia yakin, bahwa bersamanya ada Allah yang menciptakan setiap ujian. Ia pula tidak congkak merasa bisa dengan segala karunia yang Allah titipkan padanya, karena ia yakin, bahwa tak ada daya upaya melainkan datang dari Allah, Rabbnya.
Bersama Allah, setiap mukmin senantiasa dalam taqwa. Penuh harap terhadap rahmat dan ridhaNya, sekaligus mawas berhati-hati agar tak terjerumus kepada godaan iblis dan para pengikutnya.

Bersama Allah, setiap mukmin senantiasa berada dalam sakinah (ketenangan), saja’ah (keberanian), dan tafa’ul (optimis).. Semoga Allah jadikan kita sebagai salah satunya… Allahumma Aamiin. Allahualam bishawab…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s