Notulensi Pojok Ilmu Ceria- Tanya Jawab tentang Kulwap Renungan Akhir Tahun

Berikut notulensi tanya jawab bersama teh Karina Hakman

Pertanyaan Pertama
dari rangkuman yang diberikan oleh momod, mau menanyakan bagaimana agar perempuan yang belum menikah/sudah dapat istiqomah dalam segala hal yg sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah?

Jawab:
Pertama, baik belum atau sudah menikah, masing-masing memiliki kesempatan yang sama untuk istiqamah. Termasuk yang sudah punya anak, tak memiliki aladan di hadapan Allah utk kemudian tidak istiqamah.
Kedua, masing-masing orang akan memiliki cara sendiri untuk tetap istiqamah. Tapi dari yang saya pelajari, minimal, harus ada amalan2 ini yang tidak ditinggalkan:

1. Shalat wajib yang senantiasa dikuatkan kualitasnya. Meski kita telah belajar shalat dari SD, tidak menjamin shalat kita sempurna. Menguatkan kualitas shalat, akan melahirkan khusyuk dan nikmat, dari sana akan lahir keinginan menegakkan “shalat” di antara waktu2 shalat, yang kemudian menjadi tameng dari perkar keji dan mungkar (lihat QS. Al Ankabut:45)
termasuk bagi para Ibu, saya sangat tersentuh dengan nasehat teh Patra (fb Yuria Cleopatra) bahwa jangan menjadikan anak sebagai alasan mengurangi kualitas shalat. Sebisa mungkin kita usahakan shalat seikhlas mungkin, se ontime mungkin, serapih mungkin, lengkap dengan sunnah dan dzikir.

2. Halaqah/kajian Intensif pekanan.
Syaitan itu suka dengan yang bersendirian, yang lebih mudah digoda, karena tak ada yang menjaga, melindungi, dan meningatkan. inilah salah satu hikmah, bahwa kaum tidak merugi adalah yang senantiasa saling nasehat menasehati dalam kebaikan (lihat QS Al Asr), kaum yang kemudian dicintai Allah adalah yang berada dalam barisan/Shaf yang rapi seperti suatu bangunan yang kokoh (lihat QS. Ash-Shaf; 4).. ditambah dengan tarikan2 godaan2, setidaknya minimal sepekan sekali kita diingatkan untuk tilawah, untuk muhasabah (ketika mengisi lembar mutabaah), untuk mengingati Allah (melalui nasehat), untuk bersyukur (melalui silaturahim), dst.

3. Secara rutin membaca Al Quran setiap hari (dengan penjelasan di atas)

4. Cari amalan andalan apapun itu yang paling cocok dengan kita, dan istiqamahlah, walaupun hanya sedikit, walaupun sepertinya kecil. Allah tidak akan bosan dengan amalan yang sedikit be menurut kita, Allah justru suka dengan amalan yang sedikit tapi konsisten.
amalan andalan tak mesti dalam bentuk yang bisa dihitung,bisa dari akhlak, amalan hati, dst. intinya… bagaimana kita bisa terus beramal shaleh, karena satu amal shaleh akan membimbing kepada amal shaleh berikutnya.
Pertanyaan Kedua
bagaimana cara untuk mengajak saudara /i kita dalam kebaikan tanpa membuat ia merasa sakit hati? karena berharap kebaikan yg kita dapati dapat dirasakan oleh saudara /i kita yg belum mendapatkan kebaikan tsb?
Jawab:
alhamdulillah sudah ada niatan mengajak orang lain..
secara ringkas adab mengajak orang lain ada di QS An Nahl: 125 dan QS. Thaha : 42-46.

Secara ringkas intinya adalah:
1. luruskan niat untuk mengajak orang kepada jalan Allah. Yang terpenting dia ingin ada di jalan kebaikan, masalah sampainya kapan, itu adalah kekuasaan Allah dan hati manusia. (QS.16:125)
2. Jangan lalai mengingati Allah (QS. 20:42)..
Salah satu nasehat awal2 Allah kepada Musa yang akan menghadap Firaun ternyata adalah “jangan lalai mengingati Allah” πŸ™‚
3. Nasehati dengan cara yang ahsan (Thaha: 44, An Nahl 125)
Kenali dulu, bangun hubungan hati, kemudian bangun rasa tsiqah (percaya), dan sampaikan dengan perkataan yang lembut… 😊 karena bahkan kepada Firaun saja, Allah titipkan kepada Musa agar berbhcara dengan lemah lembut…
4. Berdoa..
di ayat yang sama (44) , Allah menyampaikan yang artjnya “mudah-mudahan dia sadar atau takut”
5. Memohon petunjuk dan Tawakkal kepada Allah.. πŸ™‚

Karena tugas kita hanya memberi peringatan, dan hanya Allah yang mengetahui jalan terbaik. maka tidak ada pilihan selain kitalah yang lebih dahulu menguatkan hubungan dengan Allah, memohon petunjuk dari Nya, mengamalkan dakwah di jalanNya, dan tawakkal kepadaNya. Allahualam bishawab..
jika dia belum bersedia, ada dua kemungkinan,
1. bisa jadi kita yang belum optimal mengimplementasikan poin 2-5.
2. bisa jadi memang hatinya yang belum terbuka..
tapi hakikatnya dalam menasehati kita hanyalah seorang penasehat, yang memang harus bersabar. Kayaknya kita nggak ada apa2nya kalau dibanding Nabi Nuh yang ratusan tahun berdakwah.. 😊 dan terkadang, hasil dari nasehat kita baru berbuah di kemudian hari, sehingga nggak ada yang sia2..Allahualam bishawab..

Pertanyaan ketiga
Assalamualaikum teh Karin, perkenalkan nama saya Kania. Saat ini alhamdulillah tabarakallah saya sudah memiliki putra usia 7 bulan. Akhir tahun ini inshaAllah dibuka kelas tahsin Quran yang letaknya dekat (kurang lebih satu jam dari rumah tempat tinggal), saya ingin sekali bergabung namun suami berharap saya ikut kelas dan jauh setelah putra saya minimal 1 tahun. Disatu sisi saya ingin sekali bergabung dengan kelas tersebut mencoba mendaftar (belum tentu diterima). Namun disisi lain, saya paham bahwa apa yang disampaikan suami merupakan perintah yang harus saya taati. Tapi saya tau sekali ilmu saya sangat kurang.

Jawab:
Pertama, suami ditaati untuk hal yang pasti baik, dan tidak perlu ditaati untuk yang jelas kemungkarannya.
Dalam hal ini, sebetulnya suami setuju namun tidak sekarang. Sehingga langkah pertama mungkin perlu didiskusikan dulu, apa alasan dibalik penundaan itu. 😊 Barangkali, siapa tahu ada urusan teknis yang menjadi kendala, atau kekhawatiran semata.
2. coba dicari dulu solusi atas kendala tersbeut (jika ada), atau coba berstrategi untuk meyakjnkan suami agar tidak khawatir (jika khawatir yang menjadi masalahnya).
3. Dari hal tersbut cb istikharahkan dan musyawarah ulang terkait hasil terbaik.
4. Kalau sudah ada putusan, tawakkal saja.. kalau bisa tahsin langsung alhamdulillah, kalau harus ditunda, banyak cara lain..

Pertanyaan ke-empat
Bagaimana pendapat & saran teteh agar saya bisa belajar quran saat ini agar maksimal? Jujur saya belum tau caranya selain istiqamah baca quran.
Jawab:
Hak al Quran adalah dibaca, dihafalkan, dipelajari tadabburi, diamalkan, dan diajarkan. maka selain membaca, bisa infaqkan sedikit waktu dan uang utk membeli paket data, untuk mendengarkan tafsir Quran via youtube… infaqkan juga waktu dan tenaga untuk hadiri majelis2 Quran… karena belajar Quran memerlukan guru..dan belajar apapun, nasehat Imam Asy-Syafii, bagi para penuntut ilmu: miliki niat yang ikhlas, Infaq harta, kemauan yang keras, kesungguhan (waktu tenaga dst), adab kepada guru.

sambil belajar, sambil ajak2 juga suami utk ikut menikmati.. kalau ke kajian offline ajak pula suami.. dan berikan kesan dan sikap yang baik terkait aktivitas bersama Quran.. misal, dengan dekat dengan Quran, kita jadi merasa lebih stabil secara emosi, lebih tenang, gak suka marah, nggak suka boros, dsb… semoga suami makin semangat mendukung dan ikutan.. hehe.. Allahualam.. tetap semangat..

Pertanyaan ke-lima: Manajemen Gadget Keluarga
Berkaitan dengan gadget. Sekarang ini banyak sekali kelas belajar jarak jauh. Seperti mata uang dengan dua sisinya. Kami para ibu yang selalu butuh tempat berbagi, dan butuh mengupgrade keilmuan sangat terbantu dgn fasilitas ini.
Sekilas tampak mudah, kami tidak perlu keluar rumah meninggalkan anak2. Tapi pada prakteknya, kelas online juga (sering) menyita waktu kami. Kadang di depan anak2 kami tetap memegang gadget, yang dilarang bagi mereka.
bagaimana cara kita menggunakan gadget dengan bijak? Ingin ikut belajar online, tetapi anak belum tidur, bagaimana menggunakan gadget di depan anak? Ataukah sebaiknya memang hanya menggunakannya setelah anak tidur atau anak tidak ada, misalnya sedang sekolah atau bersama ayahnya? Kalau menurut pengalaman teh Karin, bagaimana?
Jawab:
Sebetulnya tolak ukur Gagdet adalah visi misi keluarga yang ingin dicapai oleh ortu dan kondisi anak.

Artinya.. Setiap keluarga bisa saja memiliki standar yang berbeda2… 😊
Ada keluarga yang mgkin tidak masalah dengan Gadget sekian wakti, atau sekian keadaan. Berhubung pertanyaan terkait pengalaman sendiri, hapunten izin curhat testimoni pribadi ya hehe.. πŸ™‚
Kalau Yusuf Maryam adalah tipe anak yang kalo dosis Gadgetnya agak kebanyakan, maka mereka jadi gampang emosian, gak fokus, dan BT hehe..
Jadi, kami memang sejak awal menikah sampai skrg gak pakai TV. Dan sehari2 anak2 memang gak ada sesi Gagdet (Youtube, games, dkk). Sesi media nya anak2 biasanya seminggu sekalk kalau berkunjjng ke tempat Utk Kakungnya, buat nonton acara2 Cebeebies. Itupun gak bertahan terlalu lama. udahannya mereka bosen sendiri.. hehe…
Lalu, gimana cara saya beraktivitas?
Dari pengalaman dan belajar dr rekan keluarga yg lebih senior,
di sinilah pentingnya mendiskusikan dengan suami:
1. Visi misi keluarga
2. Support System utk bisa mencapai itu, termasuk di dalam support sistem adalah ttg bagaimana kita akan beraktifitas. kalau memang salah satu misi nya adalah mengatur pemakaian Gadget, maka suami harus ikut menjadi bagian dari manajemen penggunaan Gadget.

Di rumah kami, kurang lebih ada beberapa peraturan tidak tertulis:
1. Kalau salah satu lg ada perlu serius dengan Gadget, maka silahkan cari space di luar wilayah main anak2, dan uang satunha lagi jagain anak2. Seperti sesi kulwap kemarin, atau sesi menulis tadi siang, saya izin menyepi dulu sama Pak Su πŸ˜…
2. Selama nggak urgent, kalau membersamai anak2, Gadget kami lepas saja… biarkan dia tergeletak di somewhere yang aman. Sesekali di tengok barangkali ada yang penting. atau dipakai untuk dokumentasi.. Dan tunggu sampai ada waktu yg telat utk balas.
Contoh:
Hari ini dr jam 6 pagi saya udah ada kajian wajib, πŸ˜ŠπŸ‘Œ kemudian sesi playground bareng anak2, kemudian siang td udah ‘nyesek’ perlu curhat jd nulis yang di atas td dulu hehe, sorenya ngurusin makan anak2, daaaaaaan setelah itu suami pergi mabit, jadi saya yang full ngurusin anak2 di rumah.. artinya, harus sabar nungguin mereka bobo.. *walopun saya ketiduran sebenernya sambil tadi ngeboboin hehe..
3. Kami ada aturan membudaya tak tertulis klo lg ngobrol dan makan gak ada yang pegang Gadget… baik anak maupin ortu
4. Terakhir, untuk setiap kegiatan selain apapun bentuknya,
sebelum saya approve atau merencanakan, saya tanya dulu sama suami, beliau bisa pegang anak2 tidak… kalau ternyata tidak bisa, saya harus ngukur, bisa kah saya pegang anak2 sendiri. dan seiring dengan anak terbiasa tanpa Gadget inshaAlllah mereka akan semakin bisa diajak beraktivitas bersama:
co: beres2 rumah, walopun jadinya lamaaaaaaaaa πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†… co lain: ikut ngaji kemana2, masak (yg ini saya masih belJar hehe), dsb.. Allahualam

Pertanyaan keenam: Media Belajar Online
Teh mengenai ilmu agama, sekarang banyak sekali berseliweran ilmu-ilmu agama di medsos, baik video maupun tulisan. Bagaimana kita menyaring informasi terkait agama? Saya ingin sekali meningkatkan kapasitas diri sebagai seorang ibu, istri juga Muslimah, tetapi maaf media islam yang dikenal seperti republika atau hidayatullah, seringkali menyediakan informasi yg hoax.
Mengingat momentum tahun baru ini, saya ingin belajar lagi dan menggiatkan diri menghadiri kajian Islam., Menurut teteh media online apakah yg bisa saya andalkan untuk belajar? Kemudian kajian Islam manakah yg baiknya saya ikuti di Bandung?
Apakah teteh sekeluarga memiliki kajian keluarga? Biasanya membicarakan apa saja? Khususnya terkait tahun 2018, adakah agenda keluarga teteh yang bisa dibagi untuk inspirasi disini?
Jawab:
Betul sekali, ada byk media belajar online beetebaran di mana2, dan nggak semuanya menurut saya benar.

Pertama, bagi saya di sanalah pentingnya minimal kita punya satu kajian rutin tiap pekan dengan seorang guru ngaji/murobbi/ustadzah yang akan membantu menyaringa segal rupa informasi tadi.
(hapunten saya jarang membuka situs2 yang mb maksudkan, jd belum bisa memberkkan komentar terkait situs tersebut. πŸ˜ŠπŸ™ )
Kedua, utk belajar online saya cenderung untuk cari yang pasti2 jelas saja.. misal, di youtube saya suka dengar kajian Ust. Abdil Shomad, Ust Salim A Fillah, Ust Adi Hidayat, dan Ust Zulkifli.. untuk luar negeri saya sering dengar dari bayyinahTv (seperti Nouman Ali Khan dkk) 😊 Teknisnya biasanya kami download dulu.. dan diputar sambil ngemong, dsb..

Pertanyaan ketujuh: Halaqah bersama anak
Alhamdulillah saya seorang istri, ibu dari 1 anak yg berusia 1 tahun. Semenjak melahirkan saya sudah tidak lagi mengikuti halaqah. Karena masih merasa takut,cemas&khawatir, mengikuti halaqah sambil bawa anak yg terbilang masih balita. Menurut pengalaman teteh. Bagaimana solusi atau saran agar kita bisa mengikuti halaqah atau kajian mingguan beserta membawa anak yg masih balita (implementasi suami tidak bisa ikut karena halaqah di adakan di jam kerja)?
Kemudian apakah teh karin mengisi kajian di bandung? Jika iya boleh tau tempat dan setiap hari apa kajiannya?
Jawab:
Masing-masing keluarga punya standar keamanan sendiri bagi anak, jd saya pribadi tidak menyalahkan siapapun yang kemudian memilih utk berhenti halaqah karena khawatir terhadap keamanan anak. Tapi karena nanyanya ttg pendapat saya, saya rasa “Allah tidak akan membebani kita dengan sesuatu yang tidak kita sanggupi… ” (lihat QS. Al Baqarah: 286)..

Maknanya, dengan adanya anak, anak tidak menjadi penghalang bagi kita melakukan kebaikan, justri menjadi ladang amal tambahan. Itulah mengapa, saya termasuk yg mengusahakan agar keberadaan anak tidak mengganggu ibadah shalat, tilawah, termasuk halaqah pekanan. πŸ˜ŠπŸ™
Alhamdulillah, saya menyaksikan ada tak terhitung jumlah para Ibu yang membawa anak2nya ke agenda2 kajian tanpa diantar jemput atau ditemani suaminya, alhamdulillah mereka baik2 saja.
Saya pribadi pengalaman paling cepat bawa anak2 keluar 2 minggu setelah melahirkan (dalam kondisi kata petugas kesehatan sudah pulih yaaaaa…. πŸ˜ŒπŸ‘Œ) kadang bawa susmi kadang tidak…
Halaqah bersama anak sudah menjadi hal biasa.. di Melbourne dulu sempat dapat kelompok kajian yang isinya 6, tapi anak2nya bisa lebih dari 10 πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† ruameeeeee….

Dan sebetulnya di indonesia ada banyak kemudahan, bisa naik angkot, naik transportasi online, naik transportasi kainnya, atau bahkan bawa sendiri… 😊 karena sekarang sejauh2nya tempat ngaji, alhamdulillah masih satu kota sendiri…

Pengalaman saya ketika diberi amanah mengisi pengajian pekanan di New Zealand, pengajiannya beda kota.. πŸ˜…jadi selama satu semester saya tiap pekan harus menempuh pernalanan 8 jam satu kali jalan naik bis buat ngisi pengajian, pulangnya kalau ada rezeki lebih naik pesawat bayar sendiri dan seringnya dibantu ditambahin sama temen2 nan baik hati.. kalau gak ada naik bis lagi.. hehe.. dan biasanya saya gak bisa nginep dan harus PP.. dan hal yang sama masih berlaku di beberapa tempat.. bahkan salah satu sahabat saya di Australia harus travel 2 jam bawa bayi.

2. alhamdulillah skrg sarana untuk bisa imut pengajian intensif pekanan ada banyak… 😊 nggak cocok jadwal bisa dikomunikasikan semoga ada jadwal lain hang lebih cocok…
kalau memang dirasa tidak bisa weekdays, bisa cari yang weekend.. 😊
tapi berarti harus pinter2 juga membagi waktu sama kunjjngan keluarga, undangan nikah, dsb..
harus bijak2 juga team up sama suami to make this happen.. πŸ˜…πŸ˜… karena kita kan satu tim hehe..

3. Ikut ngaji bersama anak insyaAllah banyak manfaat dan berkahnya. 😊
Saya termasuk yang meyakini bahwa mereka akan selalu belajar dari apa yang mereka lihat, rasa, dengar, dan alami. 😊 Saya sudah sering sekali dengar testimoni bagaiman anak2 yang suka ikut pengajian ibunya tahu2 bisa tahu hal ini dan itu yang baru disadark ortunya.
salah satu kisah yang sangat menyentuh, ada seorang anak balita perempuan yang lagi jalan sama Ibunya.. terus lihat boneka barbie.. dan dia tetiba nyomong kurang lebih begini “ummi.. kalau aku inginnya ngafalin Quran, biar bisa kasih mahkota ke ummi abi” 😊 maasyaaAllah kan.. padahal ibunya blm pernah cerita apapun ttg itu.. hehe.. mungkin dia dengar sendiri dari salah satu kajian..
kajian apapun yang diniatkan kkhlas karena Allah yang didalamnya mengingati Allah dan dibacakan ayat2 Allah, akan mengundang banyak malaikat turun mebgaruniakan sakinah dan Allah akan menurunkan rahmat.. bagi saya, inilah yang mahal.. yang bahkan ketika anak masih bayi pun, sangat mungkin mereka akan terkena cipratan rahmat, doa, dan barakah dari majelis Quran Dzikir tersebut. Allahualam bishawab.

Bagaimana cara agar bisa membawa anak?
Teknis seperti yang disampaikan di atas, kembali kepada masing2 kapasitas dan keadaan. Tapi setidaknya ada beberapa hal yang bida diikhtiarkan:
1. Siapkan keperluan keberangkatan dr malam sebelumnya. Setelah anak bobo, bekal, baju ganti, tas catatan (barangkali bisa nyatet hehe.. πŸ˜†πŸ˜†)..
2. Menjaga asupan fisik dan psikis senantiasa. Jangan sampai sedang kurang istirahat, kurang makan, apalagk kurang perhatian.
3. Bawa mainan secukupnya yang tidak menimbulkan peperangan di lapangan dengan akang tetehnya nanti πŸ˜†πŸ˜†.
saya cenderung nggak termasuk yang ngasjh Gadget ke anak sekalipun di pengajian, jadi biasanya anak2 lbh anteng kalau dikasih mainan.
4. Siapkan bekal makanan kesukaan utk menghindari kebiasaan jajan. πŸ˜…πŸ˜… Bagi saya, jangan sampai muncul stigma :
ngaji = jajan ; ngaji = gadget
5. Kalau gagal mempersiapkan poin 1-4, hehe…
gpp, istighfar, tetap tawakkal, bismillah.. perbanyak doa, semoga Allah mudahkan… semoga pekan depan bisa lebih baik lagi..
Pertanyaan ke-8, tengang Gadget juga
Masalah gadget teh. Kadang saya&suami memutarkan sebuah video YouTube agar anak bisa anteng,karena mengingat terkadang saya&suami harus melakukan aktifitas. Mohon solusi dan sarannya teh,mengingat kami tau gadget kurang baik untuk perkembangan anak”?
Jawab:
😊 alhamdulillah kalau sudah ada niatan baik mengurangi efek negatif Gadget.
Intinya sudah saya sampaikan di atas. sebagai tambahan, saya ingin share testimoni salah satu sahabat saya yang anaknya sempat didiagnosa autis ringan, namun ternyata sebenarnya hanya karena kebanyak gadget. Alhamdulillah setelah stop Gadget sama sekali anaknya ternyata bisa sembuh dan perkembangannya semakin pesat. Tulisan beliau ada di IG @yamimayumi
postingan 2 hari yang lalu… postingannya yang fotonya ini…πŸ‘‡ saya udah izin sama beliau utk share tulisannya… (cuman belum sempat2 aja hehe). Semoga pengalaman beliau bisa menjadi inspirasi bermanfaat dan berkah.

Pertanyaan ke 9
Btw teh, pgn tau dong manajemen waktu nya.. Saya selalu berkelit dengan membagi waktu utk tugas rumah tangga, targetan pribadi dan membersamai kegiatan anak yg pola tidurnya berubah2, kadang normal, kadang nocturnal.
Jawab:
Utk manajemen waktu sebenarnya seringkali banyak perubahan… tapi beberapa hal yang buat saya ngebantu adalah:
1. Tetap membuat satu schedule harian yang jadi default schedule (dr bangun tidur sampai malam). Terlepas nantinya terlaksana atau nggak, disesuaikan di lapangan. setidaknya jadwal itu ngingetin saya ttg pekara2 yang harus dilakukan dengan waktu yang ada.
2. Kegiatan2 sebisa mungkin dibagi sesuai dgn jam shalat.
Shalat adalah sesuatu banget. Dengan adanya anak2, tanpa art, dan suami di luar rmh, bagi saya cukup challenging utk memastikan agar shalatnya baik2 saja.. πŸ˜… jadiii… agenda harian dibuat sedemikian rupa supaya pada saat shalat urusan makan, ngantuk, minta temenin main dsb sudah settled. Alhamdulillah karena anak2 udh semakin bisa komunikasi, skrg udah bisa nego, dan udah relatif ngerti bahwa waktu shalat gak bisa diganggu gugat.
3. Utk kegiatan2 di luar jadwal rutin (dan ini hampir tiap hari ada), saya nanya dulu ke suami.. utk memastikan saya dapat supportnya jika dibutuhkan. Intinya on going communication for almost everything.
4. Berusaha utk nggak banyak mikir hal yg tidak terlalu penting atau tidak urgent.
nggak nyambung ya.. πŸ˜…πŸ˜… hehe.. buat saya banyak sekali h di sekitaran ketika yang bisa membuyarkan fokus kita dalam beeaktivitas utk hanya karena Allah, dan untuk anak2, dan untuk keluarga. lintasan2 seperti itu saya berusaha utk ditepis saja dengan segera…
salah satu tips supaya hati dilapangkan, Allah memberikan arahan untuk senantiasa bergerak.. faidza faraghta fanshab, wa ila Rabbika farghab… (lihat tafsir QS Al Insyirah). jika selesai dengan satu urusan, maka langsung bersegeralah lakukan urusan yang lain.
Waktu2 yang tidak produktif sangat mungkin membuka psluang masuknya lintasan2 yg tidak urgent tidak penting bahkan kurang baik. Kalau hati lapang, insyaAllah lebih ringan, lebih mudah bersyukur, nggak banyak mengeluh.. moga2.. Aaamiin..

Pertanyaan ke-10
kalau misal di keluarga sudah gadget literate; ayah kerja depan laptop, biasa makan sambil buka hp (baca koran), dan terbiasa bermain games, kaka terbiasa gadgetan (nonton video), adik juga main games (multi switching antara laptop & gadget). Bagaimana jika harus tumbuh di keluarga seperti ini teh? Melebur agar dapat menjadi bagian keluarga seutuhnya? Atau gimana ya teh?
Jawab:
Dari yang saya pahami, apapun urusan keluarga, baiknya dimulai dari penguatan internalisasi suami dan istri dulu.
Sebelum ngasi nasehat macem2 ke suami, mgkin beberapa hal dipastikan dulu.
1. Hubungan komunikasi lancar, terbuka, dua arah
2. Visi misi suami dan istri searah
3. Seirama dalam bergerak, memiliki kesepakatan tertentu dalam mencapainya
4. Hubungan sehat dan bisa melakukan evaluasi berkala terhadap berbagai progres kualitas rumah tangga.
5. Masing2 terbuka untuk saling memberikan evaluasi, masukan, komentar, curhat, minta nasehat, dst.
6. Segala putusan dan sesuatunya dikembalikan kepada apa yang terbaik menurut Islam.
Dari ke 6 poin tadi, urusan gadget dan urusan apapun insyaAllah bisa diuraikan.
Kalau sudah sevisi, semisi, tinggal di evaluasi apakah kejadian2 yg disebutkan di atas mendukung visi misi tersebut?
Kalau ternyata tidak, apa nih yang harus dilakukan?
Sebagai istri, dukungan penuh suami dan melibatkan suami dalam berbagai keputusan sangat penting. Naah kalau dr suami sudah settled dengan aturan2 rumah yang baru, barulah penguatan pada internalisasi dengan anak2.

Perlu internalisasi juga? iya.. hehe menurut saya..karena kepada siapapun, kaidah dakwahnya kalau mau memberi nasehat, dimulai dengan membangun hubungan yang baik, lalu membangun tsiqah (kepercayaan), baru menyampaikan nasehat dengan ahsan (bertahap, bahasa dan cara yang baik, berstrategi jika diperlukan, dst). Apalagk ketika akan menerapkan aturan, Allahua’lam bishawab.
Sedikit tambahan tips utk keluar dr kondisi Gadget Literate selain dr yg di atas, dalam tataran teknis, banyak sekali keluarga yang kemudian bisa berubah dengan mengganti gadget dengan aktivitas kebersamaan. Dimulai dari aktivitas rihlah outdoor (jalan2) yang punya daya tarik lebih asik dr gadget, sebelumnya sudah agreement dulu selama liburan makan dsb no gadget.

Di rumah, jika mampu beli alat bantu pengajaran yang bisa dikerjkan bersama2..
Semoga lambat laun kreatifitas dan daya konsentrasi anak2 d dunia nyata akan meningkat.. mahal mungkin ketika harus byk ke luar dan beli ini itu.. jkka mampu Investasi dulu saja.. anggap infaq untuk tarbiyah (pendidikan keluarga)…. dan skrg byk alternatif ruang publik yang gratisan.. bisa manfaatkan itu.. d rmh pun byk barang dapur, barang sisa, kotak2, barang tak terpakai yg mgkin bisa dijadikan kegiatan kreasi di rmh..
Allahualam..

Kalimat Penutup: Istiqamah
Menjadi seorang istri dan Ibu bukanlah perlombaan… tidak ada satu garis finish yang harus kita kejar kecuali kematian. Maksudnya, masing2 dari kita memiliki garis waktu dan perjalanan sendirj, memiliki pace (kecepatan tempuh) sendiri2.
Goalnya satu: Istiqamah di jalan Allah..
Untuk istiqamah, diperlukan kebijaksanaan dalam beramal…tidak menggampangkan, tapi juga tidak memberat-beratkan.
Setiap momen perubahan (co tahun baru) memang sering meningkatkan adrenaljn utk ingin segera bisa berubah menjadi begini dan begitu.
Rileks saja.. tapi disiplin.. rapihkan satu per satu resolusi kita.. mulai dari yang paling mudah, paling kita sukai… Tidak ada amalan yang terlalu sedikit utk dilakukan..
Lebih baik beramal sedikit tapi konsisten.. Jika sudah nyaman, bari tingkatkan lagi, keluar dark comfort zone utk membangun comfort zone yang baru..

Advertisements

Notulensi Kulwap Pojok Ilmu Ceria -Renungan Akhir Tahun

Profil Narasumber, Karina Hakman

Sedikit background tentang saya.. Saya lahir di Bandung, 5 Jan 89… Sempat kuliah sebentar di Manajemen FE Unpad 2007. Kemudian alhamdulillah melalui beasiswa penuh dari New Zealand Education dan Sampoerna Foundation, saya bisa pindah sekolah S1 ke University of Auckland tahun 2009. Saya resmi menjadi Bachelor of Commerce tahun 2013.

Setelah melalui perjuangan yang panjang (curhat), hehe… alhamdulillah orangtua saya mengizinkan saya untuk menikah pada tanggal 4 Januari 2014, dengan catatan saya tetap harus lanjut s2 (alhamdulillah saya sudah keterima di Monash University untuk s2 kala itu). Dengan bantuan dari Beasiswa Penuh LPDP, alhamdulillah akhirnya saya bisa memulai kuliah s2 di awal tahun 2015 sampai 2016.

alhamdulillah ‘ala kulli hal, di bulan pertama kuliah saya, saya hamil lagi (yusuf usia 3 atau 4 bulan). πŸ™‚ jadilah saya resmi menyandang gelar student-pregnant-nursing-mom, hehe… alhamdulillah beres kuliah awal 2017 ini.

Aktivitas selama di Indo:
Per bulan agustus sampai 15 desember saya mengajar di Manajemen SDM di FTIP Unpad (sebagai dosen LB) dan di FE Unpad (Calon Dosen Tetap non PNS). Setelah saya resign, sekarang aktivitas saya mostly berkenaan dengan anak2, sambil tetap menjalankan aktivitas pekanan (pengajian), juga sebagai independent researcher, dan sekarang sedang dalam proses membuat program pembinaan bagi ortu atau calon ortu yang mau homeschooling (Mohon doanya).

Renungan Akhir Tahun, oleh Karina Hakman

Pertama, bagi saya pergantian tahun baik tahun hijriah maupun masehi adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang telah menciptakan matahari, bumi, dan bulan dengan edarannya masing-masing. Sehingga, setiap moment2 yang menekankan tanda kekuasaannya, bagi saya menjadi moment untuk kembali mengulangi muhasabah2 dari moment2 lain (ramadhan, idul fitri, idul adha, kelahiran Rasulullah SAW, tahun baru hijriah dan moment2 lainnya).
Perempuan, baik yang belum menikah, sudah menikah, maupun sudah memiliki anak dan cucu, tetap memegang peranan penting bagi peradaban. Perempuan yang shalihah, maka ia akan menjadi perhiasan dunia terindah mengalahkan perhiasan apapun. Perempuan yang tidak shalihah, maka keberadaannya akan menjadi fitnah bagi dunia.
Sudah menjadi target bagi syaitan untuk mencari celah-celah memasuki hati para perempuan, agar ia mau mengenyampingkan Allah, lebih cenderung kepada keinginan syaitan, dan akhirnya akan semakin mengikuti langkah-langkah syaitan.

Terkait tahun baru saat ini, ada beberapa tren yang saya pribadi memberikan catatan lebih kepada diri saya. Tren2 ini yang saya rasakan sangat mungkin menjadi celah masuknya godaan syaitan bagi saya pribadi.

1. Semakin menjamurnya pasar.
Dari salah satu ustadzah kehidupan, saya belajar bahwa Rasulullah mengajarkan kepada kita doa masuk pasar:
LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAH, LAHUL-MULKU WA LAHUL-HAMDU, WA HUWA β€˜ALA KULLI SYAI’IN QODIIR
Artinya: “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya dan Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu”
Siapa yang membaca doa di atas ketika masuk pasar, Allah akan mencatat untuknya satu juta kebaikan, dan menghapuskan darinya satu juta keburukan.” (HR. Ath-Thabrani)

Salah satu hikmahnya adalah, pasar adalah ladang syaitan mengajak orang untuk berbuat curang (baik penjual maupun pembeli), berleha-leha / membuang waktu, boros (membeli di luar kemampuan), dan tabdzir (membeli yang tidak perlu).
Ketiga hal tadi sangat mungkin menjadi cela masuknya syaitan. Dan ketika syaitan sudah masuk, maka sangat mudah hati akan tergelincir penyakit-penyakit lainnya.
Pasar di sini tentulah bukan hanya pasar tradisional, namun termasuk juga pasar online, berbagai barang dagangan yang tersuguhkan di pinggir jalan, dst.
Dari penyakit curang dalam treansaksi, maka akan menghilangkan keberkahan dari barang atau rezeki yang di dapat. Dari waktu berleha-leha yang terbuang sia-sia, maka akan mengurangi produktivitas, membuka hati untuk lintasan-lintasan tidak baik, karena hati sedang dalam kondisi rentan (tidak mengingati Allah. Dari sifat boros dan tabdzir tadi, maka akan lahir masalah keungan atau masalah hawa nafsu yang semakin menjadi. Hati menjadi kian jauh dari syukur, senantiasa merasa tidak puas, cenderung kepada membanding-bandingkan antara kepemilikan diri dengan orang lain, yang hal ini termasuk dari penyakit dunia (lihat QS Al Hadid: 20).

Kesemua sifat tadi adalah sifat yang sebaiknya kita usahakan menjadi wara atasnya. Baiknya kita menundukkan pandangan terhadap berbagai hal yang syubhat, mengatur harta keluarga dengan bijak, memperbanyak sedekah untuk keberkahan harta, dan mendoakan agar Allah menjaga keberkahan rezeki keluarga.

2. Tren berikutnya adalah masalah gadget dam SocMed.
Dan gadget ini bukan ditujukan kepada anak, tapi kepada para gadis, para istri, para ibu, para suami, juga para ayah.
Dulu, saya pikir yang keranjingan gadget hanyalah anak-anak muda saja.. πŸ™‚ tapi ternyata, seringkali berulang kali, baik itu di tempat makan, tempat main, taman, bahkan masjid… saya menemukan keluarga yang semuanya sibuk dengan gadget. Jangankan keluarga, bahkan anak-anak remaja sesama rekan, duduk bersama, semuanya pegangn gadget. Bahkan orang yang pacaran pun (maaf), ternyata sama-sama pegang Gadget. Bahkan pada saat makanpun, masih dengan Gadget.
Yang menariknya lagi, dalam pertemuan-pertemuan itu, akan ada masa-masa tertentu dimana semuanya akan berhenti dari gadgetnya, tetiba menjadi super akrab, dan itu adalah saat pengambilan foto. Kemudian masing-masing akan kembali dengan gadgetnya, mungkin mengedit, atau sharing foto, dsb. Subhanallah…
Hapunten kalaulah ada yang menganggap itu sebagai perkara biasa. Bagi saya, hal tersebut sangat mungkin akan menajdi pemicu berbagai permasalahan lain. Dari berbagai potensi masalah, yang mengkhawatirkan adalah ketika kurangnya komunikasi langsung antar keluarga dan rekan secara langsung (1), sehingga memunculkan kurangnya pemahaman antara satu dengan yang lain (2), dan masing-masing lebih nyaman dalam dunia maya rekaan (3).

Terlebih bagi yang sudah berkeluarga, intensitas komunikasi dan kedekatan personal antar individu menjadi penting. Ketika pikiran selalu terikat dengan gadget, khawatirnya, hati dan pikiran sudah sulit untuk diajak berpikir lebih dalam tentang urusan-urusan yang lebih penting. Urusan terkait apa sebetulnya tujuan kita untuk hidup, implementasi seorang hamba dan khalifah apa yang mau kita ambil, kemana keluarga akan kita bawa, sudah benarkah yang kita lakukan selama ini, dan seterusnya.
Ketika urusan-urusan besar tidak menjadi bahan pemikiran utama, khawatirnya, baik individu maupun keluarga, akan menjadi mudah terbawa arus. Apa yang menurut “dunia saat ini” adalah baik, maka itulah baik, dan itulah yang akan diikuti.
Padahal, dunia akhir zaman adalah dunia yang semakin dipenuhi dengan fitnah berlatar “abu-abu”, πŸ™‚ yang terkadang tak nampak jelas benar dan salahnya. Naudzubillahimindzalik.

3. Ilmu agama yang masih terasing πŸ™‚
Di tengah fitnah yang semakin “abu-abu” tadi, saya secara pribadi masih merasa sangat kekurangan Ilmu. Entah bagaimana dengan rekan-rekan lainnya…
Di dalam QS. Al Kahfi, diceritakan bahwa sekelompok pemuda berhasil lari dari fitnah, dengan bersembunyi ke sebuah gua. Dengan seizin Allah, mereka tidur dalam kurun waktu 309 tahun. Hal yang sangat ajaib bagi logika manusia,. Namun dalam salah satu kajian tafsir terkait QS Al Kahfi, ayat 9 dari QS. al Kahfi tersebut “Apakah kamu mengira bahwa orang yang mendiami gua, dan mempunyai raqim itu, tanda-tanda kebesaran Kami yang menakjubkan?” ==> adalah pernyataan sarcasm… bahwa Allah menyatakan bahwa hal itu mudah bagi Allah. Namun yang merupakan hal menakjubkan justru adalah Al-Quran, yang akan senantiasa menjadi bimbingan yang lurus (ayat 2), tidak akan pernah goyah (ayat 1), dan menjadi kabra gembira bagi orang mukmin (ayat 2).

Allah justru memuji DiriNya sendiri, ketika berbicara tentang Al-Quran “Segala puji bagi Allah, yang telah menurunkan Al-Quran kepada hamba-hambaNya, dan Dia teidak menjadikanNya bengkok” (Ayat 1).
Dalam kajian tafsir ayat ini menyiratkan bahwa dalam kondisi fitnah sekuat apapun, Al Quran adalah sumber segala ilmu untuk keluar dari fitnah tersebut. Para pemuda Al Kahfi dapat menemukan gua untuk lari dari fitnah. Dan para ummat Rasulullah SAW memiliki Al -Quran sebagai tempat menyelamatkan diri.
Sayangnya, justru ilmu Al-Quran yang saya pribadi paling sedikit saya miliki. Sejak TK, SD, hingga dewasa, sangat sedikit ilmu Al Quran yang betul-betul kita pelajari. Yang bukan hanya teori, namun juga praktek. Padahal, tidak ada yang Rasulullah SAW tinggalkan kepada kita, umat akhir zaman, kecuali dua hal: Al Quran dan Sunnah..

Saat ini, sangat banyak keluarga yang mampu membelikan anak-anaknya buku-buku seharaga jutaan. Namun hapunten, sepertinya masih jarang para keluarga yang turut juga membeli buku tafsir lengkap, atau syarah (penjelasan) hadits lengkap Fathul Barri yang harganya kurang lebih sama dengan harga-harga buku anak.
Saat ini, banyak juga orangtua yang bersungguh-sungguh menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah Quran, namun orangtuanya sendiri tidak memiliki halaqah tahfizh Quran. Ingin anaknya ikut les tambahan di akhir pekan, namun orangtua sendiri berat melangkahkan kaki ikut kajian pekanan. Ingin anaknya rajin membaca, diajarkan buku sejak usia 1 tahun bahkan sejak bayi, namun orangtuanya sendiri masih enggan menyentuh buku yang tebalnya mungkin 500 -700 halaman itu.
Padahal, Al Bukhari pernah memberi nasehat bahwa Ilmu adalah sebelum perkataan dan berbuatan. Dalam penjelasannya, kalimat tersbut merupakan kesimpulan yang diambil dari ayat Al Quran Surah Muhammad: 19.. yang dimulai dengan “ilmuilah”.
Bahkan, ada banyak ayat Al Quran yang dimulai dengan perkataan “I’lamu..” ilmuilah..
Bahkan, Allah menjelaskan sifat DiriNya, di dalam QS Ar-Rahman, bahwa Ar-Rahman adalah yang “‘allamal Quran” mengajarkan Al Quran. πŸ™‚
MasyaAllah kan… inilah sedikit curahan renungan diri terkait pentingnya ilmu..

Dari ketiga perkara di atas, ada beberapa hal yang menurut saya menjadi PR…
1. Refokus kehidupan kepada perkembangan keluarga.
Hapunten kalau ada yang kurang setuju, tapi setidaknya itulah yang saya rasakan. πŸ™‚ Re-fokus tidak hanya sekali waktu, tapi mungkin berulang-ulang.
Ada begitu banyak pengharapan yang ingin kita capai dalam dunia. Tapi menyadari dunia yang semakin menginjak akhir zaman, saya merasa kebutuhan untuk membangun keluarga yang kokoh semakin tinggi.
Maka, menjadi sangat penting untuk kemudian benar-benar memikirkan,
apakah kondisi operasional harian saat ini baik-baik saja?
apakah kondisi fisik dan psikis anak baik-baik saja?
apakah kondisi komunikasi keluarga baik-baik saja?
apakah seperti ini keluarga yang kita idam-idamkan?
Berangkat dari sana, harapannya akan muncul muhasabah terhadap berbagai hal dari yang rinci hingga umum, dari yang strategis hingga taktis.

2. Mengilmui dan mengamalkan obat-obat hati..
Apa saja?
Sederhananya: senantiasa dalam syukur, sabar, tawakkal, optimis.
Prakteknya: meningkatkan kualitas shalat, memperbanyak dzikir, dan mendisiplinkan waktu untuk bisa senantisa beramal shaleh.
Amunisi tambahannya: Senantiasa belajar, baik membaca buku, maupun mengikuti kajian pekanan.
Booster finaslisasinya: Istiqamah dalam infaq dan shadaqah

Celah Masuknya Syaitan Dalam Keluarga Kita
Ilmu sihir itu ada dan nyata (lihat QS. Al-Baqarah: 102).
Dan keluarga adalah salah satu sasaran utamanya.. Allah bahkan menjelaskan bahwa sihir digunakan syaithan untuk memisahkan antara seorang istri dan suami.
Sebegitu pentingnya kah ikatan suami dan istri?
Iya.. Allah menyebutnya sebagai Mitsaqan Ghalizha (lihat QS. AN-nisa: 21), perjanjian yang teramat kuat, yang Allah setarakan dengan perjanjian antara Allah dengan para Rasul Ulul Azmi: Muhammad SAW, Nuh a.s, Isa a.s, dan Musa a.s (QS. Al-Ahzab: 7).

Melalui pernikahan, Allah membuka peluang seluas-luasnya bagi laki-laki maupun perempuan beriman untuk menggapai pahal dalam setiap amal suami istri, hinggakan genggaman jari jemari pun menjadi pahala.
Melalui pernikahan pula, Allah karuniakan sakinah (ketenangan), mawaddah (gelora cinta), dan Rahmah (cinta kasih) yang menjadi salah satu mesin penggiat dakwah untuk terus berpacu dalam setiap waktu. Dan melalui pernikahan, kader demi kader Rabbani dilahirkan, dibina, dsn menjadi tentara yang dimusuhi syaithan hingga ke akhir zaman.

Dengan kriteria di atas, pernikahan sungguh bukan coba-coba, atau permainan belaka. Bagi syaithan, adalah prestasi untuk merusaknya.
Salah satu celah masuknya syaithan adalah dengan memasukkan benih-benih putus asa dalam hati para insan. Dari benih itu, diberilah pupuk kekecewaan, air kegagalan, bisikan bisikan ketidakmampuan, teruuus oleh syaithan dirawat lah benih tersebut agar ia tertuai menjadi putus asa yang mengantarkan pernikahan kepada keputus asaan.

Dalam pernikahan, ujian adalah hal yang memang patut untuk diyakini keberadaannya, baik.ujian kemudahan maupun kesempitan.
Masing-masing keluarga akan diuji dengan ujian terbaik yang Allah hadiahkan untuknya.

Ada yang bergelimah rezeki nan barakah, namun buah hati tak kunjung hadir.
Ada yang dimudahkan dalam memiliki anak, namun diuji dengan kecukupan ekonomi yang tak sebanyak orang lain.
Ada yang mudah anak, mudah rezeki, namun diuji dengan mertua atau orang tua, atau tetangga, atau pekerjaan, atau atau dan atau…
Bahkan, ada yang diuji dengan istidraj, yakni diberinya kesenangan dari segala arah, hingga ia makin menjauh dari Allah SWT (naudzubillahi mindzalik).
Bahkan Nabi Ibrahim a.s bersama Sarah istrinya, diuji dengan tidak memiliki keturunan hingga ia berusia lanjut (lihat QS. Al-Hijr: 55). Namun dalam ketaatan, tawakkal, dan ikhtiyar ikhlas berterusan, Allah menjawab dengan sebuah kabar gembira, yakni Allah karuniakan Ishaq pada rahim Sarah, yang kemudian lahirlah dari garis keturunan Ishaqyakni Ya’Qub, Yusuf, Musa, hingga ke Isa a.s.

Dan dalam peristiwa tersebut, Nabi Ibrahim a.s memberi nasehat yang begitu indah:
“..Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang yang sesat” (QS. AL-hijr: 56).

MasyaAllah..
Inilah karakter sejati seorang mukmin. Dalam apapun juga keadaan, tafa’ul (optimis) adalah pilihannya. Saja’ah (berani) dan Tawakkal menjadi bagian ruh dari langkahnya. Sakinah (ketenangan) menjadi nada-nada dalam alunan kehidupannya.

Dari sinilah kita belajar,
Untuk tetaplah berharap.. karena harap adalah bagian dari iman kepada Allah sebagai Rabb. Untuk tetap meletak harap hanya kepada Allah, Rabb yang Maha Memelihara, Maha Menjaga, Satu-satunya yang dapat memastikan bahwa kita baik-baik saja.

Sungguh, adalah iblis yang menginginkan kita untuk berputus asa sebelum kita sendiri. Ialah yang membujuk rayu agar kita pesimis, patah semangat, merasa tak mungkin lagi ada jalan keluar terhadap urusan2 kita. Seorang mukmin yang meyakini Allah sebagai Rabb…

Ia tidak akan gentar dengan ujian dan tantangan, karena ia yakin, bahwa bersamanya ada Allah yang menciptakan setiap ujian. Ia pula tidak congkak merasa bisa dengan segala karunia yang Allah titipkan padanya, karena ia yakin, bahwa tak ada daya upaya melainkan datang dari Allah, Rabbnya.
Bersama Allah, setiap mukmin senantiasa dalam taqwa. Penuh harap terhadap rahmat dan ridhaNya, sekaligus mawas berhati-hati agar tak terjerumus kepada godaan iblis dan para pengikutnya.

Bersama Allah, setiap mukmin senantiasa berada dalam sakinah (ketenangan), saja’ah (keberanian), dan tafa’ul (optimis).. Semoga Allah jadikan kita sebagai salah satunya… Allahumma Aamiin. Allahualam bishawab…

Notulensi Kulwap Pojok Ilmu Ceria tentang Manajemen Keuangan

πŸ“œ Notulensi KulWap PIC #3

πŸ’Ž Tema : Manajemen Keuangan
πŸ“† Waktu : Selasa, 21 Februari 2017
πŸ•° Pukul : 09.00-11.00 WIB
πŸŽ™ Moderator : Teh Erie
πŸ“ Notulen : Nida

πŸ’• Narasumber : Rian Kuswardani
πŸ“² HP : 08562184006
πŸ“© rkuswardani@gmail.com

πŸ’• Prolog :

Mengapa merencanakan keuangan ini sangat penting? Karena seiring dengan keadaan yg semakin hari semakin berkembang, dmn gaya hidup juga semakin berkembang, biaya hidup jg semakin bervariasi (selalu meningkat signifikan).. Tapi tentunya kita pun harus mengelola semua itu secara cermat dan bijak yaitu pengeluaran (outcome) tidak lebih besar dari pendapatan (income)

Waktu itu saya mendatangi seminar ttg REKENING SIP yg disampailan oleh salah satu financial planner. Apa itu SIP?

Kita semua pasti mempunyai sejumlaha DANA hasil dari bekerja/bisnis/dll… Nah, idealnya dana tersebut jangan kita simpan hanya dalam satu keranjang, lalu bagaimana? Alokasikanlah dana yg kita punya ke Rekening SIP yaitu :
1. Saving
2. Investment
3. Protection

Hal ini saya yakin, di grup ini sudah melakukannya. 😊
Namun secara ideal urutan rekening diatas adalah SAVING, PROTECTION, INVESTMENT sedangkan SIP ini hanya agar kita mudah mengingatnya saja.

Kita kupas sekilas tentang :
1. SAVING
Kita bisa mencari/menempatkan instrument saving pada Tabungan, Deposito, Tabungan Berjangka/Tabungan Pendidikan, dll. Semua hal ini untuk tujuan Jangka Pendek. Makanya jika merencanakan biaya pendidikan anak msk TK/SD/SMP, liburan, dll sebaiknya kita simpan di REKENING SAVING karena sifatnya pasti dan liquid

2. INVESTMENT
Kita bisa mencari/menempatkan instrument investment pada Logam Mulia (LM), Reksa Dana/Saham/Obligasi, Property, dll. Semua hal ini untuk tujuan Jangka Panjang.

3. PROTECTION
Kita bisa menempatkan instrument protection ini pada Insurance/Asuransi. Rekening inilah yg masih banyak orang beranggapan kurang penting. Padahal jika kita lihat prioritas dalam penempatan dana Rekening Protection ini ada di urutan 2 setelah Saving. Kecenderungan orang indonesia itu kesukaanya setelah memiliki Saving langsung berInvestasi. Padahal banyak orang kehilangan tabungan hingga assetnya ketika ada resiko terjadi.

Berdasarkan rekening2 itulah sebaiknya kita tempatkan dana yg kita miliki sesuai dengan tujuan apa yang kita maksud atau tuju.
Satu hal yang perlu diperhatikan, apabila kita memiliki atau membeli asuransi, tujuannya adalah untuk Proteksi jangan kita membeli asuransi tapi tujuannya berinvestasi karena sudah jelas bahwa produk asuransi itu ada pada Rekening Protection bukan Rekening Investasi.

Apabila kita sudah melakukan 3 hal diatas, berarti kita sudah melakukan Perencanaan Keuangan untuk Keluarga atau Diri kita.

Selamat Membuat Perencanaan Keuangan untuk Masa Depan Kita Semua πŸ€—

🌟 Sesi Tanya Jawab 🌟

☘ Pertanyaan : (Anonym)
Mengapa saat menikah sy malah tdk bs/ tdk ada power untuk mengatur keuangan dgn bijak
Sy pernh komunikasikan untuk dpt uang bulanan/ harian agar sy bs atur lbh cermat hemat bijak. Uang kluar masuk dr satu pintu saja sblm sy kerja.
Saat sy krja sy lebih bs mngatur krna sy bnr pegang uang/ ada di atm. Dan bs sy alokasikan sesuai sharingan td.Bgmn solusinya ya?

Trus yg di share Itu kan kondisinya tdk ada minus ya dan itu jg yg sy terapkan slagi single. Tp kalo ada hutang (bkn hutang pribadi tp hutang kluarga suami ) itu gmana ya ? Iya sh bkn tanggung jawab sy tp ditagihnya ke saya jd ikut kepikiran wlpn rezeki dr Allah. Outcome perbulan jd besar sdgkn income tdk jelas. Butuh pencerahan banget

🌻 Jawaban :
Sebelumnya sudah brp lama menikah mba? Dan mksdnya skr tidak bekerja, alias suami hanya jd sumber utama pendapatan ya?
Memang mba begitu menikah akan byk hal yg hrs kita adaptasi trmsk masalah keuangan dan tentunya hal ini hrs terus dikomunikasikan dgn pasangan kita. Masalah kebiasaan memegang uang pada saat single ini mgkin yg sedikit menambah pikiran kita. Yg biasa pegang uang, skr tidak.. Hal ini sangat wajar krn sebagai sifat umum manusia adalah tidak mau mengurangi/dikurangi kenikmatan yg biasa terjadi.

Betul mba, kondisi yg saya share adalah kondisi idealnya. Tp jika prakteknya adalah terjadi minus yg misalnya datang dari hutang keluarga, ini yg hrs dikomunikasikan apakan ini menjadi beban sendiri ke mba dan pasangan apa termasuk beban keluarga besar dari suami? Krn apabila hanya menjadi beban untuk mba n suami, mau tidak mau kita yg harus berkorban dengan memangkas byk pengeluaran yg biasa terjadi. Tentunya pengurangan biaya disini hrs seimbang jg dengan tidak mengorbankan kepentingan keluarga sendiri yg penting.

☘ Pertanyaan : (Rani)
mau tanya soal asuransi, ada yg bilang itu haram gmn tanggapannya?

🌻 Jawaban :
Iya betul mba, ada yg beranggapan bahwa asuransi itu haram. Disini sih tergantung keyakinan diri kitanya saja. Tetapi klo menurut saya pribadi, mgkin yg dimaksud haram disini adalah asuransi yg konvensional bukan yg syariah, mengapa? Karena sepengetahuan saya yg dipermasalahkan adalah :
1. Ada pihak yg diuntungkan/dirugikan (Maysir)
2. Sumber dana untuk claim (Gharar)
3. Pengelolaan dananya (Riba)

Secara konsep Asuransi Syariah, untuk hal diatas dpt dijelaskan bahwa :
1. Resiko yg nasabah punya itu sifatnya DIBAGI (Risk Sharing) kepada sesama anggota asuransi syariah, maka dgn begitu tidak ada pihak yg diuntungkan/dirugikan (Maysir)

2. Sumber dana claim berasal dari anggota asuransi syariah itu sendiri, krn dlm konsep syariah adalah TOLONG MENOLONG atau TABARRU. Jadi setiap nasabah asuransi syariah itu menghibahkan sejumlah biaya asuransi (biaya tabarru) untuk digunakan anggota lainnya apabila ada resiko lebih dulu.

3. Pengelolaannya sendiri, untuk syariah dilakukan oleh Jakarta Islamic Index (JII) dmn ddlmnya tidak terdapat perusahaan minuman, rokok, perbankan, dll

Selain itu juga, sy jg pernah mendengar dari Ust Aam Amirudin, Ust Teuku Maulana, Ust Aa Gym bahwa asuransi ini hanya proses penyempurnaan ikhtiar kita saja krn hakikatnya segala sesuatu kita serahkan pada Allah Swt.

☘ Pertanyaan : (Inez)
Bagaimana mengatur penghasilan dan pengeluaran yg ideal?
Berapa persentase yg harus di simpan, digunakan, investasi dsb?
Bagaimana mengatur prioritasnya? Mhn pencerahannya..

🌻 Jawaban :
Menurut konsep manajemen keuangan sendiri cara mengaturnya adalah :
1. Saving
10% hrs lgs kita sisihkan ke dlm tabungan untuk emergency fund. Targetnya adalah 3 s.d 6 kali dari pengeluaran/pendapatan kita setiap bulannya. Tempatkan dana ini di rekening tabungan krn sifatnya rekening tabungan ini liquid yg artinya mudah dicairkan kpn saja dan secara nilai tetap. Apabila dana tsb telah tercapai maka alihkan penempatannya pada instrumen yg agak sedikit sulit untuk dicairkan.

2. Proteksi/Investasi
10% kedua lgs kita sisihkan untuk asuransi, investasi (LM, Obligasi, Reksa Dana atau Property sekalian jika dana mencukupi)

3. Loan (Pinjaman Bank)
Maks 30% untuk porsi ini, jika berlebih maka akan krg baik untuk keuangan kita kedepannya. Loan disini mksdnya seperti KPR, KPM, dll. Saran jg, jika kita ambil KPR, carilah bunga fix yg paling lama yg dtawarkan bank.

4. Lifestyle/Pengeluaran Bulanan
Nah biaya bulanan ini yg sebisa mgkin kt tekan agar tidak melebihi 50% dimana persentase ini adalah sisa dari alokasi sebelumnya.
Jadi untuk prioritasnya sendiri seperti urutan diatas dmn Saving, Proteksi kemudian jika masih ada sisa barulah berinvestasi

☘ Pertanyaan : (Alifah)
Jika melihat pengantar dr kakak,, ada saving-investastment-protection,, lalu dimana dana utk kebutuhan sehari2.??
Teknisnya,, bagaimana mengelola keuangan dengan dana yg terbatas..bagaimana caranya?

🌻 Jawaban :
Untuk jawabannya krg lebih sama dgn jawaban pada pertanyaan mba Inez tadi.
Kebutuhan sehari2 ada di porsi yg 50% tadi, dmn sebisa mungkin bahwa kebutuhan sehari2 itu kita sesuaikan dari porsi sisa yg sebelumnya saya share.
Untuk teknis mengelola dana yg terbatas, sebaiknya yg utama untuk porsi saving hrs ttp kita anggarkan meskipun secara presentase tdk sesuai dgn ideal (10%). Karena jika melihat umumnya, apabila kita akan menyisihkan dari sisa uang bulanan kita, kemungkinan besar tidak akan ada sisa… Jd uang bulanan selalu habis tidak bersisa. Hal ini jg seperti yg biasa kita terapkan ths zakat, lgs sisihkan dari pendapatan yg kita terima meskipun secara aturan dari sisa atau dana lebih setiap bulannya.

☘ Pertanyaan : (Nadia)
kalo misal mau nyoba bisnis gt usaha kecil2an, ngalokasiin utk modalnya gmn ya baiknya dari proporsi td?apa termasuk ke yg investment? trs bisnis itu ada ukurannya/jangka waktu yg bisa kita pake ga buat memutuskan bisnisnya bsa dlanjutkan ato shut down aja. krna kadang saat mulai usaha itu ga selalu lgsg bagus penjualannya. mohon masukannya 😁

🌻 Jawaban :
Untuk mencoba bisnis kecil2an dgn artian bukan sumber utama… Bisa kita alokasikan dari porsi investasi kita..
Nah untuk jangka waktu sebetulnya tergantung bisnisnya, bervariasi jg… Tp idealnya kt review berkala (misal 6 blnan), apabila penjualan krg rame atau tdk berkembang maka kt harus lihat apakah lokasi yg tidak pas, pasar yg tidak tepat atau apa. Hal inilah yg bs kita gunakan acuan untuk kelanjutan usaha kita..

☘ Pertanyaan : (Dwi)
Berapa persen alokasi2 di tiap keranjang SIP?

🌻 Jawaban :
Kurang lebih jawabannya hampir sama dengan jawaban pada pertanyaan mba inez..
Idealnya di angka 10% di setiap rekening tersebut.. Dgn asumsi ada 30% untuk alokasi loan (cicilan rumah atau mobil) dan kebutuhan bulanan 50%

☘ Pertanyaan : (Dian)
Terkait dana proteksi, adakah rekomendasi tmpt yg tdk mengandung riba?

Jawaban :
Bersedekah yg banyak mba, insya allah hal ini akan mendapatkan jaminan dari Allah.. 😊

Tp jika melihat dari produk atau instrumen yg ada, pilihlah asuransi yg berbasis syariah (maaf, bukan krn saya ada di asuransi syariah).. Tp berdasarkan konsep yg saya share di pertanyaan mengenai asuransi haram tadi ya mba. Karena jika kita berbicara riba, luas cakupannya termasuk juga sistem ekonomi di negara kita. Jd setidaknya apabila ada sesuatu yg berbasis syariah, mgkin ada usaha lebih ke arah yg lbh baik.

☘ Pertanyaan : Restu
Bagaimana menempatkan instrumen proteksi selain dengan asuransi? aset apa saja kah yang perlu dimasukkan dalam proteksi?

🌻 Jawaban :
Jika dilihat dari konsep perencanaan keuangan, Instrumen Proteksi ini hanya melalui Asuransi, baik itu asuransi umum atau asuransi jiwa. Selain tentunya yg paling utama adalah melalui Allah ya mba… 😊
Asset apa saja yg perlu dilindungi? Tentunya asset yg plg berharga itu adalah diri kita sendiri, krn jika diri kita terjadi sesuatu (musibah) maka otomatis tdk akan muncul asset2 lainnya. Tetapi secara umum asset spt rumah, kendaraan, dll perlu dilakukan proteksi.

☘ Pertanyaan : (Nadia)
selain asuransi, adakah bentuk proteksi lainnya?bagaimana proporsi SIP dgn kebutuhan konsumsi?saya masih sering “kecolongan” dgn pengeluaran2 yg ga terduga nih.

🌻 Jawaban :
Untuk ‘biaya tak terduga’ ini saya aga curiga yaa… Hehe… Mksdnya mgkin ada keinginan ya bukan krn kebutuhan?memang godaan yg berat itu mba… 😬… Oleh krn itu mba, begitu di awal dpt income, maka hal pertama lgs transfer untuk zakat, tabungan, proteksi/investasi.. Sehingga dana tersisa adalah untuk kebutuhan bulanan dan lifestyle (ngafe, shopping, dll)

☘ Pertanyaan : (Nurul)
1.untuk hal asuransi, jenis asuransi apa yang wajib kita miliki karena sekarang banyak jenis asuransi yang ada?
2.untuk pendidikan anak baiknya kita masuk dalam asuransi atau hanya sekedar tabungan berjangka?
3.sejak kapan kita sebaiknya berinvestasi?

🌻 Jawaban :
Betul mba nurul.. Kita harus bijak n cermat jg dalam pemilihan asuransi, krn hampir 90% dari nasabah pemilik polis, mereka tidak paham isi polis yg mrk ambil.. Yg diingat hanya premi yg dikeluarkan tiap bulannya.

1. Jenis asuransi yg sebaiknya dimililiki adalah custom dgn artian semua tergantung kebutuhan dari setiap calon nasabah dilihat dari profesi,jenis pekerjaan,dll. Misal : Jika kita sbg karyawan yg sudah dpt coveran kesehatan rumah sakit, dll maka pilihan hanya mengambil asuransi jiwa dan sakit kritis akan lbh tepat. Nah nti muncul, brp sih idealnya kita punya pengcoveran jiwa, semua bergantung ke biaya hidup yg biasa kita keluarkan.

2. Untuk pendidikan anak sebaiknya tetap kita bagi jg melalui tabungan berjangka atau investasi (reksa dana) sekalian. Perlu diingat jg, pendidikan disini untuk rencana anak masuk jenjang mana? SD, SMP (Jk. Pdk) atau kuliah (Jk Pjg). Satu kelebihan bila kita melalui asuransi yaitu ada manfaat pembebasan premi jika orang tua mengalami 3 resiko (meninggal, cacat total tetap, sakit kritis)

3. Sebisa mungkin sejak dini, selama porsi saving (3 sd 6x dari biaya hidup) sdh terpenuhi yaa…

☘ Pertanyaan : (Tri)
Saya mau nanya tentang KPR rumah , apa itu haram ?
Kalau minjem uang di Bank gimana hukumnya? Soalnya bila ada keperluan lebih saya suka minjem ke Bank daripada koperasi yang sekitar rumah bunga nya lebih gede

🌻 Jawaban :
Waduh pertanyaannya lbh berkaitan ttg tauhid yaa…
Saya jawab sesuai yg saya yau aja ya mba… Berkaitan dgn halal haram memang selalu menjadi perdebetan krn ujung2nya terkait dengan ribanya…
Balik lg mba.. Sepengetahuan saya ketika saya ikut di suatu taklim, dmn penceramah menyebutkan bahwa yg namanya bank beserta produknya itu telah diatur oleh pemerintah dan juga MUI dimana setiap penetapan bunga adalah ada andil dua elemen tersebut. Sedangkan yg dikatakan riba adalah menguangkan uang, dmn hal tsb terjadi pada tengkulak/rentenir, dimana penentuan bunga dilakukan seenaknya.
Lebih luas lagi, seperti tadi mengenai sistem ekonomi di indonesia ini.
Apakah bank syariah lbh baik? Minimal ada yg bergerak kearah yg lbh syar’i. Jadi bila ada yg syariah akan lbh tenang sepertinya mba dalam memilihnya

☘ Pertanyaan : (Kania)
Mau bertanya, kalau idealnya perbandingan antara belanja bulanan, saving, protection, sm invesment itu berapa berapa dari total pendapatan?
Kalau pendapat kang rian sedekah berarti dimasukkan ke belanja bulanan atau invesment?

🌻 Jawaban :
Proporsinya seperti yg sdh saya jelaskan sebelumnya yaa 10% Saving, 10-20% protection n Investment, 30% loan/pinjaman.. Sisanya 50% untuk kebutuhan bulanan

Klo untuk sedekah lebih baiknya jadikan sbg saving mksdnya anggarkan diawal (berapa pun jumlahnya), krn itu tabungan masa depan yg sesungguhnya, siap mba? 😊

Notulensi Kuliah via WhatsApp di Pojok Ilmu Ceria tentang Baby Blues Syndrome dan Post Partum Depression

πŸ“ NOTULENSI KULWAP PIC SESI#4
πŸ‘ͺ Tema : Baby Blues Syndrome & Post Partum Depression
πŸ‘₯ Narasumber : Hanny Harini & Indah Sulistyorini, M. Psi
πŸ“… Hari, Tanggal : Rabu – Kamis, 22-23 Desember 2017
πŸ•˜ Waktu : Rabu (12.00 – 14.00 WIB), Kamis (09.00-12.00)
πŸ‘€ Moderator : Sundari
πŸ‘€ Notulen : Erie Sy

Profil Singkat Narasumber
πŸ‘© Nama : Indah Sulistyorini
πŸ‘Ά Jumlah Anak : 3
πŸŽ“ Pendidikan : Fakultas Psikologi UI dengan gelar Magister Psikologi Klinis

πŸ‘© Nama : Harini Septarina
πŸŽ€ Panggilan : Hanny
πŸ‘Ά Jumlah Anak : 2
1. Ilmi Zidane Zaif (4,9y)
2. Nareswari Jihan Zaif (2,8y)
πŸ“ƒ Aktivitas : IRT, Freelance tutor dan penerjemah

Materi Narasumber 1 : Teori tentang Baby Blues dan Post Partum Depression

🍁🍁 Gangguan Psikologis Pasca Melahirkan🌿🌿
Kelahiran seorang bayi pada umumnya merupakan peristiwa yang membangkitkan berbagai perasaan mulai dari kebahagiaan, semangat dan kegembiraan, juga adanya rasa cemas dan rasa takut. Di sisi lain peristiwa ini juga dapat mengarah pada situasi yang di luar dugaan seperti munculnya gangguan psikologis pasca melahirkan.
Beberapa gangguan kejiwaan setelah melahirkan bisa timbul sangat ringan seperti Baby Blues
Gangguan ini sering tidak diketahui secara pasti, tapi Anda tidak sendirian. Faktanya adalah bahwa sebanyak 80% wanita mengalami beberapa gangguan suasana hati dalam waktu setelah kehamilan (dikenal sebagai periode postpartum). Mereka mungkin merasa cemas, marah, sendirian, takut, atau tidak mengasihi terhadap bayi mereka, dan rasa bersalah karena memiliki perasaan ini. Bagi kebanyakan wanita, gejala yang ringan dan pergi sendiri. Tapi statistik menunjukkan bahwa 10% -20% dari wanita mengalami bentuk yang lebih penghentian gangguan mood yang disebut postpartum depression (PPD).

πŸ‘Ά Baby Blues SyndromeπŸ‘Ά
Baby Blues syndrome atau sering disebut Postpartum Distress Syndrome adalah gangguan psikologis berupa sedih, cemas dan emosi meningkat yang dialami sekitar 50- 80% wanita setelah melahirkan khususnya bayi pertama . Biasanya terjadi pada 2 minggu pertama setelah melahirkan . Namun terlihat lebih berat pada hari 3 dan hari 4 , apalagi si ibu dan bayi kembali kerumah dan si ibu mulai merawat bayinya sendiri .
The β€œbaby blues” adalah sebuah gangguan psikologis berupa emosi tinggi yang terjadi pada sekitar setengah dari wanita yang baru saja melahirkan. Gangguan ini mencapai puncak saat 3-5 hari setelah melahirkan dan berlangsung dari beberapa hari sampai dua minggu. Seorang wanita dengan blues bisa menangis lebih mudah dari biasanya dan mungkin mengalami kesulitan tidur atau merasa marah, sedih, dan β€œgelisah” emosional. Baby blues sangat umum , postpartum blues tidak mengganggu kemampuan seorang wanita untuk merawat bayinya, mereka tidak dianggap sebagai penyakit.
Gejalanya adalah sebagai berikut :
β€’ Rasa sedih dan depresi yg mengganggu perasahaan ibu dan menyebabkan ibu sering menangis
β€’ Emosi tak menentu , mudah marah kerap tersinggung dan kerap kehilangan kesabaran
β€’ Cepat lelah dan mengalami pusing kepala
β€’ Tidak percaya diri
β€’ Cemas berlebihan dan merasa bersalah dan tidak berharga
β€’ Tidak peduli kepada si bayi

πŸ€πŸŒ· Depresi post partumπŸŒ·πŸ€
Postpartum depression sering disebut depresi klinis yang terjadi segera setelah melahirkan. Beberapa profesional kesehatan menyebutnya depresi postpartum nonpsychotic.
Kondisi ini terjadi pada sekitar 10% -20% dari perempuan, biasanya dalam beberapa bulan setelah melahirkan .
Tanda dan Gejala: Gejala termasuk suasana hati tertekan, tearfulness, ketidakmampuan untuk menikmati kegiatan yang menyenangkan, kesulitan tidur, kelelahan, masalah nafsu makan, pikiran bunuh diri, perasaan tidak mampu sebagai orangtua, dan gangguan konsentrasi. Suasana sedih, sering menangis, Kurangnya kesenangan atau minat dalam kegiatan yang pernah memberikan kenikmatan, gangguan berat badan, Kehilangan energi, Agitasi atau kecemasan, Perasaan tidak berharga atau bersalah, Sulit berkonsentrasi atau membuat keputusan, Pikiran tentang kematian, bunuh diri atau pembunuhan bayi, Penurunan minat pada seks, Perasaan penolakan. Gejala fisik seperti sering sakit kepala, nyeri dada, denyut jantung cepat, mati rasa, kegoyahan atau pusing, dan sesak napas ringan menyarankan kecemasan.
Depresi postpartum mengganggu kemampuan seorang wanita untuk merawat bayinya.
Ketika seorang wanita dengan depresi postpartum berat menjadi bunuh diri, ia dapat mempertimbangkan membunuh anak-anak bayi dan muda, bukan karena marah, tetapi dari keinginan untuk tidak meninggalkan mereka.
Faktor risiko lain yang diketahui
β€’ Wanita yang mengalami depresi postpartum mungkin lebih sensitif terhadap perubahan hormonal.
β€’ Tingkat hormon estrogen, progesteron, dan kortisol turun drastis dalam waktu 48 jam setelah melahirkan.
β€’ Ketidakseimbangan hormon diduga berperan.
β€’ Penyakit mental sebelum kehamilan
β€’ Penyakit mental, termasuk depresi postpartum, dalam keluarga
β€’ Gangguan mental postpartum setelah kehamilan sebelumnya
β€’ Konflik dalam pernikahan, kehilangan pekerjaan, atau dukungan sosial yang buruk dari teman dan keluarga

🌸 Psikosis Postpartum🌸
Psikosis Postpartum adalah gangguan postpartum yang paling serius. Hal ini membutuhkan perawatan segera. Kondisi ini jarang terjadi.
Gejala :
β€’ Munculnya keyakinan yang salah (delusi), halusinasi (melihat atau mendengar hal-hal yang tidak ada), atau keduanya. Mengalami gejala – gejala ini dalam waktu tiga minggu usia melahirkan.
β€’ Ketidakmampuan untuk tidur, perubahan suasana hati, sensitif.
β€’ Susah beristirahat dengan tenang dan sering merasa takut
β€’ Munculnya pikiran untuk menyakiti bayi mereka lebih cenderung terjadi pada ibu yang mengalami gangguan psikolotik pasca melahirkan
β€’ Jika tidak diobati, depresi psikotik postpartum memiliki kemungkinan tinggi datang kembali setelah masa postpartum dan juga setelah kelahiran anak-anak lain.
β€’ Peningkatan berat badan karena makan berlebihan atau penurunan berat Badan karena tidak mau makan

Penyebab dan Faktor Risiko Sampai saat ini masih belum diketahui penyebab gangguan tersebut. Tidak ada penyebab spesifik dari depresi postpartum telah ditemukan. Tetapi beberapa faktor diduga sebagai faktor penyebab dan faktor resiko

Ibu yang beresiko mengalami gangguan Psikosis pasca melahirkan :
β€’ Ketidakseimbangan hormon.
β€’ Penyakit mental sebelum kehamilan
β€’ Penyakit mental, termasuk depresi postpartum, dalam keluarga
β€’ Gangguan mental postpartum setelah kehamilan sebelumnya
β€’ Konflik dalam pernikahan, kehilangan pekerjaan, atau dukungan sosial yang buruk dari teman dan keluarga
β€’ Keguguran seperti keguguran atau lahir mati .

Hal – hal yang menjadi penyebab munculnya gangguan – gangguan psikologis pasca melahirkan :
β€’ Banyak ibu baru sangat lelah setelah melahirkan dan dalam minggu-minggu sesudahnya.
β€’ Nyeri dan rasa sakit di daerah perineum (daerah sekitar jalan lahir) membuat banyak wanita tidak nyaman. Pemulihan fisik setelah melahirkan sesar dapat berlangsung lebih lama dari setelah proses persalinan.
β€’ Perubahan hormon dapat mempengaruhi suasana hati.
β€’ Perubahan Emosi Perubahan emosi yang sering terjadi setelah melahirkan
β€’ Perasaan kehilangan identitas lama, merasa terjebak di rumah
β€’ Merasa kewalahan dengan tanggung jawab ibu
β€’ Merasa stres dari perubahan dalam rutinitas
β€’ Merasa kelelahan karena pola tidur rusak
β€’ Merasa kurang menarik secara fisik dan seksual
Penanganan
β€’ Kelilingi diri dengan anggota keluarga dan teman-teman yang mendukung, dan meminta bantuan mereka dalam merawat bayi.
β€’ Jaga diri. Dapatkan istirahat sebanyak yang bisa.
β€’ Cobalah untuk tidak terlalui banyak menghabiskan banyak waktu sendirian saja
β€’ Luangkan waktu dengan suami atau pasangan saja.
β€’ Mandi dan berpakaian setiap hari.
β€’ Keluar dari rumah. Berjalan-jalan, melihat teman, melakukan sesuatu yang Anda nikmati. Dapatkan seseorang untuk mengurus bayi jika bisa; jika tidak dapat, membawa bayi.
β€’ Jangan menuntut diri sendiri sempurna. Jangan khawatir terlalu banyak tentang pekerjaan rumah tangga. Tanyakan teman-teman dan keluarga untuk membantu.
β€’ Berbagi dengan ibu-ibu lain. Penderita dapat belajar satu sama lain, dan pengalaman mereka dapat dijadikan sumber pembelajaran.
β€’ Jika depresi terus berlanjut selama lebih dari dua minggu atau sangat parah, berbicara dengan ahli kesehatan. Cukup perawatan saja tidak dianjurkan.
β€’ Pengobatan untuk depresi postpartum tergantung pada bentuk dan derajat keparahan gangguan itu. Mungkin perlu bantuan psikologis dan terapi individu atau kelompok. Konseling perkawinan dapat menjadi bagian dari rencana perawatan Anda. Sangat penting untuk teman-teman dan keluarga untuk memahami penyakit sehingga mereka dapat membantu.
β€’ Untuk Baby Blues mungkin tidak ada pengobatan khusus karena kondisi hilang dengan membaik sendirinya dan biasanya tidak menyebabkan gejala berat. Jika gejala tidak hilang dalam waktu dua minggu, hubungi ahli kesehatan Anda.
β€’ Untuk depresi postpartum, tingkat keparahan penyakit akan memandu perawatan kesehatan profesional dalam memilih pengobatan. Bentuk yang lebih ringan dapat diobati dengan terapi psikologis. Bentuk yang lebih parah mungkin memerlukan pengobatan. Kombinasi dari Terapi psikologis dan medis untuk kasus yang berat akan lebih bermanfaat.
β€’ Obat – obatan Antidepresan
β€’ Terapi hormon: Estrogen, sering dalam kombinasi dengan antidepresan, kadang-kadang membantu dengan depresi postpartum. Beberapa wanita juga membutuhkan terapi hormon tiroid.
β€’ Terapi masih belum terbukti lainnya termasuk penggunaan cahaya terang dan terapi nutrisi (terutama meningkatkan omega–3 asam lemak bebas). Apa beberapa sebut sebagai obat alami, terapi ini belum menunjukkan bahwa mereka adalah pengganti yang efektif untuk lebih intervensi konvensional.
β€’ Jika penderita sedang menyusui, obat-obatan yang diminuml dapat sebagian berpengaruh ke bayi. Beberapa antidepresan dapat digunakan secara aman dengan sedikit risiko untuk bayi dan pengobatan oleh karena itu layak saat menyusui.
β€’ Umumnya, psikoterapi dan obat-obatan yang digunakan bersama-sama. Psikoterapi sendiri mungkin efektif dalam kasus-kasus ringan, terutama jika ibu lebih memilih untuk memiliki pengobatan tanpa obat yang diresepkan.
β€’ Mengajarkan keterampilan ibu seperti menenangkan bayi menangis sering mengurangi gejala depresi selama 2-4 bulan pertama setelah melahirkan.
β€’ Jika gejala tidak dapat dikontrol dengan konseling atau obat-obatan, dan penderita berpikir tentang menyakiti diri sendiri atau bayi, maka dokter akan mempertimbangkan menempatkan penderita di rumah sakit

Situasi emergensi untuk membutuhkan bantuan profesional kesehatan jiwa :
β€’ Ketidakmampuan untuk tidur lebih dari dua jam per malam
β€’ Pikiran menyakiti atau membunuh diri sendiri
β€’ Pikiran menyakiti bayi atau anak-anak lain
β€’ Mendengar suara-suara atau melihat hal aneh
β€’ Pikiran bahwa bayi Anda jahat

Materi Narasumber 2 : Pengalaman merasakan PPD
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh..

Perkenalkan saya Hanny ibu dari 2anak, berdomisili Kab.Bogor
Mudah2an share saya tentang PPD ini dalam menjadi hikmah dan pelajaran bagi kita semua…

Bismillah…
Alhamdulillah saya dikaruniai Allah anak yang sempurna dan sepasang lagi…cukup lengkap lah insya Allah.

Kalau kata orang, apa lagi yang bikin tidak bersyukur sampai2 saya haru mengalami percobaan bunuh diri 2x, frigid dengan suami karena trauma, depresi berlebihan?

Kurang iman mungkin
Kurang pandai bersyukur
Kurang segala2…

Banyak yang menjudge saya seperti itu terutama orang2 terdekat.

Awal mula saya menghadapi ujian ini adalah ketika melahirkan anak pertama.
Saat itu, saat kehamilan, saya alhamdulillah baik2 saja.. Namun ketika trimester terakhir menjelang kelahiran, saya mengalami stress dipekerjaan dan akhirnya bolak balik RS karena kontraksi, anak pertama dilahirkan di minggu ke 37 dalam kondisi tidak sadarkan diri…udah pingsan kelelahan kontraksi dr minggu ke 35..

Setelah melahirkan, karena saya ‘ngotot’ ingin melahirkan normal, saya merasa bersalah, dan merasa kurang karena harus melahirkan SC, ditambah lagi anak saya salah diagnosis, dikatakan kena infeksi paru harus masuk NICU, dan karena kecurigaan saya, hari ke 5 di NICU, Saya minta pindahkan ke RS lain..dan benar adanya, anak saya baik2 saja…πŸ˜–

Perjuangan asi, pasang IUD yang menyakitkan membuat saya menyalahkan suami saya…kenapa saya harus begini??

Hampir 8 atau 9 bulan lamanya saya tidak mau disentuh suami, saya sibuk dengan bayi saya, kerjaan saya, trauma sakit saya..dll

Suami sabar dan tetap mensupport saya, akhirnya suatu malam kami berdialog.. Dan sampailah pada perkataan suami “ikhlas mah, yang bisa kita lakukan hanyalah ikhlas…ikhlas terima semuanya bagian dari hidup kita”

Akhirnya pelan2 saya bangkit, perbaiki terutama hubungan saya sama suami…

Akhirnya setelah 21bulan pasca kelahiran anak pertama, saya hamil lagi, itu tidak direncanakan..karena saya masih pakai kontrasepsi waktu itu..pakai pil..

Orang langsung nebak…”kamu kelupaan minumnya ya?” itu statement nyebelin nomer 1.
“Anak pertama masih kecil udah hamil lagi? Emang bisa ngurusnya?”,statement nyebelin nomer 2.
“Kamu ga kontrol sih jadi bobol tuh”
“Kalo anak kamu lahir siapa yang mau urus?”
“Nanti kamu ga kerja dong?”
Dslb
Dst
Dan selanjutnya…

Saya yang waktu itu belum siap karena baru sembuh dari trauma melahirkan pertama merasa ingin gugurkan saja kandungan ini…
Tapi bingung “iya kalau gugur, lah kalau lahir tapi cacat?” akhirnya ya membiarkan saja, tanpa ada perlakuan khusus, tidak se stricht hamil yang pertama, makan ga dipantang, apa aja masuk…ga pake perhatiin ini itu…denial bahwa saya hamil, menutupi kehamilan hingga usia ke 6bulan..baru mulai timbul rasa khawatir, gimana ya bayi ini, dll..

Awal2 hamil juga sempat asma lebih parah dari sebelumnya, harus terus gunakan inhaler, sering sesak, nyeri di bagian jantung..mungkin juga karena stress

Saat melahirkan, karena berbagai kondisi tersebut, saya terpaksa sterill. Melihat diri ini sudah tidak bisa lagi jadi perempuan seutuhnya krn tidak bisa hamil lagi, dengan luka SC yang luar biasa lebih sakit dr awal..(saya sempat alergi dengan salah satu obat penahan rasa sakit, jadi diberikan parcet saja, dengan rentan pemberian dari parcet IV pertama ke parcet botol kedua harus jeda 6jam dulu, nah itu bikin saya keringet dingin nahannya)

Saya merasa “kok jadi sakit semua ya?”

Sampai rumah masih dirubung pertanyaan orang2 rumah tentang: nanti kerja gimana? Nanti siapa yang urus?emang kamu bisa urus anak 2? Kamu sih ga kontrol KB!, Nanti kalo sterill tapi tetep hamil juga, angkat ajalah rahimnya, dlsb dan pertanyaan itu diutarakan saat2 saya baru2 pulang RS. Ini lah saat2 percobaan bunuh diri saya yang 1
Saat seperti itu, alih2 dikelilingi keluarga terdekat, suami memilih mengungsikan saya ke kontrakan…kami tinggal berempatan aja…kalau siang saya bertiga sama anak. Minggu2 pertama masih ga ada ART, minggu berikutnya baru dapat ART.. Kondisi tersebut malah menyelamatkan saya…

Gimana akhirnya saya keluar dari masalah ini?
Alhamdulillahladzi bini’matihi tstimusholihat..
Allah kasih jalan ke saya:
1. Suami yang luar biasa
2. Teman yang sholihah
3.social media yang mampu saya atur untuk berteman dengan orang2 shalih

Saya menjauh sementara dari orang2 yang berpotensi mempengaruhi jalan pikiran saya…yang memberi dampak negatif buat saya..

Saya berusaha mencari teman2 yang sholillah yang mau membimbing saya..mencari komunitas ya contohnya ceria ini..

Dan yang terpenting…

Saya belajar untuk ikhlas, menerima, dan terutama tutup mata, tutup telinga dari tuntutan memuaskan semua orang. Ga akan sanggup saya kalau berusaha memuaskan orang…menjawab semua pertanyaan orang..dlsb…diamkan saja,tar juga capek sendiri…

Alhamdulillah…terutama disini peran suami yang sangat besar, penerimaan suami, bimbingan suami, alhamdulillah, Masya Allah Allah berikan suami yang sabar, membimbing, mengajarkan untuk jujur pada diri sendiri, untuk ikhlas dengan diri sendiri…

Beberapa kali saya berniatan bertemu psikiater, psikolog atau konsuler semacamnya…suami meyakinkan bahwa saya fine, saya tidak bermasalah…

Suami meyakinkan bahwa kami bisa melewati semua ini…

Alhamdulillah perjuangan dan munajat kami dikabulkan Allah…

Diujung terowongan yang gelap akan selalu ada jalan yang terang

FORUM DISKUSI (TANYA JAWAB)❓❓❓
1. Penanya : Ziyana

Pertanyaan :
a. Gangguan Psikologis pasca melahirkan teh, adakah dr pengaruh gen/keturunan??

b. Jika anak pertama mengalami gangguan psikologis spt ini, apakah kemungkinan hal ini akan slalu terjadi disetiap momen melahirkan atau ada batasan waktu tersendiri?

c. Ada kejadian spt ini pd bibi sy, yg mengalami hal yg ketiga atau paling parah yg pada akhirnya bliau sering berhalusinasi bahkan ingin membunuh anaknya. Hingga saat ini anaknya sudah umur 2thn pun msh ada perasaanny. Akankah hal ini berpengaruh pada psikologis anak hingga dewasa? Terimakasih
JAWABAN
a. Sejauh ini belum ada literatur yang menyebutkan bahwa gangguan psikologis pasca melahirkan bisa dipengaruhi oleh keturunan. Beberapa faktor resiko yang sudah disebutkan sebelumnya lebih kepada sudah memiliki kecenderungan memiliki kecemasan. Maksudnya sebelum hamil emang udah punya gangguan cemas.
Nah si gangguan cemas ini yang mungkin bisa dipengaruhi oleh genetik. Itupun sebenarnya lebih banyak karena proses belajar sosial yang sering tidak kita sadari kita dapatkan dari orang- orang yang penting dalam kehidupan seperti misalnya ibu kita. Misalnya kalau dalam keluarga ada yang mudah cemas sedari kita kecil secara takk sadar kita juga belajar jadi cemas karena mendengarkan keluhan, ata ujaran2 yang menunjukkan kecemasan. BIsa jadi tidak hanya dari ibu, bisa dari orang2 sekitar juga. JAdi tidak selalu masalah keturunan.
b. Apakah selalu setiap lahiran atau melahirkan akan mengalami kejadian yang sama? Jawabanannya tergantung pada proses kehamilan yang dijalani, proses saat melahirkan dan dukungan sosial yang tersedia pasca melahirkan.
Bila dalam kehamilan dijalani dengan normal dan baik2 aja,..lalu menjalani proses melahirkan yang juga dengan baik , disertai adanya dukungan, dari suami dan keluarga besar dan mengerti keadaan kita yang kadang lemah secara fisik dan mental , insyaa Allah akan melewati dengan baik. Dalam arti, faktor nya banyak,…tidak hanya satu atau dua faktor
Namun pada umumnya semua proses gak selalu smooth ,.lancar,..mulus,…ya kan? pasti ada aja paling gak yang membuat ibu baru melahirkan merasakan situasi emosi yang turun naik,..campur aduk,..lelah dan seperti gak berdaya,..itu semua wajar adanya

C. untuk kasus halusinasi, berarti sudah mengalami gangguang psikosis pasca melahirkan. Sebenernya hal ini bisa dihindari bila dari awal sudah terdetesi mengalami depresi post partum atau gangguan stres pasca trauma. Pada umumnya kondisi psikosis didahului oleh gangguan sebelumnya yang lebih mudah untuk diatasi. Bila gangguan tak tertangani maka bisa jadi psikosis yang berarti ada gangguan terhadap kontak terhadap realita seperti adanya halusinasi. Jadi memang sebaiknya sebelum sampai ke psikosis suddah tertangani
Apakah mempengaruhi psikologis anak? Kemungkinan besar iya, karena anak sangat membutuhkan kelekatan pada ibunya pada masa – masa awal kehidupannya untuk membentuk bonding, ikatan, atau attachment. Bila pada tahap awal anak atau ibu tidak bisa membentuk bonding, maka akan muncul rasa tidak aman atau insecure yang lebih lanjut akan memunculkan berbagai perilaku yang merupakan kompensasi dari rasa tidak aman, misalnya anak jadi pencemas, atau anak jadi agresif karena rasa aman tidak terbentuk, maka ia cenderung menyerang orang lain sebegai mekanisme pertahanan diri dair serangan orang lain. Pada umuumnya hal 2 yang turut mempengaruhi kondisi mental ibu yang baru melahirkan salah satunya adalah proses kelahiran yang sering kali bersifat traumatik
pada ibu yang mengalami halusinasi , akan sulit punya kedekatan yang wajar dengan anak karena dia memandang ada sesuatu yang mengancam dirinya jadi dia akan cenderung menjauhkan diri atau sebaliknya menyerang anak nya untuk melindungi dirinya.

2. Penanya : Tina Purwantina

Pertanyaan
2. Pertanyaan dari Teh @Tina Purwantina Somantri

a. Untuk Teh @Harini “Hanny” apakah ada perbedaan “mood” sebelum atau setelah melahirkan, sehingga teteh mengalami PPD? Bagaimana perjuangan utk kembali “normal” lg menghadapinya?Β 

b. Untuk Teh @indah sulistyorini , apakah PPD atau baby blues bisa dicegah?

JAWABAN :
Jawaban dari Teh Hanny
Bismillah saya coba jawab…
a. Saat kehamilan pertama saya baik2 saja, tapi menjelang kelahiran lebih ke arah lelah karen ya itu faktor banyak masalah kehamilan..

Masalah emosi saya lebih karena pengaruh tekanan luar yang waktu itu saya rasakan ‘memojokan saya’…

Perjuangannya Subhanallah…😁

Mencoba mencari apa yang membuat nyaman, begitu ingin nangis ya nangis, begitu ingin marah ya marah…

Alhamdulillah saya punya “tempat sampah emosi” waktu itu, setelah luapan emosi selesai, saya didoktrin, dinasehati…akhirnya sampai pada satu titik I need to change..

Saya cari cara untuk berubah

Jawaban dari Teh Indah
seperti yang teh Hanny juga bilang bahwa, cari tahu apa yang bisa bisa bikin kita nyaman. Oleh karena itu pengenalan dan kesadaran diri penting banget.
Misalnya niy, udah tahu kalo ngeliat yang sedih2,..bisa langsung drop lagi,.ya hindari cerita2 sedih,..entah itu datengnya dari sinetron, apa cerita orang, apa baca ceirta sedih,..trus ntar jadi sedih gak jelas,…nah,..mendingan hindari. Atau sebaliknya,..kenali diri,…apa yang bisa membantu membuat diri merasa nyaman, misal, mandi dengan air hangat,..pake wangi wangian,..mendengarkan murottal, dll
jadi pengenalan diri juga penting untuk proses pemulihan. bisa jadi kita butuh orang lain juga untuk memberi informasi ttg diri kita yang sering kali tidak kita sadari namun orang lain tahu. oleh karena itu penting untuk membuka diri terhadap input dari orang lain tentunya diambil sisi positifnya. Misalnya orang lain bilang, kamu tuh, gak bisa kurang tidur pasti uring2an. Nah kita sadari, berarti upayakan mengganti waktu tidur yang terpakai untuk misalnya mengurus baby di malam hari dengan istirahat tidur di siang hari.

Jawaban tambahan dari Teh Hanny
Saya tambahkan, mengenali diri itu ga mudah…

Ga bisa diri sendiri mengenali oh saya ini begini, saya ini begitu…

Saya harus cari orang yang bisa menilai kelebihan saya secara objektif, ga lebay, juga ga menjerumuskan…
Saya tambahkan, mengenali diri itu ga mudah…

Ga bisa diri sendiri mengenali oh saya ini begini, saya ini begitu…

Saya harus cari orang yang bisa menilai kelebihan saya secara objektif, ga lebay, juga ga menjerumuskan…

b. Menghindari baby blues, saya pikir kita gak tahu nantinya baby blues atau nggak, mendingan selalu siap dengan apa pun yang akan terjadi, hadapi, ketimbang kecewa, udah melakukan semua hal, masih baby blues juga. Oleh karena itu saya lebih sepakat untuk melihat ini sebagai sesuatu yang wajar lalu dihadapi aja. Namun tentu saja persiapan kehamilan dan melahirkan yang baik, bisa jaid meminimalisir dampak yang akan dialami
upayakan mendapatkan informasi yang terbaik terkait proses2 terssebut. Seperti misalnya sebelum hamil, upayakan mendapatkan asupan gizi yang baik, meski tidak harus mahal. Lalu maknailah bahwa proses ini bukan milik perempuan sendiri, melainkan tanggung jawab bersama sehingga setiap apa pun akan dihadapi bersama. Menentukan misalnya mau ke bidan atau dokter, mau periksa kondisi fisik, misalnya tes laboraturium untuk memastikan kesehatan fisik, lalu mencari dari sumber2 yang terpersaya ttg fase2 kehamilan,..mulai dari trimester pertama sampai melahirkan. Memeriksakan diri secara rutin, itu sebisa mungkin suami mendampingi
Persiapan kehamilan tentunya sudah dilakukan bahkan ketika kita menikah, karena tujuannya memang nantinya ingin memiliki keturunan. Oleh karena itu dari awal sudah ngobrol2 sama suami tentang bagaimana dukungannya selama proses sebelum haml, pas hamil, melahirkan, dan pasca melahirkan
demikian pula dengan orang2 yang biasanya akan ada di sekitar kita,..yang sering kali juga menjadi sumber masalah seperti tuntutan2 yang membuat ibu kewalahan atau komentar2 yang gak membuat hati nyaman
Ngobrol dengan bidan atau dokter, mendiskusikan hal2 yang boleh dan tak boleh dilakukan ibu hamil untuk memastikan kondisi ibu dan janin baik sampai lahiran, aktivitas yang masih boelh dilakukan, olah raga yang bisa dilakukan bersama, lalu bila mengaalami sakit juga suami mendampingi untuk memastikan obat2an yang boleh atau tidak boleh dikonsumsi, berbagai pekerjaan rumah tangga , melakukan ibadah bersama
Sebisa mungkin ikut mendapatkan info untuk menghindari mitos atau salah kaprah yang membuat ibu menjadi terbebani
3. Penanya : Litha

Pertanyaan
Saat melahirkan anak pertama, saya baru dua minggu tinggal di rumah mertua, sebelumnya ngontrak.Perasaan saya sehari dua hari sampai sekitar dua mingguan bawaannya sedih terus, kangen rumah (orang tua), sedangkan orang tua saya di Malang, saya di Bandung.

Perasaan ke bayi baik dan nyaman2 aja. Lebih ke adaptasi tinggal di lingkungan baru mungkin. Tapi sebelum melahirkan perasaannya masih biasa. Hal itu termasuk baby blues bukan ya? Apakah itu wajar? Pengaruh hormon? Terimakasih

JAWABAN
Teh Litha,..memang pasca melahirkan, ada hormon2 yang juga sedang dalam proses penyesuaian. Bisa menimbulkan rasa sedih karena hormon juga sangat erat dalam pengaturan emosi. Proses adaptasi, mungkin juga bisa karena tentunya berbeda tinggal di rumah sendiri dan rumah mertua meskipun misalnya mertua baik banget, tapi tetap aja, ada tuntutan dalam diri untuk menyesuaikan diri dan itu butuh energi tersendiri.
Dalam keadan lemah dan lelah,..hal yang biasa dan wajar bila kita merindukan sosok ibu kita sendiri karena ibu melambangkan rasa aman, seperti yang saya sudah sebutkan. Seirngkali ibu melahirkan lebih butuh ibu nya ketimbang suami.
itu wajar. Keberadaan ibu kandung atau yang membesarkan kita membuat kita merasa berada dalam situasi yang aman bila memang sebelumnya kita memiliki hubungan yang baik atau ikatan yang kuat.
Jadi gpp kalo sedih, teh Litha sepertinya mengalami baby blues. Nah kalo rasa sedihnya berlanjut lalu jadi gak bisa ngapa2in, seperti gak bisa merawat bayi, males mandi, makan,pengennya nangis terus tanpa sebab dan sudah lewat dari 2 minggu,..hati2 hal tersebut sudah mengarah ke depresi.

4. Penanya : Dias

Pertanyaan
Saya kan kondisinya dituntut keluarga utk kerja karena udh sarjana, terus qadarullah dititipi anak dg kondisi epilepsi sejak lahir dg durasi dan frekuensi kejang yg tinggi, alhamdulillaah sdh tdk lagi, tp efeknya anak jd berkebutuhan khusus.
Kadang rasanya ingin menuntaskan semua tugas, tp keterbatasan anak jg lumayan menghambat.

Baru aja lulus profesi, harapan bisa langsung kerja, qadarullaah dikaruniai hamil lagi. Dias khawatir ppd menyerang lagi. Niat menghindar dg pisah rumah, malah dias takut menyakiti anak pertama nantinya.

Baiknya gmn utk menghindari kemungkinan PPD lagi? Dg kondisi jarak anak pertama dan kedua 3 tahun, dan anak pertama blm paham jika diajak bicara, dan blm bisa bicara yg dapat dimengerti.

Jawaban dari Teh Indah
Saya pikir kita kembali lagi harus mengenali kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Mumpung masih ada waktu, coba buatlah perencanaan yang realistis selama hamil ini untuk mempersiapkan ala sesuatunya pasca melahirkan nanti.
bicarakan dengan suami, karena pasti anak juga butuh therapy bila usia 3 tahun belum paham jika diajak bicara dan belum bisa bicara. Speech terapy
Kalau sebelumnya memang mengalami ppd, coba pikirkan waktu itu apa yang bisa membuat teh Dias mempu melewatinya dan bisa kembali sekolah dan melakukan fungsi sehari hari
Saya pikir kuncinya memang di persiapan , manajemen waktu dan penerimaaan diri. perencanaan yang baik bisa meminimalisir dampak yang akan dihadapi khususnya terkait hal – hal yang nantinya sulit untuk kita kendalikan misalnya pengasuhan anak kedua yang berkebutuhan khusus, apakah sudah mendapatkan penanganan yang baik. Tentunya kerja sama dengan pengasuh yang membantu, juga dengan suami pastinya yang mungkin nanti ikut mengawasi perkembangan anak, membantu memenuhi kebutuhan si kakak, selama teh Dias dlam proses penyesuaian diri setelah malehirkan dengan berbagai emosi yang menyertai.

Jawaban dari Teh Hanny
-Teteh sendiri maunya kerja atau tidak?
Kalaumau kerja bisa dicari solusinya bareng2 dengan suami…

Kalau maunya ga kerja, mendampingi anak ga usah denger tuntutan siapapun…Allah menuntut kita jadi ibu sholihah, bukan jadi ibu sarjana pekerja…

Saya juga punya pengalaman, “kamu lulusan PTN, trus ga kerja?”
Hadoh…πŸ˜“

Itu efek banget buat saya, beberapa kali merasa useless. Saya kerja sudah dari tahun pertama kuliah, skrg ga kerja? Berasa jadi sampah masyarakat…apalagi ibu saya seumur hidupnya wanita karir…makinlah saya dipojokan…

Tapi sekali lagi, prioritas mana yang harus lebih dulu diutamakan?

Suami saya pun berkali2 bilang “bila ada kesempatan kerja/kuliah, anak2 bisa terjamin aman, silahkan, aku ga mau menghambat impian kamu”

Tapi saya juga selalu bilang “bukan menghambat impian, tapi ditunda aja dulu…tar juga pas ada waktunya ya dikasih jalan sama Allah”

Benar saya dikasih Allah kerjaan yang bisa dihandle dari rumah…bisa keluar ngajar sekali2 saat anak2 sama bapaknya..

– masalah ketakutan kenapa2 dengan anak…coba bicara jujur sama anak, kalau lagi capek, bilang mama capek, kalau lagi g sanggup bilang “bantu mama,mama capek, mama sakit, tlg mama”
Yang jelas hindari untuk menjadi perfeksionis dalam hal apa pun utamanya dalam mengelola rumah tangga
Maaf saya pikir apa yang dikatakan ortu jangan diambil hati, karena segala sesuatu yang kita alami saat ini sudah qodarullah juga, jangan menyalahkan situasi karena kita juga sudah memilih, Yang penting terus berjalan ke depan, hadapi segala tantangan, di cari jalan keluar yang terbaik bersama suami, kuatkan diri dan berharap pertolongan ALLAH SWT
Yup saya pikir mengelola prioritas memang penting dan juga menjadi kunci untuk mengatur supaya semua bisa berjalan.
namun tetaplah bersikap baik thd ortu dan minta ridho dan doanya selalu.

5. Penanya : Ibu X
Pertanyaan
Sy mau mengajukan pertanyaan buat teh indah :

Sejak sy msh anak2, sy merasa mengalami banyak goncangan dlm hidup sy, mulai dr orng tua sy bercerai shg sy kehilangan sosok ayah & ibu sekaligus. Hidup terpisah dgn ayah, ttpi hidup dgn ibu sy yg bekerja. Dan ada banyak kejadian lagi yg menguras emosi sampai pd klimaksnya sy prnh bbrp kali menangis hingga pingsan.

Kemudian sy menikah dan melahirkan, sy sempat khawatir mengalami baby blues krna sy sadar bahwa sy tdk stabil secara emosi. Tp Alhamdulillah suami sy sangat menyayangi sy bahkan menemani sy 24 jam selama bbrp minggu setelah melahirkan, dan sy sama sekali tdk mengalami tanda2 baby blues sperti di atas.

Prtanyaan sy, apakah sy msh mungkin mngalami baby blues pd kelahiran anak kedua dan selanjutnya jika krna kesibukan suami sy tdk bs menemani sy sesering dulu?

Kl misalnya bisa, separah apakah baby blues yg sy alami mengingat ketidakstabilan emosi sy? Trimakasih
JAWABAN
Alhamdulillah ya teh suami nya komit dalam memberikan dukungan sehingga terbukti di sini bahwa meskipun ibu X mengalami banyak goncangan yang membentuk kepribadiannya saat ini ibu X tidak merasakan mengalami baby blues. Artinya di sini betapa dukungan orang terdekat menjadi faktor yang sangat penting bagi ibu pasca melahirkan. Nah apakah kemudian bila suami tidak lagi bisa mendampingi ibu akan mengalami baby blues? Masalah baby blues adalah masalah yang sangat terkait dengan kondisi emosi dan hal itu terus terang tidak bisa benear2 diprediksi dengan tepat. BIsa jadii iya bisa jadi tidak. Saya hanya berharap selalu ada yang bisa dipelajari dari pengalaman masa lalu paling tidak pengalaman mengajarkan tentang siapa diri kita , apa kelemahan dan kelebihan diri kita, apa yang bisa biikin diri kita merasa nyaman atau sebaliknya, itu lah yang bisa jadi pegangan. Hal – hal tersebut yang masih berada di dalam kendali kita . Kalau pun misalnya nanti suami tidak bisa mendampingi seperti kelahiran anak pertama, kenali lah,..hal – hal yang sebaiknya kita hindari untuk kita lakukan yang bisa membuat emosi kita menjadi galau atau tidak stabil, sebaliknya lakukan lah hal2 yang membuat kita merasa nyaman sehingga kita bisa menjadi kuat dan mampu melakukan kegiatan sehar hari dengan emosi yang relatif stabil. Ya namanya emosi pasti ada turun naiknya,..yang penting kita masih dalam situasi mampu mengendalikan .

Dukungan sosial bisa didapatkan tidak hanya dari suami tetapi juga darirekan- rekan, sahabat yang mengerti , sesama ibu yang bisa memberikan dukungan seperti wa grup ini. Kalau perlu sesekali mengadakan pertemuan bisa ada yang berdekatan lokasi nya. Saling mengunjungi di kala ada yang melahirkan dan memberikan support.

6. Penanya : Wenny

Pertanyaan

Mau bertanya pada teh Indah, setelah saya melahirkan putra saya, perasaan yg timbul adalah takut terhadap dokter yg membantu proses persalinan yg telah saya lewati ( saya melahirkan normal )..saya nangis terus karena merasa proses itu berulang dan ada terus dipikiran saya..suami termasuk suami siaga, keluarga jg seperti itu, alhamdulillah saya tetap bs kc ASI eksklusif..sekitar 2 bln saya tdk mau mengingat dokter yg membantu persalinan, dtng kerumah sakit takut atau tdk mau menceritakan proses kelahiran bila ada yg bertanya.. apakah ini termasuk juga Β baby blues atau saya hanya trauma pd sikap dokter yg marah2 ketika proses persalinan sedang berlangsung ?

JAWABAN
Memang benar Teh Wenny, dokter salah satu faktor yang bisa membuat ibu mengalamikejadian traumatik saat melahirkan. Saya bisa pahami bahwa di saat – saat kita dalam kondisi yang sangat membutuhkan bantuan baik secara medis maupun dukungan moral, malah mendapatkan perlakuan yang membuat kita merasa gak nyaman. Sebaiknya teh Wenny mencari alternatif dokter yang lebih baik untuk kehamilan selanjutnya . Tentu saja sikap dokter bisa mempengaruhi emosi kita. Baby blues biasnya berlangsung mulai dari setlah melahirkan hingga 2 minggu setelahnya. Bila masih berlanjut ada kemungkinan bisa mengalami depresi pasca melahirkan, namun bila yang sulit dilupakan adalah perilaku dokter saja namun peristiwa melahirkannya sendiri tidak menjadi ingatan yang menyakitkan maka memang perilaku dokter menimbulkan kondisi traumatik.
Dalam kasus peristiwa traumatik, berjalannya waktu memang cukup membantu dalam pemulihan. Namun kita juga bisa secara aktif melakukan hal – hal yang mengurangi kondisi traumatik seperti mencoba menemukan dokter lain yang jauh lebih baik, lebih ramah dan membantu . BIsa sekedar berbincang2, bisa mencari informasi tentang sikap dokter yang baik seperti apa, sehingga paling tidak bisa mengubah pola pikir kita bahwa tidak semua dokter bersikap sama terhadap ibu melahirkan pada proses kelahiran. Ini untuk menggantikan secara perlahan pada memory kita tentang sebuah sosok yang bernama dokter. Meski ingatan manusia tidak sama dengan komputer yang bisa di cut lalu di paste dengan gambar yang lain, tapi kita bisa punya alternatif lain.
Saya menyadari mengalami depresi postpartum sejak memiliki bayi dan pencetus utama adalah salah satu orangtua yg tinggal serumah. Karena beliau selalu mengomentari cara saya merawat bayi saya, terlebih bila berbeda dgn cara beliau. Saya merasa selalu disalahkan, tidak ada ruang untuk mandiri. Saya pernah meminta izin suami untuk pergi ke psikolog namun tidak diizinkan. Suami selalu membesarkan hati saya, mengatakan beliau hanya perhatian ke saya. Suami juga memberikan dukungan lebih dan selalu mengingatkan untuk mendekat ke Allah. Alhamdulillah, hal itu berhasil. Namun adakalanya saya “kambuh”, nangis seharian, tidak nafsu makan, sering kelelahan emosi & fisik

7. Penanya : Ibu R

Pertanyaan
Saya menyadari mengalami depresi postpartum sejak memiliki bayi dan pencetus utama adalah salah satu orangtua yg tinggal serumah. Karena beliau selalu mengomentari cara saya merawat bayi saya, terlebih bila berbeda dgn cara beliau. Saya merasa selalu disalahkan, tidak ada ruang untuk mandiri. Saya pernah meminta izin suami untuk pergi ke psikolog namun tidak diizinkan. Suami selalu membesarkan hati saya, mengatakan beliau hanya perhatian ke saya. Suami juga memberikan dukungan lebih dan selalu mengingatkan untuk mendekat ke Allah. Alhamdulillah, hal itu berhasil. Namun adakalanya saya “kambuh”, nangis seharian, tidak nafsu makan, sering kelelahan emosi & fisik.

Pertanyaannya, di saat bayi saya menginjak usia 10 bulan, apakah hal ini masih wajar terjadi? Adakah yg salah dgn saya?
JAWABAN
Mencoba berbagi yaa…

🍏untuk ibu R…
Saya sampe hampir 2tahun ngalamin “sakit” ga jelas…
Intinya sih lebih ke penerimaan…
Ikhlas menerima iya saya sedang ada masalah nih…ga usah terbawa perkataan orang bahwa kita ga boleh ngeluh, kudu strong, dlsb…
Bahkan Nabi aja pernah mengeluh lelah, mengeluh marah, apalagi kita…
Analoginya gini…
Kita kena flu…kalo kita deny “kita kuat kok” yang ada kita zolim sama tubuh, malah lebih parah tumbangnya…

Sama dengan masalah batin, bilang “aku ga ngeluh, aku harus kuat” yang ada kita zolim kepada batin kita…
Terima saja…ngeluh kalau memang kita punya tempat ngeluh, solat, menulis, curhat pada orang yang tepat..dlsb…
Badan butuh vitamin, obat, istirhat saat sakit…

Jiwa pun demikian

8. Penanya : Nurul
Pertanyaan

a.kalau anak pertama mengalami baby bluse apakah di kelahiran kedua akan mengalami hal yang sama?

b.setelah melahirkan sampai sekarang anak berumur 11 bulan masih suka lebih sensitif dri sebelumnya terutama ketika bhs ttg anak pasti gampang tersinggung dan sedih apa saya masih baby bluse soalnya dari materi yg dibaca rentan waktu baby bluse gak lama. Apakah ada batasan waktu bagi seseorang terkena baby blues?

JAWABAN
a. Gak bisa memastikan apakah akan mengalami juga..tergantung banyak faktor . yang pasti dukungan orang2 terdekat terutama suami sangat penting. juga bagaimana tuntutan lingkungan. kalo gak banyak tuntutan dan bisa memberikan dukungan tanpa syarat maksudnya harus bisa begini begitu mudah2 an gak menimbulkan baby blues. kalo pun baby blues juga ya gapapa. hadapi dan jalani aja. pastikan mendapatkan dukungan yang dibutuhkan dan menerima bahwa butuh dukungan yg bisa membantu mengurangi dampak yg dirasakan. Juga mencoba utk menemukan cara2 yang cocok buat diri sendiri utk keluar dari baby blues misalnya kalo butuh pijat. .ya panggil tukang pijat. atau pengen ketemu temen2 lama biar bisa ngobrol sambil ketawa2 ya undang temen2 ke rumah. Apa aja yg bisa bikin tenang seperti dengerin murottal..dzikir. ..relaksasi… lalu mencoba utk mengenali emosi sendiri..sejauh mana bisa merasa lebih baik.

b. kalau teorinya baby blues berlangsung sampai 2 minggu setelah lahiran..setelah itu kalo masih intens dan memburuk bisa jadi mengalami depresi postingan partum. memang kenyataannya gak lurus langsung selesai bisa turun naik. Namun jangan kuatir..apapun sebutannya yg penting adalah mengenali kebutuhan diri sendiri. jadi memang ada yg berlangsung lama . tiap orang beda2 apalagi kalau sumber stres nya di depan mata dan dukungan sosial berkurang atau gak cukup. Oleh karena butuh keterbukaan dan komunikasi yg baik dengan suami dan orang-orang terdekat tentang apa yang teteh alami dan ungkapkan harapan teteh sehingga mereka bisa mengetahui apa yang harus dilakukan utk bantu teteh. Misalnya sebisa mungkin jangan ngomongin masalah anak. Bikin sensitif. Kalo emang dirasa ada yg kurang…ya bisa minta pendapat ahli seperti dokter anak. Jadi ungkapkan lah apa yg Anda rasakan. .jangan direndam sendiri. Bila merasa sudah kewalahan dan membutuhkan ahli..jangan sungkan dateng ke psikologi untuk mendapatkan bantuannya profesional. Ingat lah ini hidup teteh..tetep pilih utk memperjuangkan kebahagiaan teteh bersama suami. Percaya pada diri sendiri bahwa langkah yg diambil seperti meminta bantuan adalah langkah yang tepat bila dirasakan rasa sedih nya menjadi dominan dan mengganggu fungsi hidup sehari hari. Seperti jadi malas segala misal tidak nafsu makan, enggan merawat bayi , enggan untuk
mandi. Nah kalo uda malas ngapa2in ini yang bahaya
semoga anak terlindungi.

9. Penanya : Teh Rani

Pertanyaan
Soal depresi post partum, mungkin terjadi karna belum siap dan terbiasa dengan pola baru, urus anak, suami, rumah dan waktu untuk diri sendiri juga. Itu jadi penyebab stress saat semuanya tidak berjalan dengan baik / keteteran. Gimana teh caranya bagi waktu untuk semua itu? Dan sejauh mana sebaiknya kita melibatkan suami?

JAWABAN

🍏Teh Rani
Justru terkadang baby blues dan PPD terjadi karena kita terlalu siap…

Semua dirancang sesuai dengan list perencanaan, saat plan A tidak sesuai maka ada plan B..tapi ternyata Qadarallah zemua plan yang dibuat tidak ada yang sesuai plan yang seems perfect tersebut…pusing lah kita..

Gimana cara bagi waktu? Prioritas…
Mana yang lebih penting? Anak dulu atau rumah dulu? Makanan atau bebenah?dst…

Sejauh mana sebaiknya kita melibatkan suami, sejauh apapun yang harus dilewati oleh sepasang suami istri…saat kita bersatu didepan penghulu..kontrak kita bukan hanya si eneng jadi istri dan si akang jadi suami..tapi sudah merupakan kesatuan…masalah istri ya masalah suami begitu sebaliknya, bahkan dosa istripun dosa suami…

Jadi sudah ga ada lagi ini masalah aku biar aku yang handle, kamu suami ga usah ikut campur…

Anak bikin bareng ya urus juga bareng2, rumah tinggal bareng2 ya urus juga bareng2…

10. Penanya : Teh Yuher

Pertanyaan
Saya mau bertanya :
1. Diskusi di grup ini sudah membahas tentang apa dan bagaimana PPD. Mulai dari mengenali gejalanya hingga solusi menuntaskannya. Nah, pertanyaan saya, sebagai orang yang mungkin kenal/tahu ibu2 yang mengalami ppd, apa yang bisa dilakukan untuk menolongnya? (Selain stop judging and bad saying).

2. Saya punya rekan di sini, kebetulan kami sedang berada di Taiwan. Rekan saya ini pengantin baru, masih muda (baru tamat S1) dan mereka berencana untuk menunda kehamilan, karena masih proses adaptasi dengan lingkungan baru. Tapi.. qadarullah… Allah beri kepercayaan dan rekan saya ini hamil. Yang saya amati dan dari curhatannya, tampaknya ada denial dari rekan ini bahwa dia hamil. Di satu sisi dia bahagia, namun di sisi lain tampak belum siap. Apalagi selama kehamilan ini selalu mual-mual dan muntah2 parah. Penciumannya jadi sangat sensitif, bau dan harum dikit (mau itu wangi makanan atau parfum sekalipun) langsung mual dan tak jarang muntah. Jadi suka nyolot dengan orang lain, kalau ada yang protes dengan kesensitifannya (ini dia langsung yang bilang), kebetulan dia tinggal di shared apartment, satu rumah ada bbrp org yang tinggal (semacam kos2an). Susah makan, karena tidak tahan dengan bau2 tadi.

Perubahan lain yang saya amati, rekan saya ini jadi kurang fokus dan sering kali seperti orang linglung. Di kampus suka jalan-jalan sendiri, ketika di tanya ada apa dia jawab “nggak tau cuma mau jalan-jalan aja”. Beberapa kelas di drop, dengan alasan terlalu berat dan dia mau ambil kelas yang ringan-ringan saja (rekan ini sedang kuliah master). Sangat senang menyendiri (sebelumnya tidak begitu), jika saya mencoba menemani dia akan mencoba mencari cara agar saya menjauh. Misalkan saat pulang, biasanya bareng, namun dia bilang “mbak duluan aja karena saya mau naik bus X”, bus yang tidak lewat depan rumah saya tp lewat depan rumah dia. Yang mana biasanya kami naik bus Y (berhenti dpn rumah sy dan dia).

Sedikit tambahan mengenai kondisi rekan saya ini, dia kuliah tidak di support dengan beasiswa 100%, sehingga dia harus bekerja part time 2 kali seminggu. Dia juga galau, bagaimana ketika anaknya lahir nanti, karena ibunya sudah wanti2, nanti anaknya dititipkan ke ibunya saja (di Indonesia). Dia tidak bisa menolak dan ibunya memang cukup dominan (seperti kedatangannya ke Taiwan, dia hanya mau menemani suami study tapi oleh ibunya disuruh sekalian sekolah juga), tapi dia pun tidak mau berpisah dengan anaknya nanti.

Saya khawatir, dengan lika-liku proses kehamilannya dan kondisinya saat ini, bisa memicu PPD nantinya. Nah, sebagai teman, apa yang bisa saya lakukan untuk membantu rekan saya ini?

Terima kasih sebelumnya dan maaf kepanjangan 😊😊

JAWABAN
Jawaban dari Teh Hanny
1. Open your hand, offer help as many as you can…
Tanyakan sesimple apa kabarmu hari ini? Gmn kamu?..dll…
Dan tanyakan “kamu mau dibantu apa?” semacam itu…
Itu sangat membantu..
Saat ibu baru melahirkan, banyak orang yang sudah heboh dengan bayinya…sebisa mungkin kita heboh dengan ibunya…misal kasih kado KHUSUS buat ibunya…bukan bayinya…itu membantu banget ibu ngerasa “finally, ada orang lain memperhatikan saya”.
Kalau dy curhat, jangan dulu lsg bikin statement “serahkan semua pada Allah, jangan ngeluh, Jangan berburuk sangka, dlsb”
Seolah yang lagi curhat ga pernah doa…kita ga tau berapa liter air mata yang sudah dia curahkan dalam doanya, kita ga tau berapa jam duduk sila dan berapa ribu istigfarnya…
Dengar saja dulu curhatannya dan cukup bilang “I’m trying to feel it” kalo emang ga ngerti mau ngomong apa..kadang orang cuma butuh telinga, butuh ‘tempat sampah’ curhat..Fitrahnya perempuan kalau ada masalah butuh sosok untuk diajak bicara…
Kalau ke rumah dy, apalagi dy ga ada ART, ga usah duduk manis, justru suruh dy yang duduk manis… “sini aku beresin rumahnya, kamu duduk manis aja…udah diem2 aja tuh aku bawain pizza, skalian ma lulur, abis makan sana luluran mumpung si dedek bobo”

Pertanyaan ke 2.
Believe it or not…faktor terbesar saya PPD waktu itu ya ibu saya..
Tapi saat ini, saya menyadari…mungkin ibu saya hanya ingin yang terbaik buat saya versi dia…dy lupa tanya terbaik yang versi saya apa…
Di sini peran suami sangat amat penting…suami saya saat itu menjadi benteng saya, menjadi tameng saya, garda perlindungan terkuat buat saya

Saya curhat dengan suami
1. mau saya seperti apa
2. Kendala yang saya hadapi untuk mewujudkan mau saya
3. Solusi yang saya punya

Minta suami untuk koreksi dan sama2 diskusi…dan setelah itu karena saat itu saya ga sanggup buat bicara dengan ortu saya sendiri, maka saya suruh suami untuk bicara, sesuai dengan apa yng sudah kami diskusikan sebelumnya…

Alhamdulillah ibu saya lebih nurut sama suami saya…

Jadi saat2 genting seperti itu peran suami sebagai pelindung keluarga sangat besar

🍏 Pada intinya proses saya healing saya 90%nya dibantu oleh suami…saya selalu jujur mengungkapkan apapun yang ada dalam diri saya ke suami..
Dan suami selalu berusaha untuk bicara juga…suami pada dasarnya tipikal introvert…tapi saya selalu ‘paksa’ dy untuk bicara apapun kepada saya…

Alhamdulillah, suami mampu menjadi garda terdepan pelindung keluarga…

Insya Allah, seorang suami sholih insya Allah akan mau bertanggung jawab terhadap keluarganya lahir dan batin…

Cumaaaaa….

Suami itu butuh dikasih tau, kadang problemnya adalah…

Suaminya ga tau, kitanya gengsi ga mau kasih tau tapi berharap suami tau…

Buibu, suami kita bukan cenayang atau tokoh drama korea yang ga dikasih tau langsung paham maunya perempuan 😁

Jawaban Teh indah

Yang bisa didilakukan juga adalah membantu mengenali diri kawan/teman kita, kadang- kadang orang memang butuh umpan balik untuk membantunya melakukan hal – hal yang baik bagi dirinya sendiri. Juga membantu memberikan infomasi yang benar tentang berbagai hal seputar kehamilan atau melahirkan tanpa bermaksud mengajari. Kadang2 beredar mitos2 yang gak benar dan membebani calon ibu dan ibu yang melahirkan, misallnya sebelum 40 hari setelah melahirkan gak boleh keluar rumah nanti sawan. Atau gak boleh minum es krim nanti pilek. Bisa saja memberikan majalan atau buku2 bacaan ringan untuk dibaca dikala senggang sebagai hiburan, juga sekedar menemani dan mendengarkan keluh kesahnya saat ada masalah tanpa banyak memberikan komentar. Kadang2 orang hanya butuh didengarkan. Juga termasuk memberi ruang gerak pribadi bila ia sedang ingin sendiri.
utk masalah teman nya..tampak nya memang cukup pelik ya teh. Namun bukan berarti gak ada jalan keluar. Yup benar tampaknya dia gak siap menerima kenyataan bahwa sudah hamil sementara dia punya banyak rencana yg bisa jadi terhalang dengan adanya situasi ini. Pada dasarnya selalu ada hal2 di luar kendali kita bahwa kalau akhirnya hamil berarti kita meyakini bahwa ini kehendak Allaah juga. Artinya ya memang dia harus menyesuaikan dengan situasi ini dan mencoba utk lebih realistis dan mengatur ulang rencana2 ke depan
Keinginan nya utk terus menyendiri mungkin dia sedang bergulat dengan konflik yg ada di dalam dirinya. Berikan saja ruang utk dirinya. ungkapkan bahwa anda memiliki kepedulian pada nya namun memberi kesempatan pada dia utk menentukan apa yg bisa dibantu . Orang akan lebih merasa nyaman bila punya kendali atas hidup nya sendiri meski buat orang lain sepertinya kok mau dibantu susah amat sih. Karena hal itu mempengaruhi kepercayaan dirinya yg awalnya saja sudah bergulat dengan banyak hal utk memutuskan ikut suami di negeri orang
Jadi kalau kita mau membantu kita pastikan tidak membuatnya merasa tidak berdaya
Ya saya pikir dia harus membicarakan berdua suaminya utk mengambil keputusan2 penting bagi keluarga kecil mereka sendiri. Yang bisa kita bantu adalah memastikan dia mendapatkan bantuan bila dia membutuhkan.
Selain itu sadari biar bagaimana kita adalah orang luar. Boleh saja mengingatkan untuk berhati2 dalam bersikap khususnya terhadap orang lain krn ada di negeri orang. biar bagaimana pun orang lain juga berhak merasa nyaman khususnya bila berbagi apartemen.

KESIMPULAN
βœ” Karena hamil , melahirkan dan pasca awal setelah melahirkan memang fase fase yang kritis terhadap berbagai perubahan tidak hanya fisik namun juga psikis

βœ” Pengenalan diri sangat berperan penting dalam proses pemulihan jiwa

βœ” Untuk menciptakan lingkungan sekitar yang kondusif diperlukan keterampilan berkomunikasi yang efektif agar interaksi dengan orang orang di sekitar terjalin dengan baik

Senam Hamil dan Hikmah Gerakan Sholat

Jika kita meneladani persalinan Maryam yg sudah dibahas sebelumnya, menjelang persalinan ibu hamil sebaiknya tetap aktif beraktifitas yg dapat mendukungΒ kelancaran proses persalinan kelak. Tapi, tahukah Bu, gerakan sholat yg setiap hari kita tunaikan juga memiliki manfaat yg gak kalah dari senam hamil, lho! Berikut ini di antaranya:

1. Lamakan gerakan rukuk

Untuk ibu hamil yang sering merasakan sakit pada punggung dapat menggunakan gerakan rukuk dalam waktu tertentu untuk mengembalikan posisi ruas-ruas tulang punggung ke tempat yang benar sehingga dapat meringankan rasa sakit.

Rukuk yang benar yaitu punggung lurus dan sejajar dengan kepala.

rukuk

Dengan latihan rukuk selama 3 menit, kita akan mendapat manfaat berikut:

Continue reading