Hadiah vs Suap dalam Mendidik Anak

Dalam mendidik dan membesarkan anak, sebagai orang tua kita perlu mengenal bahwa terdapat perbedaan dalam memberikan sesuatu kepada anak. Apakah pemberian itu sebagai hadiah atau suap, orang tua perlu memperhatikan hal tersebut agar tidak terjadi kekeliruan. Pentingnya membedakan hadiah dan suap adalah karena keduanya memberikan kesan yg berbeda pada anak. Oleh karena itu, mari kita pelajari apa saja perbedaan antara pemberian hadiah dan suap kepada anak 😉

Apakah Ibu familiar dengan pernyataan di bawah ini?

“Dek, ibu bilang tidak boleh lempar barang. Kalau tidak lempar barang nanti ibu belikan mainan baru.”
“Dek, berhenti membuang makanan, nanti ibu belikan puding karamel.”
“Dek, tidak teriak-teriak, nanti ibu kasih es krim.”

Itulah yang biasa disebut dengan bribe atau menyuap anak. Saat anak berulah, orang tua segera menyuapnya agar anak kembali menurut. Sekilas hal ini terlihat berhasil dan praktis, ternyata hal ini berbahaya.

Ketika anak telah membaca pola ‘suap’ orang tua, ia akan mengontrol orang tua. Ia tahu kapan ia harus berulah sehingga orang tua akan menawarkan hadiah. Tanpa kita sadari, perilaku suap ini menjadi lingkaran setan. Anak berulah orang tua memberi hadiah, berulah lagi hadiah lagi, dan seterusnya. Pertanyaan muncul…

Apakah kita tidak boleh memberikan hadiah pada anak?

Sampai detik ini, perdebatan antara pentingnya dan bahayanya memberikan hadiah pada anak masih terjadi di kalangan ilmuwan. Namun, kali ini kita akan fokus pada cara yang tepat memberikan hadiah.

Semua anak, semua orang, tentu senang jika mendapat hadiah. Tidak hanya saat ulang tahun, hadiah adalah salah satu sarana untuk menunjukan cinta pada anak. Tentu tidak selamanya hadiah itu baik, berikut perbedaan suap dan hadiah:

1. Hadiah diberikan karena anak melakukan hal positif, sedangkan suap diberikan agar anak berhenti melakukan hal negatif.
Apapun hadiahnya, baik itu berharga murah atau mahal, tetaplah hadiah yang diberikan saat anak berbuat baik. Biasanya, hadiah ini dapat diberikan dengan perjanjian sebelumnya, misalnya jika anak selalu membereskan mainannya. Perbedaannya dengan suap adalah jika anak tidak mau membereskan mainannya, maka orang tua menyuap dengan berkata: “Jika kamu membereskan mainan sekarang, maka kamu akan diberikan mainan baru”.

2. Hadiah bisa menjadi kejutan, suap bukan kejutan.
Pulang sekolah kita boleh secara spontan mengajak anak ke toko dan membelikannya layangan, itu salah satu contoh hadiah. Namun, jika dalam perjalanan pulang anak mengamuk, kemudian kita pergi ke toko dan membelikan hadiah agar anak diam, maka itu adalah suap.

3. Bagaimana perasaan orang tua saat menawarkan atau memberikan hadiah? Jika merasa putus asa, stres, pusing itu adalah suap.

4. Hadiah membuat anak bangga, suap membuat anak berkuasa.
Hadiah bukanlah negosiasi. Orang tua dapat menentukan, “Jika rumah rapi, mainan rapi, ayah akan membelikan sepeda.”
Hal tersebut berbeda dengan, “Kakak akan membereskan rumah, tetapi nanti ayah belikan sepeda ya?”, maka itu adalah suap. Anak jadi berkuasa untuk menentukan kapan ia akan mendapat hadiah.

5. Hadiah adalah ‘alat’ untuk mendidik, sedangkan suap bukan untuk mendidik.
Suap menyuap sulit untuk dihentikan. Saat anak sudah mengerti hal tersebut, maka akan menjadi lingkaran setan yang sulit diputuskan. Sebaliknya, hadiah yang diberikan dengan tepat dapat menjadi sarana meningkatkan perilaku positif.

Sebagai orang tua, seringkali tanpa sadar kita melakukan suap di rumah atau di tempat umum, seperti “Mau cokelat ya? Berhenti dulu nangisnya ya, ibu mau cuci baju dulu.” atau “Udah ya ga teriak-teriak, ibu belikan mobil yang besar.”

Sesungguhnya, kita dapat menjelaskan pada anak, seperti “Adek ibu mau mencuci dulu. Adek makan dulu ya. Nanti kalau sudah habis makannya kita beli cokelat.” Tidak dengan menunggu anak menangis, menjerit, lalu menyuapnya dengan cokelat agar diam.

Lalu, bagaimana agar pemberian hadiah efektif?

1. Biarkan anak memiliki peran dalam memilih reward.
Saat anak sudah dapat merapikan mainan dan mengorganisasikannya, anak dapat memilih sendiri hadiahnya. Misalnya, rak baru untuk mobil-mobilan, mainan baru, atau jalan-jalan naik gokart.

2. Jika anak sudah mengerti uang, kita dapat memberi hadiah uang sambil belajar mengatur keuangan.
Mencuci piring mendapat Rp5.000,00, memotong rumput Rp3.000,00. Jika anak ingin membeli sesuatu seharga Rp15.000,00, maka ia dapat membelinya setelah mencuci piring 3 kali. Saat anak mendapatkan uangnya, sebagai orang tua, kita juga bisa mengajari anak untuk hemat dan memberi. Misalnya, 10% untuk ditabung atau 5% untuk disumbangkan.

3. Hadiah tidak selalu berbentuk materi, bisa juga berbentuk hal yang diinginkan anak.
Balita pada umumnya menyukai air. Oleh karena itu, kita dapat memberinya hadiah dengan memperpanjang waktu mandi atau mengajaknya berenang.

4. Diberikan spontan, mendadak, berupa kejutan.
Hadiah yang tak terduga adalah hadiah tak ternilai dan tak terbatas. Semua orang menyukai kejutan manis, begitu pula dengan anak. Kejutan juga efektif karena dapat terjadi kapanpun, di manapun dan selalu menyenangkan.

5. Hadiah sesuai dengan kesepakatan.
Jika sudah dibuat kesepakatan, maka orang tua harus memenuhinya.

6. Hadiah sebaiknya diberikan sejalan dengan perilaku anak.
Jika kita meminta anak untuk membaca buku, maka pilihlah hadiah buku saat anak telah tamat membaca buku.

7. Hadiah sebaiknya diperoleh setelah proses, kriteria, dan evaluasi tertentu.
Jika anak sudah mencuci baju dengan bersih, jemuran sudah kering dilipat dengan rapi, anak boleh menonton selama 1 jam. Tugas dan hadiah dibuat secara jelas. Jangan sampai anak melakukan tugas dengan asal hanya untuk mendapatkan hadiah.

8. Arahkan anak untuk mendapatkan motivasi internal dibandingkan hadiah. (Motivasi internal yaitu keinginan/dorongan dari dalam diri untuk melakukan sesuatu)
Dalam memberi hadiah terkait tugas tertentu, kita perlu menjelaskan pentingnya tugas tersebut bagi anak. Dengan begitu, anak tidak hanya mencari hadiahnya tetapi juga sadar akan manfaat pelaksanaan tugas tsb. Tugas membersihkan halaman mungkin tampak tak berguna bagi anak. Namun, halaman yang rapi kelak dapat digunakan anak untuk bermain mobil, membuat jalan untuk mobil, menaruh kandang hewan, dan sebagainya.

Demikianlah pemaparan singkat mengenai perbedaan hadiah dan suap. Hanya hadiah yang diberikan dengan tepat dapat meningkatkan perilaku positif anak. Salah satu media sederhana yang dapat kita buat terkait pemberian hadiah adalah Papan Hadiah. Tuliskan perilaku yang diharapkan, kolom hadiah dapat diisi dengan stiker bintang atau simbol lainnya. Jumlah simbol dapat ditukar dengan hadiah nyata.

Bagaimana? Apabila ada pertanyaan seputar Hadiah vs Suap ini, mari kita diskusikan di kolom komentar 🙂

Semoga bermanfaat! ⭐

Referensi:
http://alphamom.com/parenting/young-child/how-to-tell-the-difference-between-a-reward-and-a-bribe
http://www.wsj.com/articles/the-right-way-to-bribe-your-children-1411333008
Journal Punished by Rewards: The Trouble with Gold Stars, Incentive Plans, A’s Praise and other bribes. Alfie Kohn, Houghton Mifflin Company 1993.
Virginia, Alexandria. Successful Parenting, Teaching Good Behaviour.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s