Notulensi Pojok Ilmu Ceria- Tanya Jawab tentang Kulwap Renungan Akhir Tahun

Berikut notulensi tanya jawab bersama teh Karina Hakman

Pertanyaan Pertama
dari rangkuman yang diberikan oleh momod, mau menanyakan bagaimana agar perempuan yang belum menikah/sudah dapat istiqomah dalam segala hal yg sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah?

Jawab:
Pertama, baik belum atau sudah menikah, masing-masing memiliki kesempatan yang sama untuk istiqamah. Termasuk yang sudah punya anak, tak memiliki aladan di hadapan Allah utk kemudian tidak istiqamah.
Kedua, masing-masing orang akan memiliki cara sendiri untuk tetap istiqamah. Tapi dari yang saya pelajari, minimal, harus ada amalan2 ini yang tidak ditinggalkan:

1. Shalat wajib yang senantiasa dikuatkan kualitasnya. Meski kita telah belajar shalat dari SD, tidak menjamin shalat kita sempurna. Menguatkan kualitas shalat, akan melahirkan khusyuk dan nikmat, dari sana akan lahir keinginan menegakkan “shalat” di antara waktu2 shalat, yang kemudian menjadi tameng dari perkar keji dan mungkar (lihat QS. Al Ankabut:45)
termasuk bagi para Ibu, saya sangat tersentuh dengan nasehat teh Patra (fb Yuria Cleopatra) bahwa jangan menjadikan anak sebagai alasan mengurangi kualitas shalat. Sebisa mungkin kita usahakan shalat seikhlas mungkin, se ontime mungkin, serapih mungkin, lengkap dengan sunnah dan dzikir.

2. Halaqah/kajian Intensif pekanan.
Syaitan itu suka dengan yang bersendirian, yang lebih mudah digoda, karena tak ada yang menjaga, melindungi, dan meningatkan. inilah salah satu hikmah, bahwa kaum tidak merugi adalah yang senantiasa saling nasehat menasehati dalam kebaikan (lihat QS Al Asr), kaum yang kemudian dicintai Allah adalah yang berada dalam barisan/Shaf yang rapi seperti suatu bangunan yang kokoh (lihat QS. Ash-Shaf; 4).. ditambah dengan tarikan2 godaan2, setidaknya minimal sepekan sekali kita diingatkan untuk tilawah, untuk muhasabah (ketika mengisi lembar mutabaah), untuk mengingati Allah (melalui nasehat), untuk bersyukur (melalui silaturahim), dst.

3. Secara rutin membaca Al Quran setiap hari (dengan penjelasan di atas)

4. Cari amalan andalan apapun itu yang paling cocok dengan kita, dan istiqamahlah, walaupun hanya sedikit, walaupun sepertinya kecil. Allah tidak akan bosan dengan amalan yang sedikit be menurut kita, Allah justru suka dengan amalan yang sedikit tapi konsisten.
amalan andalan tak mesti dalam bentuk yang bisa dihitung,bisa dari akhlak, amalan hati, dst. intinya… bagaimana kita bisa terus beramal shaleh, karena satu amal shaleh akan membimbing kepada amal shaleh berikutnya.
Pertanyaan Kedua
bagaimana cara untuk mengajak saudara /i kita dalam kebaikan tanpa membuat ia merasa sakit hati? karena berharap kebaikan yg kita dapati dapat dirasakan oleh saudara /i kita yg belum mendapatkan kebaikan tsb?
Jawab:
alhamdulillah sudah ada niatan mengajak orang lain..
secara ringkas adab mengajak orang lain ada di QS An Nahl: 125 dan QS. Thaha : 42-46.

Secara ringkas intinya adalah:
1. luruskan niat untuk mengajak orang kepada jalan Allah. Yang terpenting dia ingin ada di jalan kebaikan, masalah sampainya kapan, itu adalah kekuasaan Allah dan hati manusia. (QS.16:125)
2. Jangan lalai mengingati Allah (QS. 20:42)..
Salah satu nasehat awal2 Allah kepada Musa yang akan menghadap Firaun ternyata adalah “jangan lalai mengingati Allah” πŸ™‚
3. Nasehati dengan cara yang ahsan (Thaha: 44, An Nahl 125)
Kenali dulu, bangun hubungan hati, kemudian bangun rasa tsiqah (percaya), dan sampaikan dengan perkataan yang lembut… 😊 karena bahkan kepada Firaun saja, Allah titipkan kepada Musa agar berbhcara dengan lemah lembut…
4. Berdoa..
di ayat yang sama (44) , Allah menyampaikan yang artjnya “mudah-mudahan dia sadar atau takut”
5. Memohon petunjuk dan Tawakkal kepada Allah.. πŸ™‚

Karena tugas kita hanya memberi peringatan, dan hanya Allah yang mengetahui jalan terbaik. maka tidak ada pilihan selain kitalah yang lebih dahulu menguatkan hubungan dengan Allah, memohon petunjuk dari Nya, mengamalkan dakwah di jalanNya, dan tawakkal kepadaNya. Allahualam bishawab..
jika dia belum bersedia, ada dua kemungkinan,
1. bisa jadi kita yang belum optimal mengimplementasikan poin 2-5.
2. bisa jadi memang hatinya yang belum terbuka..
tapi hakikatnya dalam menasehati kita hanyalah seorang penasehat, yang memang harus bersabar. Kayaknya kita nggak ada apa2nya kalau dibanding Nabi Nuh yang ratusan tahun berdakwah.. 😊 dan terkadang, hasil dari nasehat kita baru berbuah di kemudian hari, sehingga nggak ada yang sia2..Allahualam bishawab..

Pertanyaan ketiga
Assalamualaikum teh Karin, perkenalkan nama saya Kania. Saat ini alhamdulillah tabarakallah saya sudah memiliki putra usia 7 bulan. Akhir tahun ini inshaAllah dibuka kelas tahsin Quran yang letaknya dekat (kurang lebih satu jam dari rumah tempat tinggal), saya ingin sekali bergabung namun suami berharap saya ikut kelas dan jauh setelah putra saya minimal 1 tahun. Disatu sisi saya ingin sekali bergabung dengan kelas tersebut mencoba mendaftar (belum tentu diterima). Namun disisi lain, saya paham bahwa apa yang disampaikan suami merupakan perintah yang harus saya taati. Tapi saya tau sekali ilmu saya sangat kurang.

Jawab:
Pertama, suami ditaati untuk hal yang pasti baik, dan tidak perlu ditaati untuk yang jelas kemungkarannya.
Dalam hal ini, sebetulnya suami setuju namun tidak sekarang. Sehingga langkah pertama mungkin perlu didiskusikan dulu, apa alasan dibalik penundaan itu. 😊 Barangkali, siapa tahu ada urusan teknis yang menjadi kendala, atau kekhawatiran semata.
2. coba dicari dulu solusi atas kendala tersbeut (jika ada), atau coba berstrategi untuk meyakjnkan suami agar tidak khawatir (jika khawatir yang menjadi masalahnya).
3. Dari hal tersbut cb istikharahkan dan musyawarah ulang terkait hasil terbaik.
4. Kalau sudah ada putusan, tawakkal saja.. kalau bisa tahsin langsung alhamdulillah, kalau harus ditunda, banyak cara lain..

Pertanyaan ke-empat
Bagaimana pendapat & saran teteh agar saya bisa belajar quran saat ini agar maksimal? Jujur saya belum tau caranya selain istiqamah baca quran.
Jawab:
Hak al Quran adalah dibaca, dihafalkan, dipelajari tadabburi, diamalkan, dan diajarkan. maka selain membaca, bisa infaqkan sedikit waktu dan uang utk membeli paket data, untuk mendengarkan tafsir Quran via youtube… infaqkan juga waktu dan tenaga untuk hadiri majelis2 Quran… karena belajar Quran memerlukan guru..dan belajar apapun, nasehat Imam Asy-Syafii, bagi para penuntut ilmu: miliki niat yang ikhlas, Infaq harta, kemauan yang keras, kesungguhan (waktu tenaga dst), adab kepada guru.

sambil belajar, sambil ajak2 juga suami utk ikut menikmati.. kalau ke kajian offline ajak pula suami.. dan berikan kesan dan sikap yang baik terkait aktivitas bersama Quran.. misal, dengan dekat dengan Quran, kita jadi merasa lebih stabil secara emosi, lebih tenang, gak suka marah, nggak suka boros, dsb… semoga suami makin semangat mendukung dan ikutan.. hehe.. Allahualam.. tetap semangat..

Pertanyaan ke-lima: Manajemen Gadget Keluarga
Berkaitan dengan gadget. Sekarang ini banyak sekali kelas belajar jarak jauh. Seperti mata uang dengan dua sisinya. Kami para ibu yang selalu butuh tempat berbagi, dan butuh mengupgrade keilmuan sangat terbantu dgn fasilitas ini.
Sekilas tampak mudah, kami tidak perlu keluar rumah meninggalkan anak2. Tapi pada prakteknya, kelas online juga (sering) menyita waktu kami. Kadang di depan anak2 kami tetap memegang gadget, yang dilarang bagi mereka.
bagaimana cara kita menggunakan gadget dengan bijak? Ingin ikut belajar online, tetapi anak belum tidur, bagaimana menggunakan gadget di depan anak? Ataukah sebaiknya memang hanya menggunakannya setelah anak tidur atau anak tidak ada, misalnya sedang sekolah atau bersama ayahnya? Kalau menurut pengalaman teh Karin, bagaimana?
Jawab:
Sebetulnya tolak ukur Gagdet adalah visi misi keluarga yang ingin dicapai oleh ortu dan kondisi anak.

Artinya.. Setiap keluarga bisa saja memiliki standar yang berbeda2… 😊
Ada keluarga yang mgkin tidak masalah dengan Gadget sekian wakti, atau sekian keadaan. Berhubung pertanyaan terkait pengalaman sendiri, hapunten izin curhat testimoni pribadi ya hehe.. πŸ™‚
Kalau Yusuf Maryam adalah tipe anak yang kalo dosis Gadgetnya agak kebanyakan, maka mereka jadi gampang emosian, gak fokus, dan BT hehe..
Jadi, kami memang sejak awal menikah sampai skrg gak pakai TV. Dan sehari2 anak2 memang gak ada sesi Gagdet (Youtube, games, dkk). Sesi media nya anak2 biasanya seminggu sekalk kalau berkunjjng ke tempat Utk Kakungnya, buat nonton acara2 Cebeebies. Itupun gak bertahan terlalu lama. udahannya mereka bosen sendiri.. hehe…
Lalu, gimana cara saya beraktivitas?
Dari pengalaman dan belajar dr rekan keluarga yg lebih senior,
di sinilah pentingnya mendiskusikan dengan suami:
1. Visi misi keluarga
2. Support System utk bisa mencapai itu, termasuk di dalam support sistem adalah ttg bagaimana kita akan beraktifitas. kalau memang salah satu misi nya adalah mengatur pemakaian Gadget, maka suami harus ikut menjadi bagian dari manajemen penggunaan Gadget.

Di rumah kami, kurang lebih ada beberapa peraturan tidak tertulis:
1. Kalau salah satu lg ada perlu serius dengan Gadget, maka silahkan cari space di luar wilayah main anak2, dan uang satunha lagi jagain anak2. Seperti sesi kulwap kemarin, atau sesi menulis tadi siang, saya izin menyepi dulu sama Pak Su πŸ˜…
2. Selama nggak urgent, kalau membersamai anak2, Gadget kami lepas saja… biarkan dia tergeletak di somewhere yang aman. Sesekali di tengok barangkali ada yang penting. atau dipakai untuk dokumentasi.. Dan tunggu sampai ada waktu yg telat utk balas.
Contoh:
Hari ini dr jam 6 pagi saya udah ada kajian wajib, πŸ˜ŠπŸ‘Œ kemudian sesi playground bareng anak2, kemudian siang td udah ‘nyesek’ perlu curhat jd nulis yang di atas td dulu hehe, sorenya ngurusin makan anak2, daaaaaaan setelah itu suami pergi mabit, jadi saya yang full ngurusin anak2 di rumah.. artinya, harus sabar nungguin mereka bobo.. *walopun saya ketiduran sebenernya sambil tadi ngeboboin hehe..
3. Kami ada aturan membudaya tak tertulis klo lg ngobrol dan makan gak ada yang pegang Gadget… baik anak maupin ortu
4. Terakhir, untuk setiap kegiatan selain apapun bentuknya,
sebelum saya approve atau merencanakan, saya tanya dulu sama suami, beliau bisa pegang anak2 tidak… kalau ternyata tidak bisa, saya harus ngukur, bisa kah saya pegang anak2 sendiri. dan seiring dengan anak terbiasa tanpa Gadget inshaAlllah mereka akan semakin bisa diajak beraktivitas bersama:
co: beres2 rumah, walopun jadinya lamaaaaaaaaa πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†… co lain: ikut ngaji kemana2, masak (yg ini saya masih belJar hehe), dsb.. Allahualam

Pertanyaan keenam: Media Belajar Online
Teh mengenai ilmu agama, sekarang banyak sekali berseliweran ilmu-ilmu agama di medsos, baik video maupun tulisan. Bagaimana kita menyaring informasi terkait agama? Saya ingin sekali meningkatkan kapasitas diri sebagai seorang ibu, istri juga Muslimah, tetapi maaf media islam yang dikenal seperti republika atau hidayatullah, seringkali menyediakan informasi yg hoax.
Mengingat momentum tahun baru ini, saya ingin belajar lagi dan menggiatkan diri menghadiri kajian Islam., Menurut teteh media online apakah yg bisa saya andalkan untuk belajar? Kemudian kajian Islam manakah yg baiknya saya ikuti di Bandung?
Apakah teteh sekeluarga memiliki kajian keluarga? Biasanya membicarakan apa saja? Khususnya terkait tahun 2018, adakah agenda keluarga teteh yang bisa dibagi untuk inspirasi disini?
Jawab:
Betul sekali, ada byk media belajar online beetebaran di mana2, dan nggak semuanya menurut saya benar.

Pertama, bagi saya di sanalah pentingnya minimal kita punya satu kajian rutin tiap pekan dengan seorang guru ngaji/murobbi/ustadzah yang akan membantu menyaringa segal rupa informasi tadi.
(hapunten saya jarang membuka situs2 yang mb maksudkan, jd belum bisa memberkkan komentar terkait situs tersebut. πŸ˜ŠπŸ™ )
Kedua, utk belajar online saya cenderung untuk cari yang pasti2 jelas saja.. misal, di youtube saya suka dengar kajian Ust. Abdil Shomad, Ust Salim A Fillah, Ust Adi Hidayat, dan Ust Zulkifli.. untuk luar negeri saya sering dengar dari bayyinahTv (seperti Nouman Ali Khan dkk) 😊 Teknisnya biasanya kami download dulu.. dan diputar sambil ngemong, dsb..

Pertanyaan ketujuh: Halaqah bersama anak
Alhamdulillah saya seorang istri, ibu dari 1 anak yg berusia 1 tahun. Semenjak melahirkan saya sudah tidak lagi mengikuti halaqah. Karena masih merasa takut,cemas&khawatir, mengikuti halaqah sambil bawa anak yg terbilang masih balita. Menurut pengalaman teteh. Bagaimana solusi atau saran agar kita bisa mengikuti halaqah atau kajian mingguan beserta membawa anak yg masih balita (implementasi suami tidak bisa ikut karena halaqah di adakan di jam kerja)?
Kemudian apakah teh karin mengisi kajian di bandung? Jika iya boleh tau tempat dan setiap hari apa kajiannya?
Jawab:
Masing-masing keluarga punya standar keamanan sendiri bagi anak, jd saya pribadi tidak menyalahkan siapapun yang kemudian memilih utk berhenti halaqah karena khawatir terhadap keamanan anak. Tapi karena nanyanya ttg pendapat saya, saya rasa “Allah tidak akan membebani kita dengan sesuatu yang tidak kita sanggupi… ” (lihat QS. Al Baqarah: 286)..

Maknanya, dengan adanya anak, anak tidak menjadi penghalang bagi kita melakukan kebaikan, justri menjadi ladang amal tambahan. Itulah mengapa, saya termasuk yg mengusahakan agar keberadaan anak tidak mengganggu ibadah shalat, tilawah, termasuk halaqah pekanan. πŸ˜ŠπŸ™
Alhamdulillah, saya menyaksikan ada tak terhitung jumlah para Ibu yang membawa anak2nya ke agenda2 kajian tanpa diantar jemput atau ditemani suaminya, alhamdulillah mereka baik2 saja.
Saya pribadi pengalaman paling cepat bawa anak2 keluar 2 minggu setelah melahirkan (dalam kondisi kata petugas kesehatan sudah pulih yaaaaa…. πŸ˜ŒπŸ‘Œ) kadang bawa susmi kadang tidak…
Halaqah bersama anak sudah menjadi hal biasa.. di Melbourne dulu sempat dapat kelompok kajian yang isinya 6, tapi anak2nya bisa lebih dari 10 πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† ruameeeeee….

Dan sebetulnya di indonesia ada banyak kemudahan, bisa naik angkot, naik transportasi online, naik transportasi kainnya, atau bahkan bawa sendiri… 😊 karena sekarang sejauh2nya tempat ngaji, alhamdulillah masih satu kota sendiri…

Pengalaman saya ketika diberi amanah mengisi pengajian pekanan di New Zealand, pengajiannya beda kota.. πŸ˜…jadi selama satu semester saya tiap pekan harus menempuh pernalanan 8 jam satu kali jalan naik bis buat ngisi pengajian, pulangnya kalau ada rezeki lebih naik pesawat bayar sendiri dan seringnya dibantu ditambahin sama temen2 nan baik hati.. kalau gak ada naik bis lagi.. hehe.. dan biasanya saya gak bisa nginep dan harus PP.. dan hal yang sama masih berlaku di beberapa tempat.. bahkan salah satu sahabat saya di Australia harus travel 2 jam bawa bayi.

2. alhamdulillah skrg sarana untuk bisa imut pengajian intensif pekanan ada banyak… 😊 nggak cocok jadwal bisa dikomunikasikan semoga ada jadwal lain hang lebih cocok…
kalau memang dirasa tidak bisa weekdays, bisa cari yang weekend.. 😊
tapi berarti harus pinter2 juga membagi waktu sama kunjjngan keluarga, undangan nikah, dsb..
harus bijak2 juga team up sama suami to make this happen.. πŸ˜…πŸ˜… karena kita kan satu tim hehe..

3. Ikut ngaji bersama anak insyaAllah banyak manfaat dan berkahnya. 😊
Saya termasuk yang meyakini bahwa mereka akan selalu belajar dari apa yang mereka lihat, rasa, dengar, dan alami. 😊 Saya sudah sering sekali dengar testimoni bagaiman anak2 yang suka ikut pengajian ibunya tahu2 bisa tahu hal ini dan itu yang baru disadark ortunya.
salah satu kisah yang sangat menyentuh, ada seorang anak balita perempuan yang lagi jalan sama Ibunya.. terus lihat boneka barbie.. dan dia tetiba nyomong kurang lebih begini “ummi.. kalau aku inginnya ngafalin Quran, biar bisa kasih mahkota ke ummi abi” 😊 maasyaaAllah kan.. padahal ibunya blm pernah cerita apapun ttg itu.. hehe.. mungkin dia dengar sendiri dari salah satu kajian..
kajian apapun yang diniatkan kkhlas karena Allah yang didalamnya mengingati Allah dan dibacakan ayat2 Allah, akan mengundang banyak malaikat turun mebgaruniakan sakinah dan Allah akan menurunkan rahmat.. bagi saya, inilah yang mahal.. yang bahkan ketika anak masih bayi pun, sangat mungkin mereka akan terkena cipratan rahmat, doa, dan barakah dari majelis Quran Dzikir tersebut. Allahualam bishawab.

Bagaimana cara agar bisa membawa anak?
Teknis seperti yang disampaikan di atas, kembali kepada masing2 kapasitas dan keadaan. Tapi setidaknya ada beberapa hal yang bida diikhtiarkan:
1. Siapkan keperluan keberangkatan dr malam sebelumnya. Setelah anak bobo, bekal, baju ganti, tas catatan (barangkali bisa nyatet hehe.. πŸ˜†πŸ˜†)..
2. Menjaga asupan fisik dan psikis senantiasa. Jangan sampai sedang kurang istirahat, kurang makan, apalagk kurang perhatian.
3. Bawa mainan secukupnya yang tidak menimbulkan peperangan di lapangan dengan akang tetehnya nanti πŸ˜†πŸ˜†.
saya cenderung nggak termasuk yang ngasjh Gadget ke anak sekalipun di pengajian, jadi biasanya anak2 lbh anteng kalau dikasih mainan.
4. Siapkan bekal makanan kesukaan utk menghindari kebiasaan jajan. πŸ˜…πŸ˜… Bagi saya, jangan sampai muncul stigma :
ngaji = jajan ; ngaji = gadget
5. Kalau gagal mempersiapkan poin 1-4, hehe…
gpp, istighfar, tetap tawakkal, bismillah.. perbanyak doa, semoga Allah mudahkan… semoga pekan depan bisa lebih baik lagi..
Pertanyaan ke-8, tengang Gadget juga
Masalah gadget teh. Kadang saya&suami memutarkan sebuah video YouTube agar anak bisa anteng,karena mengingat terkadang saya&suami harus melakukan aktifitas. Mohon solusi dan sarannya teh,mengingat kami tau gadget kurang baik untuk perkembangan anak”?
Jawab:
😊 alhamdulillah kalau sudah ada niatan baik mengurangi efek negatif Gadget.
Intinya sudah saya sampaikan di atas. sebagai tambahan, saya ingin share testimoni salah satu sahabat saya yang anaknya sempat didiagnosa autis ringan, namun ternyata sebenarnya hanya karena kebanyak gadget. Alhamdulillah setelah stop Gadget sama sekali anaknya ternyata bisa sembuh dan perkembangannya semakin pesat. Tulisan beliau ada di IG @yamimayumi
postingan 2 hari yang lalu… postingannya yang fotonya ini…πŸ‘‡ saya udah izin sama beliau utk share tulisannya… (cuman belum sempat2 aja hehe). Semoga pengalaman beliau bisa menjadi inspirasi bermanfaat dan berkah.

Pertanyaan ke 9
Btw teh, pgn tau dong manajemen waktu nya.. Saya selalu berkelit dengan membagi waktu utk tugas rumah tangga, targetan pribadi dan membersamai kegiatan anak yg pola tidurnya berubah2, kadang normal, kadang nocturnal.
Jawab:
Utk manajemen waktu sebenarnya seringkali banyak perubahan… tapi beberapa hal yang buat saya ngebantu adalah:
1. Tetap membuat satu schedule harian yang jadi default schedule (dr bangun tidur sampai malam). Terlepas nantinya terlaksana atau nggak, disesuaikan di lapangan. setidaknya jadwal itu ngingetin saya ttg pekara2 yang harus dilakukan dengan waktu yang ada.
2. Kegiatan2 sebisa mungkin dibagi sesuai dgn jam shalat.
Shalat adalah sesuatu banget. Dengan adanya anak2, tanpa art, dan suami di luar rmh, bagi saya cukup challenging utk memastikan agar shalatnya baik2 saja.. πŸ˜… jadiii… agenda harian dibuat sedemikian rupa supaya pada saat shalat urusan makan, ngantuk, minta temenin main dsb sudah settled. Alhamdulillah karena anak2 udh semakin bisa komunikasi, skrg udah bisa nego, dan udah relatif ngerti bahwa waktu shalat gak bisa diganggu gugat.
3. Utk kegiatan2 di luar jadwal rutin (dan ini hampir tiap hari ada), saya nanya dulu ke suami.. utk memastikan saya dapat supportnya jika dibutuhkan. Intinya on going communication for almost everything.
4. Berusaha utk nggak banyak mikir hal yg tidak terlalu penting atau tidak urgent.
nggak nyambung ya.. πŸ˜…πŸ˜… hehe.. buat saya banyak sekali h di sekitaran ketika yang bisa membuyarkan fokus kita dalam beeaktivitas utk hanya karena Allah, dan untuk anak2, dan untuk keluarga. lintasan2 seperti itu saya berusaha utk ditepis saja dengan segera…
salah satu tips supaya hati dilapangkan, Allah memberikan arahan untuk senantiasa bergerak.. faidza faraghta fanshab, wa ila Rabbika farghab… (lihat tafsir QS Al Insyirah). jika selesai dengan satu urusan, maka langsung bersegeralah lakukan urusan yang lain.
Waktu2 yang tidak produktif sangat mungkin membuka psluang masuknya lintasan2 yg tidak urgent tidak penting bahkan kurang baik. Kalau hati lapang, insyaAllah lebih ringan, lebih mudah bersyukur, nggak banyak mengeluh.. moga2.. Aaamiin..

Pertanyaan ke-10
kalau misal di keluarga sudah gadget literate; ayah kerja depan laptop, biasa makan sambil buka hp (baca koran), dan terbiasa bermain games, kaka terbiasa gadgetan (nonton video), adik juga main games (multi switching antara laptop & gadget). Bagaimana jika harus tumbuh di keluarga seperti ini teh? Melebur agar dapat menjadi bagian keluarga seutuhnya? Atau gimana ya teh?
Jawab:
Dari yang saya pahami, apapun urusan keluarga, baiknya dimulai dari penguatan internalisasi suami dan istri dulu.
Sebelum ngasi nasehat macem2 ke suami, mgkin beberapa hal dipastikan dulu.
1. Hubungan komunikasi lancar, terbuka, dua arah
2. Visi misi suami dan istri searah
3. Seirama dalam bergerak, memiliki kesepakatan tertentu dalam mencapainya
4. Hubungan sehat dan bisa melakukan evaluasi berkala terhadap berbagai progres kualitas rumah tangga.
5. Masing2 terbuka untuk saling memberikan evaluasi, masukan, komentar, curhat, minta nasehat, dst.
6. Segala putusan dan sesuatunya dikembalikan kepada apa yang terbaik menurut Islam.
Dari ke 6 poin tadi, urusan gadget dan urusan apapun insyaAllah bisa diuraikan.
Kalau sudah sevisi, semisi, tinggal di evaluasi apakah kejadian2 yg disebutkan di atas mendukung visi misi tersebut?
Kalau ternyata tidak, apa nih yang harus dilakukan?
Sebagai istri, dukungan penuh suami dan melibatkan suami dalam berbagai keputusan sangat penting. Naah kalau dr suami sudah settled dengan aturan2 rumah yang baru, barulah penguatan pada internalisasi dengan anak2.

Perlu internalisasi juga? iya.. hehe menurut saya..karena kepada siapapun, kaidah dakwahnya kalau mau memberi nasehat, dimulai dengan membangun hubungan yang baik, lalu membangun tsiqah (kepercayaan), baru menyampaikan nasehat dengan ahsan (bertahap, bahasa dan cara yang baik, berstrategi jika diperlukan, dst). Apalagk ketika akan menerapkan aturan, Allahua’lam bishawab.
Sedikit tambahan tips utk keluar dr kondisi Gadget Literate selain dr yg di atas, dalam tataran teknis, banyak sekali keluarga yang kemudian bisa berubah dengan mengganti gadget dengan aktivitas kebersamaan. Dimulai dari aktivitas rihlah outdoor (jalan2) yang punya daya tarik lebih asik dr gadget, sebelumnya sudah agreement dulu selama liburan makan dsb no gadget.

Di rumah, jika mampu beli alat bantu pengajaran yang bisa dikerjkan bersama2..
Semoga lambat laun kreatifitas dan daya konsentrasi anak2 d dunia nyata akan meningkat.. mahal mungkin ketika harus byk ke luar dan beli ini itu.. jkka mampu Investasi dulu saja.. anggap infaq untuk tarbiyah (pendidikan keluarga)…. dan skrg byk alternatif ruang publik yang gratisan.. bisa manfaatkan itu.. d rmh pun byk barang dapur, barang sisa, kotak2, barang tak terpakai yg mgkin bisa dijadikan kegiatan kreasi di rmh..
Allahualam..

Kalimat Penutup: Istiqamah
Menjadi seorang istri dan Ibu bukanlah perlombaan… tidak ada satu garis finish yang harus kita kejar kecuali kematian. Maksudnya, masing2 dari kita memiliki garis waktu dan perjalanan sendirj, memiliki pace (kecepatan tempuh) sendiri2.
Goalnya satu: Istiqamah di jalan Allah..
Untuk istiqamah, diperlukan kebijaksanaan dalam beramal…tidak menggampangkan, tapi juga tidak memberat-beratkan.
Setiap momen perubahan (co tahun baru) memang sering meningkatkan adrenaljn utk ingin segera bisa berubah menjadi begini dan begitu.
Rileks saja.. tapi disiplin.. rapihkan satu per satu resolusi kita.. mulai dari yang paling mudah, paling kita sukai… Tidak ada amalan yang terlalu sedikit utk dilakukan..
Lebih baik beramal sedikit tapi konsisten.. Jika sudah nyaman, bari tingkatkan lagi, keluar dark comfort zone utk membangun comfort zone yang baru..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s